Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (01 – 大江东去)

by admin on September 1, 2010



Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, saya akan mulai menulis tentang serial Yi Zhongtian Pin San Guo(Yi Zhongtian Mengapresiasi San Guo). Serial ini bisa ditonton di Youtube.

Episode pertama adalah prolog untuk serial ini. Profesor Yi memulai dengan menjelaskan ciri khas dari masa San Guo(Tiga Negara/Sam Kok), yaitu munculnya banyak tokoh pahlawan. Memang di dalam sejarah, kita menemukan sering kali suatu periode yang kacau balau atau penuh peperangan justru memunculkan banyak orang hebat, seperti misalnya di masa Musim Semi dan Musim Gugur(Chun Qiu) atau masa Warring States(Zhan Guo) dalam sejarah Tiongkok. Terpecah-belahnya negara mengakibatkan banyak orang dengan kemampuannya masing-masing berusaha memulihkan negara menjadi satu kembali. Periode Tiga Negara pun demikian.

Prof. Yi kemudian memberikan penjelasan tentang interpretasi orang terhadap sejarah, yang pada dasarnya terdiri dari tiga citra, yakni: citra sejarah, citra sastra dan citra rakyat. Citra sejarah adalah sejarah berdasarkan catatan sejarah. Namun meskipun citra ini berdasarkan catatan sejarah, ada kalanya di antara catatan sejarah yang ada terdapat pula perbedaan satu sama lain. Jadi citra sejarah pun sebenarnya belum tentu pasti benar. Khusus untuk citra sejarah mengenai Tiga Negara, prof. Yi terutama mengambil dari catatan San Guo Zhi(Records of Three Kingdoms) yang ditulis oleh Chen Shou pada dinasti Jin. Chen Shou di dalam mengumpulkan data-data sejarah untuk dijadikan buku amatlah ketat, untuk data-data yang kurang jelas tidak akan dimasukkan ke dalam catatan yang ia tulis. Maka San Guo Zhi menjadi sebuah buku yang sangat ringkas. Kemudian seorang yang bernama Pei Songzhi dari dinasti Song menambahkan catatan kaki(footnote) ke dalam San Guo Zhi. Footnote yang ditulis oleh Pei Songzhi ini tidak seperti footnote lazimnya, tetapi lebih merupakan tambahan data, sehingga membuat San Guo Zhi menjadi jauh lebih kaya. Maka San Guo Zhi yang ditulis oleh Chen Shou dan ditambah oleh Pei Songzhi merupakan landasan bagi citra sejarah Tiga Negara.

Ketidakserupaan di dalam catatan sejarah mengakibatkan timbulnya dua citra berikutnya, yakni citra sastra dan citra rakyat. Citra sastra merupakan tulisan berdasarkan citra sejarah yang telah ditambah dengan bumbu-bumbu oleh penulisnya. Citra sastra ditemukan terutama dalam Romance of the Three Kingdoms(San Guo Yanyi). Sedangkan citra rakyat adalah kisah sejarah yang beredar dari mulut ke mulut di kalangan rakyat. Prof. Yi juga menyinggung mengenai citra tokoh sejarah di dalam pribadi masing-masing orang. Berdasarkan citra-citra yang ada, seseorang juga memiliki citra sendiri di dalam dirinya mengenai seorang tokoh sejarah, yang kadang sulit berubah. Misalkan seseorang menonton film tentang Tiga Negara, lalu mengkritik pemeran Cao Cao tidak mirip, padahal dia tidak pernah bertemu dengan Cao Cao asli, bagaimana bisa mengatakan tidak mirip? Itu karena citra yang telah terbentuk dalam benaknya.

Prof. Yi mencontohkan dua tokoh, yaitu Zhou Yu dan Zhuge Liang. Zhou Yu termasuk salah satu tokoh yang citra sejarah dan citra sastranya berbeda. Zhou Yu justru lebih banyak dikenal melalui citra sastra dan citra rakyatnya. Di dalam citra itu Zhou Yu digambarkan sebagai sosok yang kurang baik(antagonis), di antaranya melalui bagaimana ia iri hati kepada Zhuge Liang. Padahal citra sejarah Zhou Yu tidaklah demikian. Zhou Yu sebenarnya adalah seorang yang jujur dan adil, berintegritas tinggi, dan tentunya berkemampuan sangat mumpuni. Ia mempunyai istri salah satu dari kakak beradik Qiao, yang pada waktu itu terkenal sebagai wanita yang sangat cantik. Zhou Yu sendiri adalah seorang yang tampan(ditandai dengan sebutan Zhou Lang). Dengan kondisi seperti ini, agaklah aneh jika ia harus iri kepada Zhuge Liang.

Zhuge Liang juga memiliki citra sejarah dan citra sastra yang berbeda. Di dalam Romance of the Three Kingdoms, Zhuge Liang begitu saktinya sehingga bagaikan bukan manusia. Salah satu contoh adalah siasat mengosongkan kota(kong cheng ji), yang memang di dalam novel menjadi sebuah kisah yang sangat menarik. Pei Songzhi di dalam catatan kakinya menuliskan bahwa siasat Zhuge Liang ini merupakan fiksi belaka, karena waktu itu Sima Yi sedang berada di tempat lain sehingga kisah itu tidak mungkin terjadi. Sima Yi yang memutuskan menarik mundur pasukannya pun secara akal sehat agak aneh, sebab ia bisa saja mengirimkan mata-mata terlebih dahulu untuk mengamati kondisi di dalam benteng. Juga dengan jumlah pasukan besar yang ia bawa, ia sebenarnya bisa mengepung benteng itu selama beberapa hari, untuk mengetahui kondisi lawan. Prof. Yi menambahkan, Zhuge Liang sebenarnya adalah seseorang yang memiliki kemampuan politik tinggi, melebihi kemampuan strategi perangnya. Kemampuan politik dan pemerintahan Zhuge Liang tercermin dalam 3 hal, yaitu: berhasil membantu Liu Bei menetapkan dan mendirikan daerah kekuasaan, membentuk aliansi antara negara Shu dan Wu, serta memerintah negara Shu dengan sangat baik setelah Liu Bei wafat. Namun citra sastra Zhuge Liang justru menggambarkan Zhuge Liang sebagai seorang ahli strategi yang sangat sakti, sampai-sampai para jenderal seperti Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Huang Zhong, Ma Chao digambarkan seperti orang yang tidak tahu apa-apa, tinggal mengikuti perintah Zhuge Liang yang ditulis di dalam catatan dalam kantong, menjadikan peperangan bagaikan mainan anak kecil belaka.

Sebagai penutup prolog ini, prof. Yi mengatakan bahwa berlandaskan tiga citra tadi, maka ia akan membedah Tiga Negara, dan akan diawali dengan pembahasan salah satu tokoh yang paling kontroversial, yaitu Cao Cao.



{ 2 comments… read them below or add one }

Leave a Comment

Previous post:

Next post:

rls][sample-5.jpg]=