Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (19 – 必争之地/Tanah yang Diperebutkan)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (19 – 必争之地/Tanah yang Diperebutkan)

Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Jingzhou adalah wilayah yang dianggap krusial dan wajib dikuasai. Lu Su, Zhuge Liang, maupun Cao Cao sendiri memiliki anggapan seperti itu. Prof. Yi akan membahas mengapa mereka sampai harus berebut tanah Jingzhou.

Zhuge Liang di dalam Rencana Longzhong yang digagasnya, berkata dengan jelas, penguasa Jingzhou saat itu, Liu Biao, tak mampu mempertahankannya. Mengapa demikian? Kita perlu mengetahui lebih dulu siapakah Liu Biao. Dalam buku Hou Han Shu (Book of the Later Han), biografi Liu Biao dan Yuan Shao digabungkan menjadi satu. Buku-buku sejarah zaman kuno mencatat sejarah melalui biografi tokoh-tokoh penting. Dan seringkali tokoh-tokoh yang dianggap mirip akan ditulis dalam satu bagian. Maka Liu Biao dan Yuan Shao seharusnya memiliki kemiripan. Menurut Prof. Yi, mereka berdua adalah “idiot yang rupawan”. Di mana letak rupawannya Liu Biao? Liu Biao benar-benar adalah keturunan raja. Benar-benar. Tidak seperti Liu Bei yang agak meragukan. Liu Biao dicatat berperawakan tinggi gagah (lebih tinggi dari Zhuge Liang, kira-kira 1,86-1,88 meter). Ia juga masuk dalam jajaran delapan orang yang dianggap paling berpekerti. Ini klop dengan pandangan tradisional pada zaman itu, yang mengaitkan paras dan pekerti sebagai penentu keberhasilan seseorang.

Sebenarnya Liu Biao punya kemampuan. Saat Liu Biao diangkat menjadi gubernur Jingzhou, kondisi Jingzhou sangat kacau. Waktu itu Liu Biao mengambil kebijakan yang tepat, yakni menggunakan kaum elit untuk meredakan kekacauan. Dua orang di antaranya adalah Kuai Yue dan Cai Mao. Kuai Yue adalah orang yang sangat bertalenta. Bahkan Cao Cao sangat mengaguminya. Ketika Cao Cao berhasil menduduki Jingzhou, ia gembira bukan karena mendapat Jingzhou, melainkan karena mendapatkan Kuai Yue. Cai Mao juga berasal dari kalangan elit yang kaya raya di Jingzhou. Liu Biao minta bantuan mereka. Kuai Yue memberi saran, yakni ketika memerintah wilayah yang makmur, kita harus menggunakan cara moral, welas asih. Namun saat memerintah wilayah yang kacau balau, harus menggunakan tipu muslihat dan siasat. Jadi caranya adalah membasmi pentolan-pentolan kelompok bersenjata yang berbuat onar yang paling jahat, dan merekrut pentolan-pentolan yang baik. Cara ini manjur. Liu Biao berhasil mengamankan Jingzhou. Dan di bawah kepemimpinannya, ia berhasil mengembangkan Jingzhou dengan baik.

Lalu di mana letak keburukan Liu Biao? Pertama, ia tak punya visi. Ia sama sekali tak punya ambisi menyatukan negara. Kedua, ia berhati sempit, tak suka membantu orang lain. Saat perang Guandu, Yuan Shao maupun Cao Cao pernah minta bantuan kepada Liu Biao, namun Liu Biao tidak melakukan apa-apa. Saat itu Han Song maupun Kuai Yue sangat menyarankan Liu Biao untuk membantu salah satu pihak (dalam hal ini Cao Cao). Mengapa? Dua kekuatan besar sedang bertarung, hasil pertarungan ini akan menentukan peta kuasa di hari depan. Liu Biao saat itu memegang peran penentu. Kubu mana yang dibantunya, pasti akan menang. Dan bila Liu Biao tidak membantu siapa pun, suatu hari nanti kubu yang menang akan berbalik melawan dia. Tetapi, Liu Biao tidak menerima usulan ini. Ketiga, Liu Biao tak mampu memakai orang. Kita tahu Jingzhou penuh dengan orang-orang yang lihai. Liu Bei dan Zhuge Liang saat itu juga ada di Jingzhou. Bahkan Liu Biao menganggap Liu Bei sebagai ancaman. Keempat, Liu Biao tak memiliki penerus. Liu Biao memiliki dua putra, Liu Qi dan Liu Cong. Sebenarnya Liu Biao lebih menyukai Liu Qi. Namun karena pengaruh istri kedua Liu Biao, yang sekubu dengan Cai Mao dan kawan-kawannya, Liu Biao pun menjadi condong ke Liu Cong. Singkat cerita, akhirnya kekuasaan di Jingzhou terpecah menjadi dua kubu, kubu Liu Cong (di baliknya sebenarnya Cai Mao, Kuai Yue dkk., yang cenderung berhaluan ke Cao Cao), serta kubu Liu Qi (di baliknya sebenarnya Liu Bei dan Zhuge Liang, yang sudah tentu anti Cao Cao).

Namun sebenarnya Liu Biao lebih baik dari Yuan Shao. Ia memiliki keberhasilan tersendiri dalam mengelola Jingzhou. Sehingga menurut Prof. Yi, sebutan “idiot yang rupawan” tampaknya kurang tepat disematkan pada diri Liu Biao. Menurutnya, Liu Biao hanya “salah dilahirkan” pada saat kacau seperti saat itu. Apabila ia hidup di masa-masa yang tenang dan aman, mungkin ia akan lebih dianggap berhasil.

Jingzhou diperebutkan Cao Cao, Zhuge Liang dan Lu Su, tiga kubu yang berbeda. Bagaimanakah nasib Jingzhou? Kita akan lihat di episode berikutnya.

There are 20 comments for this article
  1. Samuel at 9:20 pm

    Boleh tanya nggak? Kenapa jingzhou dianggap kunci bagi kedua pihak Sun Quan dan Liu Bei? Apa faktor-faktor nya pada masa itu? Oh iya, kenapa Shu setelah kehilangan Zhuge Liang seakan kehilangan nyawa bahkan San Guo dianggap tamat disitu saja? Padahal menurut saya Zhuge Liang orang Jingzhou kan? Tentu dia tau orang-orang lain yang berbakat? Shu cuman memiliki Fei Yi,Jiang Wan,Dong Yun dan mereka adalah orang politik bukan lah ahli strategi bahkan jenderal gagah aja jadi ga punya sampai ada peribahasa jika Shu tidak memiliki Xianfeng maka Chen Dao boleh menjadi Xianfeng padahal secara keberanian dia bawahan Guan,Zhang,Zhao dan lagi di akhir San Guo kelihatannya pahlawan berkurang drastis dan cuman ada beberapa jenderal yang cukup terkenal pamornya seperti Wen Yang. Sorry kalo tanya terlalu panjang, saya pengen nonton juga analisis Yi Tianzhong, sayang saya gak ngerti Zhongwen.

    • admin Author at 5:20 am

      Halo Samuel. Jingzhou merupakan wilayah kunci bagi Liu Bei, sudah dijelaskan di pembahasan no. 17 tentang strategi Longzhong. Strategi Longzhong merupakan serangan dua arah ke utara, satu lewat Jingzhou, satu lagi lewat Yizhou. Jadi Jingzhou harus dikuasai. Sedangkan bagi Sun Quan, juga telah dijelaskan di pembahasan no. 17 dan 18, Lu Su juga memiliki “strategi Longzhong” versi Wu. di dalamnya, Jingzhou juga merupakan satu basis untuk merebut Yizhou. Singkatnya, Jingzhou merupakan wilayah di tengah-tengah, persinggungan antara utara-selatan, dan barat-timur, sehingga posisinya sangat krusial bagi ketiga kubu.
      Zhuge Liang merupakan figur sentral di Shu, bahkan saat Liu Bei hendak meninggal, ia menitipkan putra mahkotanya kepada Zhuge Liang sambil berpesan apabila putranya itu tak berguna, Zhuge Liang diperbolehkan mengambil alih kekuasaan. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya Zhuge Liang bagi Shu, sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada orang lain lagi yang kemampuannya seperti dia di Shu. Sebenarnya setelah Zhuge Liang meninggal, kita tidak bisa mengatakan San Guo tamat, karena kenyataannya ketiga negara ini masih saling berseteru hingga kesudahannya saat muncul dinasti Jin.
      Kenapa Zhuge Liang tidak merekrut orang-orang lain dari Jingzhou? Sebenarnya sudah ada beberapa, namun seperti kita ketahui, rencana Longzhong pada akhirnya tidak berjalan mulus, karena Jingzhou tidak semudah itu dipertahankan, bahkan di akhirnya, Shu harus kehilangan Jingzhou. Praktis wilayah Shu hanya tersisa Yizhou saja. Dan dibanding Wei maupun Wu, wilayah ini paling kecil, otomatis pula sumber daya manusianya terbatas. Justru dalam keterbatasan ini, Zhuge Liang tidak melupakan misi awal mereka, yakni mengembalikan dinasti Han, hingga ia tetap melakukan beberapa kali ekspedisi menyerang Wei. Dari sinilah kita merasa sangat kagum terhadap Zhuge Liang.

      • Samuel at 4:29 pm

        SDM Shu memang kurang tapi kesannya negara lain pun yang lebih luas seperti Wu pun kekurangan orang. Hanya Wei yang masih meiliki sedikit strategis seperti Sima yi,Deng Ai,Zhong Hui, dan Wen Yang. Kenapa juga Wu terkesan dalam San Guo lebih defensif selama Zhuge Liang melakukan ekspedisi bukannya berbarengan menyerang utara padahal Wu masih memiliki Lu Xun?

        • admin Author at 1:08 am

          Wu disebut defensif, karena memang kebijakan mereka seperti itu, yang merupakan pesan dari mendiang Sun Ce. Namun sebenarnya saat Zhuge Liang melancarkan ekspedisi ke utara, Wu juga turut bekerjasama, contohnya dalam pertempuran Shiting dan Hefei. Sayangnya setelah Sun Quan meninggal, Wu mengalami pergolakan politik internal, penerus Sun Quan juga tidak cakap.

  2. Samuel at 5:26 pm

    Saya mau tanya lagi kenapa pas perang Chi Bi saat Cao Cao membunuh Cai Mao dan Zhang Yun, tidak memakai Wen Pin bekas jenderal Liu Biao juga. Bukannya dia juga handal dalam perang laut? Apa opini anda terhadap 5 jenderal Harimau Shu, mereka favorite saya tapi saya ingin tau kelemahan mereka masing-masing. Menurut saya yang hampir sempurna itu Zilong tapi jarang diberi kepercayaan Liu Bei untuk memimpin perang besar malah diberikan kepada Yide yang keras pada bawahan atau kepada Yunchang yang keras kepala. Mengqi dan Hansheng malah lebih berkemampuan dibanding 2 saudara Guan Zhang menurut opini saya.

    • admin Author at 1:12 am

      Perlu diketahui, Cao Cao membunuh Cai Mao dan Zhang Yun itu hanya ada dalam novel Romance of the Three Kingdoms. Sedangkan sejarah sebenarnya tidak seperti itu. Cai Mao setelah menyerah kepada Cao Cao, memiliki kehidupan yang mapan.
      Zhao Yun menurut saya sih sudah cukup diberikan kepercayaan, terbukti dari diberikannya gelar anumerta kepadanya (Guan Yu dan Zhang Fei tidak).

  3. qodo at 3:19 pm

    saya mau tanya min, saya sudah membaca semua postingan anda “pembahasan 3negara oleh yi zhongtian”. sebenarnya apa alasan chen gong berkhianat pada cao cao dan lebih memilih lu bu? apakah mungkin sebenarnya lu bu memiliki kemampuan lebih dari cao cao? saya pernah baca katanya lu bu dalam sejarah adalah musuh paling di takuti masa setelah dong zhou lengser.
    mohon jawab ya admin dan terus posting lanjutanya ane tunggu, thanks

    • admin Author at 9:06 am

      Terima kasih atas komentarnya.
      Menurut ahli sejarah, motivasi Chen Gong berpindah ke kubu Lü Bu adalah karena Cao Cao pernah menghukum mati beberapa cendekiawan di Yanzhou. Sedangkan beberapa dari mereka kemungkinan adalah sahabat Chen Gong.

      • qodo at 3:10 pm

        makasih jawabanya admin, berhubung admin orang tionghoa pasti tau banyak tentang sejarah 3 kerajaan, saya pengagum sejarah tiongkok kuno. mau tanya min dalam sejarah asli chen gong ini memang hebat dalam strategi militer atau gimana? dan dinovel diceritain kalo cao cao ingin mengampuni chen gong apa itu bener?

        • admin Author at 4:32 am

          Terima kasih kembali. Saya perlu ralat statemen Anda, sebenarnya tidak semua orang Tionghoa pasti tahu banyak tentang sejarah (3 kerajaan). Banyak juga yang tidak tahu.
          Chen Gong dalam sejarah memang hebat. Ketika di bawah Cao Cao, ia berjasa ketika Cao Cao merebut Yanzhou, yang sekaligus meletakkan pondasi bagi kekuasaan Cao Cao. Ketika di bawah Lü Bu, ia pun banyak memberikan masukan yang bagus, termasuk ketika Lü Bu diserang Cao Cao. Namun sayangnya nasehat Chen Gong tidak didengarkan oleh Lü Bu, Lü Bu lebih mendengarkan kata-kata istrinya. Sehingga pada akhirnya ia pun kalah oleh Cao Cao.
          Memang benar, Cao Cao memberikan kesempatan Chen Gong untuk diampuni, tetapi Chen Gong menolak. Setelah Chen Gong mati, keluarga Chen Gong dipelihara dan diperlakukan dengan baik oleh Cao Cao.

          • qodo at 6:32 am

            makasih penjelasanya min. kapan diupdate lanjutan prof.yi min? min mau tanya lagi ada bawahan lu bu yang hebat namanya gao shun, kalo di llihat di novel gao shun ini lebih diandelin ketimbang zhang liao.. apa mungkin gao shun ini lebih hebat memipin peperangan atau duel ketimbang zhang liao? dan jika memang gao shun termasuk jendral hebat mengapa cao cao tidak mencoba merekrut gao shun seperti zhang liao yang di ampuni cao cao.. dari cara yang dilakukan gao shun setelah kekalahan battle of xia pi dia loyal pada lu bu dan cao cao sangat mengagumi jendral yg loyalseperyi taishi ci dan guan yu mengapa tidak di rekrut jendral sehebat gao shun?

          • admin Author at 7:44 am

            Benar bro qodo, Gao Shun memang seorang pahlawan yang gagah berani dan setia. Tragis sekali memang bahwa pahlawan sehebat ini harus mati sedemikian rupa dan tidak banyak diingat. Kita tidak tahu pasti mengapa Cao Cao mengampuni Zhang Liao tetapi membunuh Gao Shun. Namun dari apa yang saya baca di internet, kemungkinan ada dua sebab: pertama, Gao Shun dengan pasukan penerobosnya sudah pernah mengalahkan pasukan Cao Cao. Dengan demikian apabila Cao Cao mengampuninya, akan membawa dampak kurang bagus bagi bawahan Cao Cao yang lain yang sudah membenci Gao Shun. Ini akan membuat ketidakharmonisan di kubu Cao Cao. Kedua, jika Cao Cao mengampuni Gao Shun juga, maka bagi Zhang Liao dan Gao Shun tidak akan timbul rasa gentar, karena toh semua pada akhirnya diampuni. Cao Cao membunuh Gao Shun, paling tidak akan membuat Zhang Liao gentar dan lebih berhutang budi kepada Cao Cao karena telah diampuni.

  4. qodo at 8:07 am

    berarti dari penjelasaann admin di atas kemampuan gao shun lebih tinggi dibandingkan zhang liao? apa admin punya penjelasan sejarah mengenai gao shun awal mula meniti karir militer sampai menjadi bawahan lu bu? atau mungkin gao shun ini mantan bawahan dong zhou atau teman lu bu di pendidikan militer atau satu desa. yang saya tahu karakter orang chinese menjujung tinggi persahabatan.

    • admin Author at 9:19 am

      Tidak banyak catatan tentang Gao Shun. Buku sejarah yang mencatat Gao Shun adalah Records of Heroes (Yingxiong Ji) yang ditulis oleh Wang Can serta Records of the Three Kingdoms. Dikatakan bahwa Gao Shun seorang yang lurus, tidak minum alkohol, dan tidak menerima segala bentuk suap. Ia juga seorang yang sangat setia kepada Lü Bu. Kehebatan Gao Shun dapat dilihat dari pasukan penerobosnya (xianzhenying), yang dikatakan hanya terdiri dari 700 orang namun kekuatannya bagaikan ribuan orang. Ini adalah pasukan elit yang benar-benar kuat (pernah mengalahkan Liu Bei dan Xiahou Dun).
      Kalau dari novelnya, paling tidak kita juga bisa mengira-ngira bahwa Gao Shun lebih hebat dari Zhang Liao, karena dalam penyebutan, Gao Shun berulang kali disebutkan lebih dulu dari Zhang Liao (saat keduanya di bawah Lü Bu). Hanya di bagian belakang baru Zhang Liao disebut duluan (mungkin saat itu Lü Bu sudah tidak terlalu percaya pada Gao Shun, walaupun Gao Shun tetap setia padanya). Jadi kalau disimpulkan, di kubu Lü Bu urutannya berdasarkan pangkat adalah Chen Gong, Gao Shun, baru delapan jenderal yang lainnya (di antaranya Zhang Liao). Menarik juga kalau menganalisis kisah di novelnya ketika Lü Bu, Chen Gong, Gao Shun dan Zhang Liao pada akhirnya ditangkap Cao Cao dan menghadapi hukuman. Keempatnya digambarkan menghadapi Cao Cao dengan sikap yang berbeda. Ada yang menganalisis bahwa ini menggambarkan empat macam karakter orang.

      • qodo at 2:27 pm

        pasukan penerobos milik gao shun itu dilatih gao shun sendiri atau mengambil dari pasukan lu bu?.. yang saya tau pasukan yg di latih lu bu pribadi sangat kuat.wah ane malah kagum banget sama gao shun coba kalo ada pejabat entah militer atau politik yang sifat nya kaya gao shun di negeri ini kayanya cepet maju ini negara hahhha

        • admin Author at 3:52 pm

          Haha senang sekali bisa ngobrolin Sam Kok dengan Anda bro qodo. Saya jadi ikut belajar juga. Ngomongin Sam Kok memang gak ada habis-habisnya, dengan ratusan tokohnya dengan karakter khas masing-masing.
          Kembali ke Gao Shun, saya belum menemukan catatan mengenai dari mana pasukan penerobos ini berasal. Gao Shun termasuk sosok yang misterius, bahkan zi nya pun tidak tercatat (zi adalah courtesy name misalnya Zhuge Liang = Zhuge Kongming, Cao Cao = Cao Mengde, Liu Bei = Liu Xuande). Tapi kita patut kagum atas kesetiaan Gao Shun. Dari awal hingga akhir, ia tetap setiap kepada Lü Bu, tak peduli bagaimana pun perlakuan Lü Bu padanya. Gao Shun pantang minum arak, bisa kita lihat juga sebagai sebuah bentuk kesetiaan yang paling tulus. Dengan tidak minum arak, berarti ia selalu mempertahankan kesadaran diri, selalu siap bagi majikannya. Saat terjadi insiden pemberontakan Hao Meng, yang pertama dicari oleh Lü Bu adalah Gao Shun (menunjukkan bahwa Gao Shun yang paling ia percaya). Dan memang pada akhirnya Gao Shun lah yang membunuh Hao Meng dan mengatasi pemberontakan itu. Sayangnya sejak peristiwa itu, kepercayaan Lü Bu kepada Gao Shun menjadi berkurang (ia takut Gao Shun juga ikut-ikutan memberontak). Ia mencopot jabatan Gao Shun dan memberikannya kepada Wei Xu yang merupakan familinya sendiri. Hanya ketika dibutuhkan saat perang, jabatan itu diberikan kembali kepada Gao Shun. Mendapat perlakuan seperti ini, kesetiaan Gao Shun tidak pernah goyah. Ia tahu Lü Bu seorang yang gegabah, sehingga ia juga sering menasehati Lü Bu. Ia pernah menasehati Lü Bu, “kehancuran sebuah negara bukanlah karena kekurangan penasehat yang bijak, namun karena tidak mendengarkan nasehat mereka.” Lü Bu tahu kesetiaan Gao Shun, namun sayang tak dapat memanfaatkannya.

          • qodo at 1:57 pm

            hahha saya yang malah bertrima kasih sama admin bisa ngasih ilmu tentang samkok..
            main sini min ke pwt ngbrolin samkok sekalian liburan?
            min ane mau tanya, dulu ane punya mantan orang tionghoa dia bilang jangan belajar mendalami novel samkok dia katanya takut ane nipu orang dan jadi kebiasaan, nah apa yg di bicarain mantan ane emang bener min? ane malah bingung min, soalnya dari samkok ini saya belajar loyalitas kesetikawanan dan juga belajar skill leadership dari novel ini sekalian belajar politik pula.. dan harus ane akui min belajara sejarah tiongkok kuno banyak manfaatnya enatah sejarah, legenda dan cerita rakyat.. sbg contoh ane sendiri pengin banget punya istri orang tionghoa hehhhe cantik juga pinter min hahha, kalo yg ini bantu dg doa min hehhe

          • admin Author at 2:37 am

            Oh situ orang Purwokerto? Ya ntar kapan deh kalo ada waktu, saya belum pernah ke Purwokerto juga.
            Haha, mengenai nipu orang setelah baca samkok, mestinya nggak lah. Novel ini menceritakan sejarah, dengan segala karakter orang di dalamnya, yang memang tidak semuanya baik (justru malah tidak ada tokoh yang benar-benar putih bersih). Dan justru ia menggambarkan kehidupan ini, yang memang tidak selalu indah dan baik. Mengenai strategi perang yang banyak ditampilkan di sana, ya memang strategi perang itu intinya adalah tipu daya. Siapa yang bisa mengelabui musuh, dia yang akan menang. Saya setuju dengan bro qodo, dari novel ini kita juga belajar loyalitas, kepemimpinan dan politik.
            Ah, tidak semua orang Tionghoa cantik dan pinter lah. Itu cuma stereotip aja.
            Baik saya doakan biar cepat dapat jodoh yang cocok ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *