Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (24 – 赤壁疑云/Chibi yang Meragukan)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (24 – 赤壁疑云/Chibi yang Meragukan)

Episode ini membahas mengenai Perang Chibi. Perang Chibi adalah perang yang paling terkenal dalam sejarah Tiga Negara. Orang yang tahu tentang Samkok, pasti tahu perang ini. Kita harus berterima kasih kepada Luo Guanzhong. Karena sebagai penulis Romance of the Three Kingdoms, ia menceritakan kisah perang Chibi dengan sangat luar biasa bagus dan serunya. Ada orang berpendapat, Romance berisi 70% fakta, 30% fiksi. Khusus di bagian kisah perang Chibi inilah, perbandingannya jadi terbalik, 70% fiksi, 30% fakta.

Perang Chibi jarang sekali ditemukan dalam catatan sejarah. Bahkan muncul berbagai kontradiksi. Ada beberapa poin yang bermasalah. (1) Ini perang siapa? (2) Seberapa besar skalanya? (3) Waktu dan tempat (4) Bagaimana proses dan akhirnya? (5) Faktor menang kalah.

Ini perang Cao Cao vs Liu Bei, ataukah Cao Cao vs Sun Quan? Pada awalnya, Cao Cao melancarkan ekspedisi ke selatan dengan tujuan merebut Jingzhou, mengalahkan Liu Biao serta Liu Bei. Ketika Cao Cao berhasil merebut Jiangling, tujuan ini pada dasarnya telah tercapai. Lalu mengapa Cao Cao masih harus bergerak menyerang ke timur? Pendapat pertama mengatakan, ini untuk menyerang Liu Bei. Pada saat yang sama, Sun Quan——karena Zhuge Liang, Lu Su dan Zhou Yu——ikut terseret ke dalamnya. Pendapat yang kedua mengatakan, Cao Cao memang ingin menyerang Sun Quan. Kita ingat bahwa Cao Cao pernah mengirim surat kepada Sun Quan mengenai hal ini. Tetapi benar tidaknya surat ini masih diragukan.

Bagaimana pendapat prof. Yi? Cao Cao melancarkan ekspedisi ke timur, adalah untuk menyerang Liu Bei DAN menyerang Sun Quan. Hal ini bisa dilihat dari kata-kata Sun Quan kepada Zhou Yu. Apabila Zhou Yu kalah, Sun Quan sendiri yang akan memimpin pasukan berperang hidup mati melawan Cao Cao. Ini menunjukkan bahwa target Cao Cao adalah Sun Quan. Tetapi, kata-kata Sun Quan ini tercatat di Jiang Biao Zhuan, dan masih dipertanyakan juga kebenarannya.

Ada pendapat yang mengatakan, sebenarnya Cao Cao hanya membawa 5000 orang prajurit, yaitu 5000 orang yang digunakan untuk mengejar-ngejar Liu Bei. Tetapi, jika Cao Cao hanya membawa 5000 orang, lalu mengapa saat Zhou Yu mengatakan membawa 30.000 orang, Liu Bei berkata, jumlah itu terlalu sedikit? Apalagi di dalam Records of the Three Kingdoms ditulis bahwa Cao Cao mendapat pasukan air dari Liu Cong yang menyerah, sehingga total ada 100.000 orang prajurit.

Bila Cao Cao hanya membawa 5000 orang prajurit, maka proses ekspedisi tidak akan memakan banyak waktu. Sejak pengejaran Liu Bei hingga ke perang Chibi, seharusnya hanya membutuhkan waktu yang singkat. Jika demikian, maka bisa disimpulkan perang Chibi terjadi pada bulan 10. Tetapi masalahnya, jika memang Cao Cao akan menyerang Sun Quan, ia tidak mungkin hanya membawa 5000 orang prajurit. Ia pasti akan menggunakan waktu lebih lama untuk mengumpulkan pasukan. Dengan demikian perang Chibi seharusnya terjadi pada bulan 12.

Di manakah lokasi peperangan? Dunia akademis cenderung menyimpulkan letak perang di provinsi Hubei sekarang, di daerah Puqi.

Mengenai rangkaian proses perang Chibi, bila kita melihat rentetan peristiwa yang ditulis dalam Romance of the Three Kingdoms, sangatlah memikat. Mulai dari adu strategi, hingga selesainya perang, banyak sekali cerita yang disuguhkan. Saking terkenalnya, banyak idiom Tionghoa (成语 / chengyu) baru yang muncul dari kisah-kisah ini, misalnya 舌战群儒 (she zhan qun ru: bersilat lidah dengan para cendekiawan). Tetapi bagaimanapun, prof. Yi tetap menyatakan bahwa apa yang diceritakan oleh Romance dalam bagian ini adalah 70% fiksi. Banyak hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Salah satunya peristiwa she zhan qun ru di atas. Kisah mengelabui Zhou Yu, juga tidak pernah terjadi.

Memang ada beberapa peristiwa yang memiliki jejak sejarah. Seperti, kisah menipu Jiang Gan. Jiang Gan memang tokoh yang nyata di sejarah. Peristiwa meminjam panah dengan perahu jerami, juga memiliki jejak sejarah. Namun kisah ini bukan dilakukan oleh Zhuge Liang, melainkan Sun Quan. Dan ia terjadi belakangan, lima tahun setelah perang Chibi. Yaitu ketika Cao Cao menyerang Sun Quan, melepaskan anak panah yang menghunjami perahu Sun Quan di satu sisi. Untuk menjaga keseimbangan, Sun Quan menyuruh memutar perahu, sehingga serangan panah berikutnya mengenai sisi yang lain, dan perahu menjadi seimbang. Jadi sama sekali bukan meminjam anak panah. Dengan perhitungan fisika, meminjam panah dengan perahu jerami juga mustahil terjadi.

Lalu bagaimanakah proses peperangan yang sebenarnya?

Catatan sejarah yang cukup objektif yang akan digunakan sebagai referensi oleh prof. Yi adalah biografi Zhou Yu dalam buku Records of the Three Kingdoms. Di sana dicatat, Cao Cao membawa pasukan air dari Jiangling menyusuri sungai Yangtze ke arah timur. Zhou Yu dan yang lainnya membawa pasukan aliansi Liu Bei dan Sun Quan, melawan arus sungai, ke arah sebaliknya. Kedua pasukan bertemu di daerah Chibi. Saat itu, pasukan Cao Cao sudah menderita penyakit. Baru bertempur beberapa lama, mereka pun kalah. Mereka mundur ke tepi utara Yangtze, di tempat bernama Wulin, yakni kota Honghu di Hubei sekarang. Pasukan Sun dan Liu berkemah di tepi selatan.

Menurut catatan Zhang Zuoyao dalam bukunya, Cao Cao Review, mengatakan empat alasan kekalahan pertama Cao Cao ini: (1) wabah penyakit, (2) tidak terbiasa dengan pertempuran di air, (3) terlalu meremehkan musuh, (4) lokasi perang yang sempit. Kita melihat hal ini pun telah diperkirakan oleh Zhou Yu dan Zhuge Liang di pembahasan yang lalu.

Saat itu sudah memasuki bulan 12. Angin musim dingin bertiup cukup kencang. Perahu pun terombang-ambing di atas sungai. Besarnya gelombang, ditambah wabah penyakit, tentu membuat pasukan Cao Cao yang tak terbiasa betempur di air mengalami kesulitan luar biasa. Maka Cao Cao menggunakan cara merangkai kapal untuk mengurangi goyangan. Siapa yang memberikan usul ini? Kita tidak tahu. Tetapi sudah pasti bukan Pang Tong. Karena menurut Records, Pang Tong sama sekali tidak terlibat dalam perang ini.

Melihat pasukan perahu Cao Cao yang sudah dirangkai menjadi satu, seorang bawahan Zhou Yu, Huang Gai, mengusulkan untuk membakar pasukan air Cao Cao. Zhou Yu menerima usul ini, dan Huang Gai berpura-pura menyerah kepada Cao Cao. Huang Gai menyiapkan perahu yang sudah dimuati kayu dan minyak, ditutup dengan kain. Kebetulan suatu hari tiba-tiba angin tenggara bertiup (kita tidak tahu mengapa ini bisa terjadi, tetapi jelas bukan karena Zhuge Liang). Maka berangkatlah Huang Gai ke tepi utara, dengan mengibarkan bendera tanda menyerah. Dengan dibantu tiupan angin tenggara yang kencang, begitu api dinyalakan dan perahu Huang Gai ditabrakkan ke rangkaian perahu pasukan Cao Cao, menyambarlah api dengan besarnya. Api tidak hanya membakar pasukan perahu, tetapi juga melalap pasukan darat yang berkemah di tepi sungai.

Dalam kondisi demikian, tak ada jalan lain bagi Cao Cao. Ia memerintahkan membakar sisa perahu yang ada, lalu melarikan diri. Ia pun melewati Huarong Pass. Seperti apakah Huarong Pass saat itu? Angin dingin bertiup kencang, jalan penuh dengan lumpur. Pasukan tidak dapat lewat. Maka ia memerintahkan para prajurit yang lemah atau sakit untuk menutup jalan dengan rerumputan. Belum selesai ditutup, pasukan Cao Cao melaju dan melindas para prajurit tersebut. Mereka mati terlindas menjadi ‘jalan’ bagi pasukan berkuda Cao Cao. Hal ini merefleksikan dua hal. Pertama, betapa parahnya kondisi pasukan Cao Cao yang kalah dan melarikan diri. Kedua, kejamnya Cao Cao. Dari sisi kemanusiaan, bukankah seharusnya para prajurit yang lemah yang lewat terlebih dulu? Di sini kita melihat Cao Cao yang tidak mempedulikan orang lain demi keberhasilan dirinya sendiri. Ini akan kita bahas lebih lanjut lain kali. Satu hal lagi, Guan Yu tidak ada di Huarong Pass.

Demikianlah keseluruhan perang Chibi menurut sejarah.

Dari catatan Records, Pei Songzhi menyimpulkan faktor kekalahan Cao Cao. Pertama, pasukannya mengalami wabah penyakit yang tak dikenal. Kedua, ia tidak menyangka akan ada angin tenggara yang bertiup. Sehingga Pei menutup dengan kesimpulan, bukan Cao Cao sendiri yang kalah, tetapi alam yang menaklukkannya.

Namun prof. Yi tidak setuju dengan kesimpulan ini. Ia berpendapat, kekalahan Cao Cao disebabkan karena alasan yang objektif maupun subjektif. Dan alasan yang subjektif pun juga penting. Menurut prof. Yi, sebenarnya dalam perang ini Cao Cao punya empat keunggulan: (1) politis, karena ia mengendalikan kaisar. (2) psikologis, setelah merebut Jingzhou, ia membuat para musuhnya menjadi gentar. (3) spiritual, pasukannya memiliki semangat yang tinggi setelah momentum merebut Jingzhou. (4) militer, karena pasukannya lebih besar dari pasukan Sun dan Liu.

Dengan keunggulan seperti inilah, ia baru berani bergerak ke timur menyerang Sun dan Liu. Lalu mengapa kalah? Menurut prof. Yi, penyebab paling utama adalah tidak jelasnya target strategi. Setelah membahas panjang lebar, bukankah sampai sekarang kita masih belum tahu pasti, Cao Cao mau menyerang Liu Bei atau menyerang Sun Quan? Mungkin saja Cao Cao sendiri pun tidak tahu. Mungkin ia pada mulanya mau menyerang Liu Bei, tetapi karena ambisi, ia mau sekalian menyerang Sun Quan. Ini adalah suatu kerakusan. Jika saja ia menaruh target hanya pada diri Liu Bei, seharusnya ia tidak mengalihkan pengejarannya dan berpindah menuju Jiangling. Seharusnya ia terus mengejar Liu Bei hingga ke Xiakou. Dan sebenarnya ia pun masih punya waktu untuk mengejar kembali dari Jiangling. Paling tidak, sebelum aliansi Sun dan Liu terwujud, Cao Cao seharusnya masih sempat menghancurkan Liu Bei.

Cao Cao sesampainya di Jiangling malah berhenti dan menetap selama dua bulan. Apa yang ia lakukan? Menenangkan orang-orang dari Jingzhou yang menyerah padanya. Atau dengan kata lain, membuat kestabilan politik. Memang, hal ini harus dilakukan. Tetapi jika memang mau melakukan hal ini, seharusnya Cao Cao mengikuti nasihat Jia Xu. Ia seharusnya menetap lebih lama, melakukan persiapan yang lebih matang, memantapkan diri secara internal. Barulah menentukan strategi yang lebih efektif. Cao Cao tidak melakukannya. Setelah dua bulan, ia langsung melanjutkan ekspedisinya. Jadi, kesalahan ada di jangka waktu dua bulan ini. Dua bulan adalah waktu yang ‘tanggung’. Jika ia sebentar saja (tak sampai dua bulan) berdiam di Jiangling dan melanjutkan menyerang Liu Bei, ia pasti akan menang. Dan jika ia diam lebih lama dari dua bulan, ia pun punya waktu dan strategi yang lebih mantap untuk menyerang. Tetapi, sekalipun ia berdiam di Jiangling dua bulan, seharusnya ia masih dapat memerintahkan jenderalnya untuk membawa pasukan melawan Liu Bei, paling tidak untuk menutup jalan Liu Bei bergabung dengan Sun Quan.

Semua hal ini tidak dilakukan Cao Cao.

Mengapa bisa demikian? Bukankah Cao Cao seorang yang cukup ahli dalam hal militer?

Banyak cendekiawan yang mengatakan, ini karena Cao Cao terlalu sombong dan meremehkan musuh. Ia tidak menduga Liu dan Sun akan membentuk aliansi. Cao Cao selama menyatukan daerah utara, selalu ada dalam kondisi perseteruan antara para pemimpin di sana. Sehingga ia dengan lebih mudah mengatasi mereka satu per satu. Setelah mereka semua takluk, kini tinggal Sun dan Liu, sudah pasti mereka akan bersatu, karena tidak bersatu berarti mati. Ini tidak diperhitungkan oleh Cao Cao.

Sebaliknya, faktor kemenangan Sun dan Liu terletak pada aliansi yang dibangun. Hal-hal lain, seperti angin tenggara, sebenarnya hanyalah faktor kecil.

Selain itu, masih ada satu faktor lagi, yaitu usia. Saat perang Chibi, Sun Quan berusia 27 tahun. Zhuge Liang 27 tahun. Zhou Yu 34 tahun. Lu Su 37 tahun. Cao Cao 54 tahun. Liu Bei 47 tahun. Jika dirata-rata, kubu Sun-Liu usianya 34 tahun. Generasi muda mengelahkan generasi tua.

Namun meskipun Cao Cao telah tua, dan kalah, ia tidak kehilangan semangatnya. Setelah berhasil melewati Huarong Pass, ia tertawa. Para bawahan bertanya mengapa ia tertawa. Ia mengatakan, Liu Bei meski hebat, tetapi ia terlambat satu langkah. Jika saja di tempat ini ia menempatkan pasukan dan menyerang dengan api, sudah bisa dipastikan kita akan binasa. Apakah Cao Cao masih bisa tertawa hingga akhir? Nantikan episode selanjutnya.

Photo credit: 雪候鹰座 via Visualhunt / CC BY

There is 1 comment for this article
  1. Pingback: Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (31 – 乘虚而入/Mengambil kesempatan dalam kesempitan) | Belajar Seputar Budaya Tionghoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *