Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (16 – 三顾茅庐/Tiga Kali Mengunjungi Pondok Jerami)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (16 – 三顾茅庐/Tiga Kali Mengunjungi Pondok Jerami)

Menyambung pembahasan di episode sebelumnya, prof. Yi mengajak kita menjawab satu pertanyaan, Liu Bei kah yang mencari Zhuge Liang, ataukah Zhuge Liang yang berinisiatif mencari Liu Bei? Menariknya, catatan sejarah memberikan jawaban yang berbeda-beda. Menurut San Guo Zhi (Records of the Three Kingdoms), Liu Bei yang mencari Zhuge Liang. Namun buku Wei Lue dan Jiu Zhou Chunqiu mencatat, Zhuge Liang lah yang mencari Liu Bei. San Guo Zhi memiliki referensi sebagai dasar, yakni buku Chu Shi Biao tulisan Zhuge Liang sendiri, yang di sana tercatat dengan jelas bahwa Liu Bei lah yang tiga kali mencari Zhuge Liang. Namun kita tetap merasa aneh, karena buku-buku tersebut sama-sama adalah catatan sejarah, namun di dalamnya terdapat catatan yang sama sekali bertolakbelakang (versi San Guo Zhi dibandingkan versi Wei Lue dan Jiu Zhou Chunqiu).

Beberapa sejarawan lebih setuju bahwa Zhuge Liang yang menawarkan diri kepada Liu Bei. Salah satunya Liu Xiao. Alasannya adalah karena Zhuge Liang lebih memerlukan Liu Bei daripada Liu Bei memerlukan Zhuge Liang. Ia mengemukakan tiga hal: pertama, Zhuge Liang harus turun gunung. Di episode terdahulu pun kita telah membahas bahwa Zhuge Liang perlu mewujudkan cita-citanya, dan Liu Bei lah orang yang paling tepat sebagai majikan. Lebih-lebih Zhuge Liang sendiri menganggap dirinya setara dengan Guan Zhong dan Yue Yi, sehingga tidaklah mungkin ia hanya menunggu dengan pasif, melewati hari-hari dengan bertani di desanya. Kedua, yang diperlukan Liu Bei adalah sekelompok orang, bukan satu orang saja. Dan yang diperlukan Zhuge Liang bukanlah sekelompok majikan, namun satu majikan saja. Dari sini kita dapat menilai, yang mana yang lebih mendesak? Memerlukan sekelompok orang, ataukah memerlukan satu orang? Tentu memerlukan satu orang. Ketiga, Zhuge Liang lebih dulu menemukan Liu Bei daripada Liu Bei menemukan Zhuge Liang. Ini juga masuk akal, karena Liu Bei memang lebih terkenal dari Zhuge Liang. Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, menjadi logis apabila Zhuge Liang yang berinisiatif mencari Liu Bei. Ditambah lagi, kondisi saat itu sedang darurat, yaitu Cao Cao sudah di ambang menyerang Jingzhou.

Lalu bagaimana? Apakah San Guo Zhi dan Chu Shi Biao salah? Kita bisa saja menyangkal San Guo Zhi, namun dapatkah kita menyangkal Chu Shi Biao, yang adalah tulisan Zhuge Liang sendiri? Bahkan Chu Shi Biao jelas-jelas mengatakan, karena Liu Bei tiga kali mengunjungi pondoknya, berdiskusi masalah politik saat itu, sehingga ia merasa terharu dan berterima kasih, lalu pergi ikut Liu Bei. Maka kita jelas tidak dapat menyangkal Chu Shi Biao.

Prof. Yi memberikan satu dugaan (hanya dugaan pribadi, tidak ada bukti kuat), bahwa kedua teori di atas adalah benar. Zhuge Liang pernah mencari dan bertemu Liu Bei, namun Liu Bei saat itu tidak mengindahkannya (seperti yang tercatat di buku Wei Lue dan Jiu Zhou Chunqiu). Selang beberapa waktu, Liu Bei baru sadar bahwa ia membutuhkan orang seperti Zhuge Liang, sehingga pergi mencarinya dan terjadilah kisah tiga kali mengunjungi pondok jerami, seperti yang tercatat dalam San Guo Zhi dan Chu Shi Biao. Namun sekali lagi, ini hanya dugaan belaka.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang perlu digarisbawahi. Liu Bei setelah meninggalkan Yuan Shao, lalu bergabung dengan Liu Biao, ia tinggal di Jingzhou. Liu Bei tinggal di Jingzhou selama enam tahun. Terasa aneh apabila dalam rentang waktu selama itu ia tak pernah bertemu dengan Zhuge Liang. Ada beberapa sejarawan yang berpendapat, Liu Bei tiga kali mencari Zhuge Liang, mungkin setahun satu kali, dengan demikian dalam waktu enam tahun yang begitu panjang, ia tiga kali mencari Zhuge Liang, dengan selang waktu masing-masing satu tahun, atau bahkan dua tahun. Namun teori ini kelihatan tidak masuk akal, selang waktu satu tahun hanya untuk pergi satu kali mencari Zhuge Liang, terasa terlalu lama, apalagi harus menunggu dua tahun untuk pergi satu kali. Selain itu, Zhuge Liang juga bukanlah orang yang benar-benar menyepi tanpa diketahui rimbanya. Dan kita juga tahu bahwa Zhuge Liang masih merupakan famili dari Liu Biao. Ia juga dikenal di kalangan orang-orang penting di Jingzhou. Jadi ia seharusnya tidak sulit ditemui. Beberapa sejarawan mencoba menjawab masalah ini. Di antaranya Yi Yungong, yang mengemukakan dua alasan. Pertama, Zhuge Liang saat itu belum cukup terkenal. Kepintarannya belum cukup diakui. Sehingga mungkin Liu Bei merasa ragu untuk mencari Zhuge Liang, dan waktu pun berlalu. Kedua, Zhuge Liang memiliki hambatan psikologis. Ia memiliki cita-cita yang sangat besar, ia ingin menjadi orang nomor dua di kubu Liu Bei, setelah Liu Bei sendiri. Sedangkan hubungan Liu Bei dan Guan Yu, Zhang Fei sudah demikian erat, sehingga sulit bagi Zhuge Liang untuk masuk. Maka Zhuge Liang sendiri pun memiliki kebimbangan. Dua alasan ini cukup logis. Dan prof. Yi menambahkan lagi satu hal kunci lagi, yaitu usia. Zhuge Liang ketika turun gunung berusia 26 tahun. Liu Bei ketika tiga kali mencari Zhuge Liang, berusia 46 tahun. Bayangkan, seorang berusia 40 tahun, yang sudah kenyang makan asam garam pengalaman perang, hendak mengangkat seorang muda belia usia 20 tahun yang sama sekali belum punya pengalaman riil di kancah politik sebagai perdana menterinya, nyaris adalah hal yang tak mungkin. Maka, dalam rentang waktu enam tahun di Jingzhou, Liu Bei tiga kali mencari Zhuge Liang, menjadi masuk akal, mengingat masalah usia ini. Dengan demikian, kemungkinan Liu Bei mencari Zhuge Liang, bisa kita terima.

Lalu, Liu Bei tiga kali mencari Zhuge Liang, apakah tiga kali bertemu satu kali, ataukah tiga kali bertemu tiga kali? San Guo Zhi mengatakan, pergi tiga kali, baru bertemu (satu kali). Namun Chu Shi Biao dan beberapa catatan lainnya tidak mengatakan demikian. Sehingga ada kemungkinan Liu Bei tiga kali mencari Zhuge Liang, dan tiga kali pula bertemu Zhuge Liang. Bahkan juga ada kemungkinan lebih dari tiga kali. Sebab di dalam buku-buku kuno, angka “tiga” dapat berarti “banyak”. Melalui beberapa kali bertemu, beberapa kali membahas bersama masalah politik, semakin kuatlah penilaian mereka satu sama lain, sehingga mereka sama-sama merasa, inilah orang yang saya cari. Secara logis mungkin seperti itu.

Dengan demikian, San Guo Yanyi (Romance of the Three Kingdoms) benar-benar terasa sebagai roman belaka. Namun tak dapat kita pungkiri, kisah tiga kali mencari Zhuge Liang di dalam buku tersebut ditulis dengan sangat apiknya. San Guo Yanyi mengisahkan, pertama kali Liu Bei mencari Zhuge Liang, ia bertemu dengan sekelompok petani yang sedang bekerja sambil bernyanyi. Ia bertanya, siapa yang menciptakan lagu ini? Para petani menjawab, tuan Kongming (Zhuge Liang). Ia bertanya lagi, di manakah tuan Kongming tinggal? Mereka menunjuk, di belakang gunung itu. Liu Bei melihat gunung tersebut, dan merasa takjub, karena penampilan gunung yang tidak biasa. Sampai di rumah Zhuge Liang, Liu Bei bertemu seorang bocah, yang mengatakan bahwa Zhuge Liang tadi pagi sudah berangkat. Berangkat kemana, tidak tahu. Kapan kembali, tidak tahu. Liu Bei pun melihat-lihat keadaan sekitar, bertemu dengan sahabat Zhuge Liang, Cui Zhouping, yang dikira Liu Bei adalah Zhuge Liang. Terharulah Liu Bei, karena sahabat Zhuge Liang sudah sedemikian luar biasanya. Kunjungan kali kedua, Liu Bei bertemu dengan dua sahabat Zhuge Liang, Shi Tao dan Meng Jian. Di rumah Zhuge Liang, bertemu dengan adiknya, serta mertuanya. Semua orang ini digambarkan bukan orang biasa, sehingga membuat Liu Bei sangat kagum dan hormat. Ia pun berkesimpulan, sudah pasti Zhuge Liang merupakan orang yang top markotop! Maka ketiga kali Liu Bei pergi mencari Zhuge Liang, ia khusus berpenampilan lebih rapi dan resmi. Sesampainya di desa Wolong, ia turun dari kuda dan berjalan kaki. Tiba di rumah Zhuge Liang, Zhuge Liang sedang tidur. Liu Bei bersikeras agar jangan membangunkan Zhuge Liang. Pada taraf ini, prof. Yi mengibaratkan Liu Bei sudah bukan lagi seorang pemimpin yang sedang mencari pegawai, melainkan bagai seorang pria melamar gadis pujaannya. Dan memang standar moral pada zaman itu adalah, relasi antara raja dan menteri bagaikan relasi suami dan istri. Menteri apabila menemukan raja/majikan yang tepat, ia akan setia sampai akhir. Dan kita tahu Zhuge Liang memiliki standar moral yang tinggi, sehingga ia harus memilih majikan yang paling tepat. Dalam hal ini, kita bisa mengapresiasi San Guo Yanyi sebagai karya sastra yang sangat bermutu. Namun sayangnya, kisah ini bukanlah kenyataan yang terjadi.

Meskipun bukan kenyataan, namun apa yang diceritakan di San Guo Yanyi tetap bermakna. Prof. Yi membahasakan kisah ini dalam konteks manajemen modern. Yaitu, Liu Bei bisa diibaratkan sebagai bos dari perusahaan investasi. Ia memutuskan untuk berinvestasi. Zhuge Liang bagai seorang profesional yang siap untuk melamar pekerjaan. Kedua pihak ini memerlukan proses saling mengenal, sehingga semua hal yang ditulis di sana (petani, teman dan bocah di rumah Zhuge Liang) ibaratnya adalah tipuan untuk ‘menjual’ Zhuge Liang. Tentu saja, ini hanyalah tafsiran prof. Yi secara asal saja. Namun bila kita gali lebih dalam, mengapa Luo Guanzhong menulis kisah tiga kali mencari Zhuge Liang sedemikian rupa, menurut prof. Yi ada dua alasan. Pertama, sebuah novel sudah sepatutnya menjalin kisah yang menarik bagi pembacanya. Kedua, kisah ini berhubungan dengan kehidupan Luo Guanzhong sendiri. Menurut catatan sejarah, Luo Guanzhong juga adalah orang yang bercita-cita membantu orang lain mendirikan dinasti. Sehingga dalam membentuk citra Zhuge Liang dalam novelnya, ia juga merefleksikan citra dirinya sendiri.

Zhuge Liang di kalangan akademisi dan cendekiawan menyandang status yang spesial. Ia selalu dianggap sebagai teladan bagi para cendekia. Ini tentu suatu hal yang menarik, sebab di sepanjang sejarah Tiongkok, tidak kurang-kurang orang yang bisa menjadi teladan, misalnya Wen Tianxiang, Yue Fei, dan sebagainya. Namun mengapa posisi Zhuge Liang begitu tinggi? Salah satu alasannya, sungguh karena “tiga kali mengunjungi pondok jerami”. Tidak pernah ada dalam sejarah, seorang petinggi atau raja yang sampai tiga empat kali datang mencari bawahan untuk direkrutnya. Zhuge Liang lah satu-satunya. Karakteristik kaum terpelajar di Tiongkok sangatlah kontras. Di satu sisi, mereka memiliki pengetahuan luas, kemampuan yang tinggi, dan ingin mewujudkannya dengan memberikan sumbangsih nyata. Untuk itu mereka memerlukan majikan yang tepat, karena mereka sendiri tidak mampu menjadi majikan. Di sisi lain, mereka juga lemah dalam hal mental, karena takut ditolak apabila mereka menawarkan diri. Sungguh hal yang amat ideal apabila sang pemimpin sendiri yang datang mencari mereka. Dan contoh ini satu-satunya ada dalam diri Zhuge Liang. Luo Guanzhong sendiri adalah orang seperti itu, sehingga tidak heran bila ia memberikan warna yang sangat menawan bagi kisah ini. Ini semua adalah analisis dari prof. Yi.

Apakah Zhuge Liang yang mencari Liu Bei, atau Liu Bei mencari Zhuge Liang, mencari tiga kali berbincang tiga kali ataukah mencari tiga kali berbincang satu kali, ini semua tidaklah terlalu penting. Yang lebih penting adalah, apa yang mereka perbincangkan? Jika mereka memang berbincang lebih dari satu kali, maka kita hanya akan bisa mendapatkan kesimpulan dari pembicaraan mereka, yakni yang dikenal sebagai Longzhong Dui (Rencana Longzhong). Rencana Longzhong harus diakui adalah sebuah strategi yang mencerminkan kepiawaian politik Zhuge Liang. Namun jarang orang tahu, tujuh tahun yang lalu, masih ada satu orang lagi yang mengemukakan strategi serupa kepada Sun Quan. Siapakah dia? Kita akan bahas di episode berikutnya.

There is 1 comment for this article
  1. Pingback: Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (36 – 永安托孤/Menitipkan Putra di Yong'an) | Belajar Seputar Budaya Tionghoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *