Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (27 – 进退失据/Maju kena mundur kena)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (27 – 进退失据/Maju kena mundur kena)

Pada episode yang lalu, dikatakan bahwa ada satu orang yang tidak setuju Cao Cao mendapat gelar Duke of Wei. Orang itu adalah Xun Yu. Mengapa ia tidak setuju? Kita perlu melihat siapakah Xun Yu sebenarnya.

Xun Yu adalah seorang yang bijaksana. Ketika Cao Cao mendapatkan Xun Yu, ia mengibaratkan Xun Yu sebagai ‘Zhang Liang’nya—Zhang Liang adalah penasehat Liu Bang pendiri dinasti Han. Dalam setiap ekspedisi yang dilakukan Cao Cao, Xun Yu selalu membantu dengan pertimbangan dan strategi yang matang. Xun Yu juga adalah seorang yang memiliki cita-cita. Ini sudah dibahas pada episode 07, di mana Xun Yu mencetuskan gagasan dan alasan untuk menggandeng kaisar. Xun Yu juga adalah seorang yang memiliki visi jauh ke depan. Menjelang perang Guandu, di kala Cao Cao bimbang akan maju berperang atau tidak, Xun Yu menjelaskan empat keunggulan Cao Cao dan empat kelemahan Yuan Shao. Xun Yu adalah seorang yang bertanggungjawab. Ketika Cao Cao baru saja menggalang kekuatan, Xun Yu dan Cheng Yu lah yang menjaga basis Cao Cao di Juancheng.

Maka jelaslah, Cao Cao sangat mempercayai Xun Yu.

Ketika Dong Zhao mengusulkan agar Cao Cao mendapat titel Duke of Wei, yang memungkinkan ia mendirikan negara di dalam negara, ia menemui Xun Yu, maksudnya agar Xun Yu yang menjadi pimpinan bagi mereka untuk mengajukan titel tersebut. Tetapi ternyata Xun Yu tidak setuju. Xun Yu berkata, Cao Cao memulai sebuah karir untuk memulihkan dinasti Han, ia adalah seorang pelindung dinasti Han yang setia, mana mungkin mengambil titel ini. Secara permukaan, perkataan ini kelihatannya ditujukan kepada Dong Zhao. Tetapi Xun Yu sebenarnya juga paham, ide untuk mendapatkan gelar Duke of Wei pastinya berasal dari Cao Cao sendiri. Ia memakai Dong Zhao untuk menyampaikan hal ini kepada Cao Cao.

Dan memang benar, setelah mendengar reaksi Xun Yu, Cao Cao marah besar. Kebetulan waktu itu Cao Cao hendak melancarkan ekspedisi melawan Sun Quan. Ia membawa Xun Yu ikut serta. Dan pada akhirnya Xun Yu sakit dan meninggal dengan misterius pada usia 50 tahun.

Mengenai meninggalnya Xun Yu, ada beberapa macam versi dalam sejarah. Versi pertama, Xun Yu meninggal karena sedih. Versi kedua, Cao Cao memberikan sekotak makanan kepada Xun Yu, tetapi isinya kosong. Xun Yu meninggal karena makan racun. Tetapi ini tidak begitu jelas saat itu. Versi ketiga, Cao Cao menyuruh Xun Yu membunuh Permaisuri Fu, tetapi Xun Yu menolak, lalu bunuh diri. Di antara ketiga versi ini, versi ketiga sudah pasti tidak benar. Sebab masalah dengan permaisuri Fu bukan terjadi saat itu, tetapi beberapa tahun sebelumnya. Memang pada akhirnya permaisuri Fu dilenyapkan oleh Cao Cao, tetapi sulit dipercaya apabila Xun Yu ikut terlibat. Xun Yu adalah seorang yang sangat lurus, ia tak mungkin terlibat dalam intrik politik istana seperti ini.

Mengapa Xun Yu yang merupakan penasehat utama dalam kubu Cao Cao, bisa sampai berseberangan dengan Cao Cao? Menurut prof. Yi, ini karena perbedaan pandangan politik. Sebelumnya kita perlu menjelaskan dulu definisi penasehat (谋士/moushi) di sini. Penasehat umumnya memiliki etika profesional yaitu melayani pemimpin mereka. Pemimpin ingin melakukan apa, penasehat akan memberikan strategi untuk itu. Ini adalah penasehat pada umumnya. Ini setara dengan pengacara pada zaman modern ini. Pengacara bertugas membela klien. Ia tak melihat apakah kliennya benar atau salah. Yang menjadi tujuan tugas pengacara adalah memenangkan klien. Secara profesi, ini wajar-wajar saja. Tetapi di kalangan penasehat dan pengacara, ada sebagian kecil yang memiliki idealisme dan batas moral sendiri. Di kubu Liu Bei, orang seperti ini adalah Zhuge Liang. Di kubu Cao Cao, orang itu adalah Xun Yu. Mereka berdua lebih tinggi dari penasehat pada umumnya. Xun Yu saat mengajukan tiga program untuk menggandeng kaisar, melandaskan gagasannya ini murni pada asas kebenaran dan keadilan, bukan semata-mata strategi. Singkatnya, melindungi dinasti Han. Xun Yu pun menaruh harapan besar pada Cao Cao. Ia melihat Cao Cao punya kemampuan untuk itu, dan punya idealisme untuk itu pula. Karena ketika Dong Zhuo mengacaukan ibu kota, Cao Cao lah yang menggalang pasukan pertama kali menyerang Dong Zhuo. Hanya Cao Cao dan Sun Jian yang berani menyerang Dong Zhuo. Maka cita-cita Xun Yu adalah menjaga keutuhan dinasti Han melalui Cao Cao.

Tetapi Xun Yu tidak pernah menyangka, bahwa orang bisa berubah. Seiring dengan semakin berhasilnya Cao Cao, maka kekuasaan Cao Cao juga semakin besar. Semakin besar pula ambisinya. Tak heran, saat Cao Cao mengajukan untuk menerima gelar Duke of Wei, Xun Yu melihat gelagat yang sudah parah. Dengan gelar Duke of Wei, Cao Cao berhak mendirikan negara tandingan atas Han.

Xun Yu tak bisa lagi menaruh harapan pada Cao Cao. Kepada siapa ia harus menaruh harapan ini? Liu Bei? Sekalipun Liu Bei orang yang tepat, saat itu mungkinkah ia berpindah ke kubu Liu Bei? Tidak. Lalu bagaimana jika terus bersama Cao Cao? Semakin ia membantu Cao Cao, semakin pula ia menentang cita-citanya sendiri. Membantu Cao Cao sama halnya dengan melawan diri sendiri. Saat ini ia tak bisa membantu Cao Cao, juga tidak bisa tak membantu Cao Cao. Tak bisa mengkhianati Cao Cao, juga tak bisa tidak mengkhianati Cao Cao. Maju kena mundur kena. Dan hanya ada satu jalan yaitu mati.

Kita bisa membayangkan bagaimana derita Xun Yu waktu itu. Seorang yang mempunyai harapan dan cita-cita, ketika harapan itu hancur, betapa besar penderitaannya. Maka entah dia mati karena sedih, atau mati karena racun, yang sudah pasti adalah sebelum mati ia sangatlah menderita. Bahkan prof. Yi menduga, Xun Yu mungkin saja ingin bunuh diri.

Maka mungkin salah satu sebab Cao Cao hingga akhir hidupnya tidak mengangkat diri sebagai kaisar, adalah karena ia tak bisa melupakan penderitaan Xun Yu.

Xun Yu tak punya pilihan. Kubu yang berhaluan melindungi dinasti Han, entah di dalam istana maupun di luar istana, semua adalah musuh Cao Cao. Sedangkan yang berkawan dengan Cao Cao semua setuju Cao Cao menjadi Duke of Wei. Satu-satunya orang yang di kubu Cao Cao memiliki relasi baik dengan Cao Cao namun juga menentang Cao Cao hanyalah Xun Yu.

Di sini prof. Yi juga mengatakan, sebenarnya Cao Cao berada pada posisi yang sama dengan Xun Yu. Maju kena mundur kena. Bahkan posisinya lebih sulit dari Xun Yu. Sebab Xun Yu hanya seorang diri. Sedangkan Cao Cao saat ini sudah mewakili satu kelompok besar. Ia sulit mundur. Apalagi Cao Cao telah menikmati kekuasaan yang begitu besar. Untuk menjaga kekuasaan ini, ia terus berjalan dalam jalan yang penuh dengan darah, sampai akhir. Sehingga Xun Yu memilih mati, Cao Cao memilih membunuh. Ia masih harus membunuh. Membunuh kawan-kawannya. Sampai darah mengalir menjadi sungai. Cao Cao masih harus membunuh siapa lagi? Nantikan episode berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *