Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (35 – 夷陵之战/Pertempuran Yiling)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (35 – 夷陵之战/Pertempuran Yiling)

Tahun ke-24 Jian’an, Guan Yu tumbang di Maicheng. Liu Bei kehilangan Jingzhou. Ini adalah kerugian yang sangat besar bagi Liu Bei. Ia tak dapat berpangku tangan. Tetapi seharusnya, setelah kehilangan Jingzhou, Liu Bei perlu menahan diri, memperkuat wilayahnya, menyiapkan pasukan. Dengan demikian, barulah dapat melancarkan serangan balasan. Namun ini tidak dilakukan Liu Bei. Apa yang dilakukan Liu Bei? Ia malah buru-buru mengangkat diri sebagai kaisar. Setelah itu, ia langsung melancarkan ekspedisi balasan menyerang Wu.

Ia memerintahkan Zhang Fei menuju Jiangzhou untuk bergabung dengan pasukannya. Tak disangka, sebelum Zhang Fei sempat berangkat, ia sudah dibunuh oleh bawahannya sendiri. Bahkan kepala Zhang Fei dikirimkan kepada Sun Quan. Kematian Zhang Fei adalah sebuah pukulan baru yang besar bagi Liu Bei. Liu Bei kini telah kehilangan Guan Yu, Zhang Fei dan Huang Zhong. Penasihatnya yang penting, Pang Tong, juga telah lama meninggal. Demikian pula dengan Fa Zheng. Jenderal yang masih tersisa ada Ma Chao, Zhao Yun dan Wei Yan. Sedangkan di bagian penasihat, hanya ada Zhuge Liang. Wei Yan dan Ma Chao harus berjaga di garis pertahanan di utara bila Cao Cao datang menyerang. Sedangkan Zhao Yun tidak dipercaya. Mengapa? Karena Zhao Yun tak setuju Liu Bei menyerang Sun Quan. Menurut Zhao Yun, musuh utama negara adalah Cao Cao. Seharusnya mereka menyerang Cao Cao lebih dahulu, bukan menyerang Sun Quan. Ditambah lagi, bila Cao Cao telah kalah, maka Sun Quan sudah bukan menjadi soal lagi. Kini Liu Bei menyerang Sun Quan, menurut Zhao Yun adalah kesalahan besar. Liu Bei tidak setuju. Dan Zhao Yun tidak dibawa. Maka yang dibawa Liu Bei untuk menyerang Sun Quan, baik dari segi jenderal perang maupun penasihat, tidak ada yang representatif. Zhao Yun tidak ikut. Zhuge Liang harus menjaga Chengdu. Lalu mengapa dalam kondisi seperti ini, Liu Bei tetap harus menyerang?

Jawaban tradisional adalah, hendak balas dendam atas kematian Guan Yu. Menurut beberapa pakar, ini hanya ada dalam novel, bukan keputusan politik yang logis. Namun menurut Prof. Yi, balas dendam atas kematian Guan Yu, tetap punya sebagian andil dalam keputusan Liu Bei menyerang Sun Quan. Hal ini telah dikatakan oleh salah satu penasihat Cao Cao, yaitu Liu Ye. Liu Ye mengatakan, hubungan Liu Bei dan Guan Yu adalah bagai ayah dan anak. Tak mungkin tak membalas. Tetapi ini bukanlah faktor utama. Menurut Liu Ye, faktor utama adalah karena strategi kubu Liu Bei secara keseluruhan adalah menyerang untuk bertahan. Jadi ia harus menyerang. Ia harus menyerang untuk menunjukkan kekuatannya. Lalu mengapa tidak menyerang Wei? Karena Wei lebih sulit diserang. Menyerang Wu lebih mudah. Menurut Prof. Yi, masih ada satu faktor lain yang penting. Yaitu Jingzhou harus direbut kembali. Sebab Jingzhou adalah wilayah kunci.

Tetapi walaupun demikian pun, sekalipun Liu Bei memang harus melakukan perang ini, bukankah ia tidak harus sedemikian buru-buru? Satu orang yang ikut dalam perang ini adalah Huang Quan. Ia berkata kepada Liu Bei bahwa tentara Wu pintar berperang, tak mudah dikalahkan. Sedangkan pasukan Shu kali ini berjalan mengikuti aliran sungai, sulit untuk mundur. Huang Quan mohon supaya ia diizinkan untuk menjadi pionir menyelidiki medan terlebih dulu. Ini adalah saran yang baik. Tetapi Liu Bei tidak menerimanya. Bahkan Liu Bei memindahkan Huang Quan ke tempat yang lain, tidak lagi ikut berperang dengannya. Maka kita bisa menyimpulkan kondisi emosional Liu Bei saat itu, yaitu tidak sabaran dan terburu nafsu.

Setelah Guan Yu terbunuh, Sun Quan mengirim kepala Guan Yu kepada Cao Cao. Maksudnya jelas. Cao Cao lah yang harus bertanggungjawab. Ia hendak mengumumkan, bahwa ia membunuh Guan Yu atas suruhan Cao Cao. Cao Cao juga mengerti maksud Sun Quan ini. Maka Cao Cao menggunakan tata cara pemakaman yang agung memakamkan Guan Yu. Ia bermaksud menghindar dari tanggung jawab yang dipaksakan oleh Sun Quan. Namun bagaimanapun juga, Sun Quan di titik ini telah benar-benar membuat aliansi Shu dan Wu pecah. Dan Sun Quan pun jelas mengerti hal ini. Ia juga mengerti, hanya mengandalkan kekuatannya seorang diri menghadapi Liu Bei, jelas tidak mudah. Sehingga ia memutar haluan menuju Wei, memutus hubungan dengan Liu Bei.

Sun Quan mengumumkan tidak mengakui Liu Bei sebagai pemimpin Yizhou. Sun Quan menganggap pimpinan Yizhou tetap adalah Liu Zhang. Cao Cao juga mengumumkan, pimpinan Jingzhou adalah Sun Quan. Bila sebelumnya Liu Bei merangkap sebagai pimpinan Jingzhou dan Yizhou, maka kini dari dua belah kubu, satu mengumumkan ia bukan pimpinan Yizhou, dan satu lagi dia bukan pimpinan Jingzhou. Tahun ke-25 Jian’an, Cao Cao meninggal. Cao Pi menggantikannya dan kemudian Cao Pi mengangkat diri sebagai kaisar Wei. Ketika ini terjadi, seluruh anggota kubu Liu Bei marah besar dan menyebut Cao Pi sebagai pengkhianat Han. Apa yang dilakukan Sun Quan? Sun Quan diam saja. Sampai akhirnya di tahun yang sama Sun Quan menerima gelar raja Wu dari Cao Pi. Bagi Sun Quan, hal ini adalah keputusan yang sulit. Karena, di satu pihak ia ‘menerima’ Cao Pi mengkhianati Han, di pihak lain, ia juga ‘mengakui’ Cao Pi sebagai pimpinannya. Bawahan Sun Quan ada yang tidak setuju dengan hal ini. Sun Quan beralasan, keputusannya ini seperti dulu ketika Liu Bang menerima gelar dari Xiang Yu sebagai raja Han.

Jadi makna di balik ini jelas, Sun Quan hendak menjalin hubungan baik dengan Wei, untuk mengatasi Liu Bei. Ini adalah persiapan Sun Quan menghadapi Liu Bei secara politik. Secara militer, Sun Quan juga melakukan persiapan. Ia memindahkan ibukota dari Jianye ke Wuchang. Ini adalah keputusan yang berat juga. Banyak bawahannya tak setuju pindah ke Wuchang. Tapi ini harus dilakukan, untuk berjaga-jaga menghadapi Liu Bei.

Bulan tujuh tahun 221, Liu Bei mulai melancarkan serangannya. Lokasi pertempuran ada di Yiling dan Xiaoting. Maka di dalam sejarah, perang ini disebut Pertempuran Yiling Xiaoting, atau Pertempuran Yiling / Pertempuran Xiaoting. Pertempuran ini adalah salah satu di antara tiga pertempuran terbesar di zaman Tiga Negara. Tiga pertempuran ini adalah pertempuran Guandu, pertempuran Chibi, pertempuran Yiling. Pemimpin Wu di garis depan dalam peperangan ini adalah Lu Xun yang menggantikan Lü Meng. Lü Meng tak lama setelah merebut Jingzhou telah meninggal dunia. Bagaimanakah Lu Xun memimpin perang ini? Menurut catatan sejarah, pada bulan pertama tahun 222, pasukan garis depan Liu Bei tiba di Yiling. Bulan dua, Liu Bei tiba di Xiaoting. Ketika itu, pasukan Lu Xun juga tiba di Xiaoting.

Saat itu, bawahan Lu Xun selalu meminta Lu Xun untuk segera menyerang Liu Bei. Lu Xun tidak setuju. Lu Xun memilih tidak bergerak. Mengapa? Menurut Lu Xun, pasukan Liu Bei datang mengikuti aliran sungai ke timur, dengan gegap gempita, moral pasukan berada di titik paling puncak. Dan pasukan Liu Bei didukung dengan geografis yang baik, daerah sungai dan perbukitan. Sulit untuk diserang. Sekalipun Lu Xun bisa memenangkan satu kali pertempuran, tetap akan sulit memenangkan seluruh pertempuran. Sebaliknya, bila Lu Xun menyerang dan kalah, akibatnya akan fatal. Kesimpulannya, menurut Lu Xun, mereka sekarang harus diam tak bergerak. Pasukan Liu Bei berkemah di daerah perbukitan. Bila menunggu mereka untuk sementara waktu, daerah perbukitan akan membuat pasukan Liu Bei lelah. Saat itulah Lu Xun akan memikirkan cara lain.

Apa reaksi dari jenderal-jenderal Wu? Banyak yang menertawakan Lu Xun. Mereka menganggap Lu Xun si kutu buku pengecut, tak berani berperang. Di dalam benak mereka, citra Lu Xun masih sebagai kutu buku. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mendongkol dan menerima perintah. Dan saat itu, Lu Xun memerintahkan pasukan untuk mundur. Ia memberikan daerah perbukitan di sana kepada pasukan Liu Bei. Pasukan Liu Bei otomatis pun maju. Melihat pasukan Lu Xun tak bergerak, maka Liu Bei memerintahkan satu jenderal untuk membawa pasukan berkemah di tanah lapang. Melihat ini, jenderal-jenderal Wu kembali meminta Lu Xun untuk menyerang, sebab pasukan Liu Bei sudah ada yang berkemah di tanah lapang, bukankah sudah bisa diserang? Lu Xun tetap bersikeras untuk tidak menyerang. Menurut Lu Xun, ini pasti taktik dari Liu Bei. Dan memang benar, karena Lu Xun tetap tak bergerak, pasukan penyergap yang disiapkan Liu Bei di perbukitan pun turun menyerang. Saat inilah, para jenderal Wu baru mengakui bahwa keputusan Lu Xun benar.

Keadaan seperti ini berlangsung terus hingga bulan keenam. Barulah Lu Xun memerintahkan untuk menyerang Liu Bei. Saat ini, para jenderal Wu kembali protes. Mereka menganggap, saat yang tepat untuk menyerang mestinya adalah ketika pasukan Liu Bei baru tiba, karena waktu itu mereka masih belum beradaptasi dan belum siap. Lu Xun menjawab, “Dulu saya putuskan kita tidak menyerang, karena Liu Bei adalah orang yang licik dan berpengalaman, ditambah pasukan sedang bermoral tinggi, kita tak mungkin menang jika langsung menyerang saat itu juga. Setelah beberapa bulan, saya lihat Liu Bei juga tak punya taktik lain lagi. Para bawahannya sudah lelah. Cuaca semakin panas. Suplai makanan semakin tidak cukup. Moral sudah semakin turun. Saat ini adalah saat paling tepat untuk menyerang.”

Meski demikian, Lu Xun tetap sabar dan berhati-hati. Ia tidak langsung menyerang secara besar-besaran. Ia mengutus satu pasukan untuk menyerang satu perkemahan Liu Bei. Akhirnya mereka ternyata kalah. Para jenderal Wu kembali mengomel, “Lihat, kami kan sudah bilang jangan menyerang, akhirnya kalah juga kan. Sia-sia.” Lu Xun menjawab, “Tidak sia-sia. Saya sekarang sudah tahu bagaimana caranya mengalahkan mereka.”

Di manakah letak kelemahan Liu Bei? Perkemahan mereka yang bersambung hingga 700 li. Cara berkemah seperti ini, ketika tersiar sampai ke Cao Pi, Cao Pi langsung berkata, Liu Bei tak bisa berperang. Bagaimana bisa berkemah dengan cara seperti ini? Cao Pi memperkirakan, berita kemenangan dari Sun Quan pasti akan segera tiba. Satu hal lagi yang dilihat oleh Lu Xun adalah bahwa pasukan air Liu Bei telah berpindah ke daratan. Dulu Lu Xun pernah menyurati Sun Quan dan mengatakan ia paling takut dengan serangan gabungan pasukan air dan darat dari Liu Bei. Sekarang pasukan air Liu Bei sudah berubah menjadi pasukan darat, ditambah lagi mereka berkemah bersambung-sambung 700 li.

Lu Xun menemukan cara. Ia memerintahkan masing-masing prajurit membawa satu obor jerami, lalu menyerang. Saat menyerang, nyalakan api. Satu pasukan dikirim sebagai uji coba. Berhasil. Lu Xun langsung memerintahkan semua pasukan menyerang dengan cara yang sama. Api membakar empat puluh perkemahan pasukan Liu Bei, sambung menyambung. Liu Bei tak sanggup membalas. Ia hanya bisa melarikan diri. Mereka mundur ke Gunung Ma’an. Lu Xun memerintahkan pasukan mengepung Gunung Ma’an. Liu Bei kalah total. Ia bersama beberapa bawahan lari kembali ke kota Baidi. Ia mengeluh, tak menyangka bisa kalah dan dipermalukan oleh anak kecil bernama Lu Xun. Ternyata Liu Bei terlalu meremehkan Lu Xun. Liu Bei sama seperti Guan Yu, sama-sama menganggap Lu Xun adalah kutu buku. Mereka tak tahu, Lu Xun bukanlah kutu buku. Lu Xun adalah jenderal Konfusian.

Kemenangan Lu Xun bukanlah kebetulan, tetapi melalui rencana yang baik. Beberapa faktor keberhasilan Lu Xun adalah: (1) Sangat menghargai dan bertekad tinggi. Sebelum perang, Lu Xun sempat menyurati Sun Quan dan berkata bahwa Yiling dan Xiaoting adalah pintu masuk Wu. Mereka tidak boleh sampai kehilangan Yiling dan Xiaoting. Bila Yiling dan Xiaoting sampai jatuh, seluruh Jingzhou dalam bahaya. Maka perang ini hanya boleh menang, tidak boleh sampai kalah.

(2) Memahami diri sendiri dan memahami lawan, memiliki rencana yang matang. Ia tahu pasukan Liu Bei baru menempuh perjalanan jauh, kondisi fisik tidak segar. Liu Bei sendiri meski berpengalaman, tapi selama ini dalam berperang lebih banyak kalah, sehingga ia bukan orang yang mahir dalam berperang. Dan Liu Bei membuat kesalahan besar dengan mengubah pasukan airnya menjadi pasukan darat.

(3) Tidak gegabah dalam bertindak, sabar menunggu lawan membuat kesalahan. Faktor terbesar mengapa Liu Bei bisa kalah, adalah karena Liu Bei gegabah dan terburu nafsu, sedangkan Lu Xun tenang dan sabar. Di awal perang, Liu Bei pernah mengepung pasukan dari Sun Huan di Yidao. Sun Huan masih berhubungan relasi keponakan dengan Sun Quan. Tetapi Lu Xun tidak membantu Sun Huan. Menurut Lu Xun, Sun Huan masih mampu menahan, dan daerah Yidao mudah untuk bertahan. Dan memang benar, setelah serangan api Lu Xun berhasil, kepungan terhadap Sun Huan pun otomatis mundur. Setelah kejadian ini, Sun Huan menemui Lu Xun dan berkata, “Waktu itu Anda tidak mengirim bantuan, saya sempat merasa jengkel. Namun sekarang saya baru tahu, ternyata Anda adalah pemimpin yang hebat.” Keputusan Lu Xun ini sangat beresiko. Jika Sun Huan sampai kalah, bagaimana ia harus menghadapi Sun Quan? Tetapi ini menunjukkan ketenangan Lu Xun yang luar biasa dalam bertindak.

(4) Menahan diri atas hinaan, mengutamakan kepentingan bersama. Kita tahu Lu Xun bukan orang terkenal. Tetapi ia harus memimpin banyak jenderal yang senior dan berpengalaman. Mereka awalnya tak mau mendengarkan Lu Xun. Pernah satu kali Lu Xun memimpin rapat, memanggil semua jenderal. Ia berdiri sambil memegang pedang dan berkata, “Liu Bei adalah pahlawan licik, bukan lawan yang mudah. Saat ini tuanku Sun Quan memberikan tugas yang berat ini kepada kita, setiap dari kita harus bersatu. Sama-sama bangkit melawan musuh yang berat ini. Pelanggaran atas perintah akan mendapatkan hukuman yang berat. Mohon semua dapat memberikan yang terbaik.” Setelah mendengar petuah seperti ini, barulah para jenderal itu mulai mendengarkan Lu Xun. Belakangan, Sun Quan pernah bertanya kepada Lu Xun, “Para jenderal itu tak mau dengar perintahmu, mengapa engkau tidak lapor kepada saya?” Lu Xun menjawab, “Para jenderal ini adalah pilar negara. Mereka adalah orang-orang yang akan menjadi sandaran bagi tuanku di masa depan. Hamba sendiri sebenarnya tak punya kemampuan apa-apa. Hanya ada satu hal yang saya mampu, yaitu menahan diri atas hinaan. Saya meski orang yang bodoh, tapi paling tidak saya pernah mendengar kisah Lin Xiangru. Saya tahu kepentingan umum adalah yang paling utama. Kita harus bersatu dan memiliki tekad yang sama.”

Kekalahan Liu Bei ini bisa dikatakan juga merupakan kekalahan yang sangat cepat. Menderita kekalahan dan pukulan yang begitu besar, Liu Bei jatuh sakit. Dia mengerti, perjalanan hidupnya sebagai pahlawan kini mendekati akhir. Tetapi negara Shu Han yang ia dirikan, masih harus terus berjalan. Ia juga mengerti, yang akan menggantikan posisinya adalah anak sulungnya, Liu Shan. Liu Shan sekarang baru berumur 17 tahun. Harus ada orang yang kuat untuk mendampinginya. Pertanyaannya, apakah orang ini sanggup mengemban amanat yang dipercayakan Liu Bei? Bagaimana Liu Bei harus memberikan amanat tersebut sehingga Liu Shan mendapat dukungan yang kuat, serta negara Shu dapat terus berdiri? Nantikan episode berikutnya.

By SYOwn work, CC BY-SA 4.0, Link

 

 

 

There is 1 comment for this article
  1. Pingback: Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (36 – 永安托孤/Menitipkan Putra di Yong'an) | Belajar Seputar Budaya Tionghoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *