Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (39 – 痛失臂膀/Kehilangan Lengan)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (39 – 痛失臂膀/Kehilangan Lengan)

Zhuge Liang menangis saat menghukum mati Ma Su, adalah kisah yang sudah tak asing bagi pembaca Roman Tiga Negara. Lalu kenapa harus dibahas lagi?

Karena di dalamnya ada banyak masalah yang perlu dijelaskan.

Pertama, apakah Ma Su memang dibunuh Zhuge Liang? Ini ternyata tidak jelas. Ini yang terdapat pada Records of the Three Kingdoms. Mengapa? Karena di sana Ma Su tidak memiliki catatan biografi. Akhir hidup Ma Su hanya bisa dilihat pada catatan biografi orang lain. Pada Records of the Three Kingdoms di bagian biografi Zhuge Liang, dicatat bahwa Ma Su dibunuh Zhuge Liang. Hal ini ditemukan lagi pada bagian biografi Wang Ping, yang juga mencatat bahwa Ma Su dibunuh oleh Zhuge Liang. Namun pada bagian biografi Ma Liang, dicatat bahwa Ma Su dihukum penjara, lalu meninggal di penjara. Mendengar berita bahwa Ma Su meninggal, Zhuge Liang menangis. Sedangkan pada bagian biografi Xiang Lang, dicatat bahwa Ma Su melarikan diri.

Maka ada tiga versi ending dari Ma Su: (1) dibunuh, (2) sakit lalu mati, (3) melarikan diri. Dan tiga versi ini dicatat oleh satu orang di satu buku yang sama, yaitu Records of the Three Kingdoms.

Di sini prof. Yi kembali menegaskan, bahwa yang disajikan dalam pembahasan ini adalah citra dari sejarah, bukan kenyataan dari sejarah.

Kita sebenarnya bisa juga menyatukan ketiga versi ini. Kira-kira demikian: Ma Su setelah kehilangan Jieting, karena merasa bersalah, ia pun melarikan diri. Sampai di sini Xiang Lang tidak mengetahui Ma Su lari ke mana. Beberapa saat kemudian mungkin Ma Su tertangkap, lalu terbukti bersalah dan dipenjara, menunggu hukuman mati. Sebelum dihukum mati, ia mati di penjara. Ada kemungkinan seperti ini, bila kita merangkum ketiga versi ini menjadi satu.

Dengan kata lain, Zhuge Liang memang menangis saat menghukum mati Ma Su.

Sehingga, akan muncul pertanyaan berikutnya: Apakah Ma Su memang harus dibunuh? Zhuge Liang apakah ingin membunuh Ma Su? Mengapa Zhuge Liang harus membunuh Ma Su? Zhuge Liang membunuh Ma Su mengapa harus menangis?

Apakah Ma Su memang harus dibunuh? Menurut prof. Yi, boleh iya, boleh tidak. Mengapa boleh dibunuh? Karena memang Ma Su kehilangan Jieting. Kegagalan ini menyebabkan ekspedisi ke utara yang pertama menjadi sia-sia. Padahal ekspedisi kali itu mungkin meraih hasil yang baik. Sebab saat Zhuge Liang mengerahkan pasukan, Wei tidak siap. Maka di awal ekspedisi, semua berjalan lancar. Bahkan ada tiga jun milik Wei yang menyerah kepada Zhuge Liang. Jelas dalam kondisi seperti ini, bila serangan terus dilancarkan, Zhuge Liang akan mendapatkan wilayah yang lebih besar. Namun apa daya, Ma Su membuat kesalahan. Di sini kita melihat memang Ma Su pantas dihukum berat.

Namun di sisi lain, kesalahan yang dilakukan Ma Su bukankah juga dapat dilakukan oleh orang lain? Bukankah berbuat salah dalam peperangan itu biasa? Tentu tak mungkin setiap jenderal yang kalah perang harus dihukum mati, karena sudah pasti akan banyak jenderal yang harus dihukum mati, yang akan merugikan negara itu sendiri. Inilah yang menyebabkan seorang ahli sejarah dinasti Jin, yaitu Xi Zaochi, berkata bahwa Zhuge Liang tak mungkin bisa mengalahkan Wei, sebab Zhuge Liang membunuh anak buahnya yang bertalenta. Sudah tahu orang di Shu tidak banyak, kenapa masih harus dibunuh? Bukankah ini menguntungkan musuh? Lagipula, bentuk hukuman juga harusnya bermacam-macam, tidak harus hukuman mati. Mengapa harus dihukum mati?

Apakah Zhuge Liang ingin membunuh Ma Su? Menurut prof. Yi, jawabannya tidak. Apa buktinya? Zhuge Liang menangis. Lalu mengapa Zhuge Liang tidak ingin membunuh Ma Su? Pertama, Ma Su adalah orang kepercayaan yang sangat dekat dengannya. Ma Su adalah adik dari Ma Liang. Ma Liang lima bersaudara, semuanya bertalenta. Ma Liang sudah sejak lama ikut Liu Bei. Hubungan Ma Liang dengan Zhuge Liang sangat baik, bagaikan saudara sendiri. Demikian pula antara Zhuge Liang dengan Ma Su. Ma Su pernah menulis surat yang mengatakan bahwa Zhuge Liang memperlakukan dia seperti anak sendiri, dan dia menganggap Zhuge Liang seperti ayah sendiri. Maka Zhuge Liang di mata Ma Su adalah abang yang bagaikan ayah sendiri. Kedua, Ma Su orang yang bertalenta. Zhuge Liang sangat respek terhadap Ma Su. Ia sering berdiskusi seharian dengan Ma Su. Kita tahu Zhuge Liang adalah orang yang mengurusi banyak sekali hal. Apalagi cara kerja Zhuge Liang yang melakukan segala sesuatu sendiri. Bisa kita bayangkan betapa sibuknya. Mengapa ia bisa ngobrol dengan Ma Su hingga seharian? Ini menunjukkan bahwa dalam diskusi itu Ma Su memiliki pandangan atau ide yang sangat berharga. Juga dicatat, saat Zhuge Liang melakukan ekspedisi ke selatan, Ma Su mengantarkan Zhuge Liang hingga cukup jauh. Saat hendak berpisah, Zhuge Liang meminta Ma Su memberikan saran terakhir. Ma Su berkata, untuk menaklukkan para pemimpin di selatan, harus dengan cara moral, bukan dengan kekerasan. Zhuge Liang mengikuti saran tersebut. Terbukti dari peristiwa tujuh kali menangkap Meng Huo, hingga akhirnya Meng Huo menyerah. Ketiga, Ma Su dihormati banyak orang. Tercatat ketika Ma Su meninggal, ada seratus ribu orang menangisi kematiannya. Bukan hanya Zhuge Liang seorang diri.

Jika memang demikian, mengapa Zhuge Liang harus membunuh Ma Su? Pertanyaan ini juga ditanyakan oleh Jiang Wan. Di kala perjuangan negara belum selesai, membunuh orang yang hebat seperti Ma Su, bukankah hal yang sangat disayangkan? Apa jawaban Zhuge Liang? Zhuge Liang menangis dan berkata, “Mengapa Sun Wu di zaman dulu selalu menang perang? Karena disiplin militer yang ketat. Saat ini dunia sedang kacau, negara terpecah belah, peperangan tidak dapat selesai dalam waktu satu dua hari. Dalam situasi seperti ini, bila kita tidak menegakkan disiplin, apa lagi yang dapat kita andalkan untuk mengalahkan musuh?” Dari sini kita bisa simpulkan, Zhuge Liang membunuh Ma Su adalah demi memerintah Shu dengan hukum. Pemikiran memerintah dengan hukum ini adalah pemikiran yang penting dari Zhuge Liang. Dan oleh karena inilah Zhuge Liang menjadi teladan bagi generasi-generasi berikutnya. Apa yang dapat kita teladani dari Zhuge Liang? Pertama, diri Zhuge Liang pun tidak kebal dari hukum. Ketika menghukum mati Ma Su, Zhuge Liang juga mengajukan kepada raja untuk menghukum dirinya dengan menurunkan pangkatnya. Pengajuan ini disetujui oleh Liu Shan, dan pangkat Zhuge Liang diturunkan menjadi Jenderal Kanan. Namun Zhuge Liang tetap menjadi pelaksana tugas perdana menteri. Sehingga ada orang yang mengkritik Zhuge Liang membuat pencitraan semata. Menurut prof. Yi, orang seperti ini tidak mengerti politik dan tidak mengerti sejarah. Politik kuno Tiongkok menganut paham Konfusianisme. Di dalam Konfusianisme terdapat hal yang prinsip, juga terdapat hal yang fleksibel. Kedua, berani mengakui kesalahan. Di dalam surat evaluasi atas kegagalan ekspedisi pertama, Zhuge Liang menulis bahwa seluruh tanggung jawab ada pada dirinya, termasuk Ma Su kehilangan Jieting, dan kesalahan Zhao Yun di Jigu. Zhuge Liang juga menulis bahwa kunci dari kegagalan kali ini adalah dirinya salah memakai orang. Untuk ekspedisi berikutnya, ia menetapkan bahwa kegagalan ditanggung oleh pimpinan ekspedisi. Dan terakhir ia menulis akan memperbaiki ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Ini terbukti pada beberapa kali ekspedisi ke utara berikutnya, Zhuge Liang sendiri yang memimpin di garis depan.

Di dunia ini tidak orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Yang membuat orang menjadi agung adalah keberaniannya mengakui kesalahan dan memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam hal ini, Cao Cao dan Zhuge Liang adalah contoh orang seperti itu.

Zhuge Liang juga menetapkan aturan hukuman dan imbalan yang jelas. Ma Su menurut aturan yang telah ditetapkan memang harus dihukum mati. Zhao Yun yang juga melakukan kesalahan di Jigu, tidak sefatal kesalahan Ma Su, sehingga tidak dihukum mati, tetapi diturunkan pangkatnya. Wang Ping selaku bawahan Ma Su, selama menemani Ma Su di Jieting, terus memberikan saran, melakukan segala upaya untuk mempertahankan pasukan. Ia tidak dihukum, tetapi diberi imbalan naik pangkat. Ia adalah satu-satunya dalam perang kali ini yang tidak dihukum. Zhuge Liang sendiri selaku pengemban tanggung jawab keseluruhan, dihukum dengan turun pangkat juga. Maka hukum di pemerintahan Zhuge Liang sangatlah jelas dan transparan.

Bila semuanya jelas seperti ini, dan memang Ma Su perlu dihukum mati, lalu mengapa Zhuge Liang harus menangis?

Menurut Mr. Chen Erdong, ada empat alasan Zhuge Liang menangis: (1) menyayangkan kematian Ma Su, (2) berduka atas kematian bawahan, (3) benci diri sendiri, (4) rindu pada Liu Bei. Mengapa harus benci diri sendiri dan rindu Liu Bei? Karena Liu Bei pernah berpesan, Ma Su adalah orang yang suka omong besar. Ia tak bisa mengemban tanggung jawab yang besar. Pesan Liu Bei ini tidak diperhatikan, sehingga pada akhirnya salah menggunakan orang. Mr. Yan Leng memberikan satu alasan, mengapa Zhuge Liang menghukum mati Ma Su? Menilik catatan di Records of the Three Kingdoms, alasannya adalah untuk meredakan amarah publik. Mengapa meredakan amarah publik? Karena Zhuge Liang memberi tanggung jawab besar kepada Ma Su adalah sebuah pelanggaran terhadap amanat publik. Saat merundingkan siapa yang patut diangkat sebagai pemimpin pasukan, muncul dua pilihan, yaitu Wei Yan dan Wu Yi. Tetapi Zhuge Liang tidak memilih mereka, ia malah memilih Ma Su. Ini adalah hak Zhuge Liang sebagai perdana menteri, sehingga publik pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang Ma Su terbukti gagal, bagaimana pertanggungjawaban Zhuge Liang? Ditambah lagi, Wei Yan adalah orang yang disukai oleh Liu Bei. Demikian pula dengan Wu Yi, yang adalah saudara dari permaisuri. Sedangkan Ma Su? Liu Bei tidak menganjurkan dia. Maka Zhuge Liang dalam hal ini telah melanggar amanat Liu Bei, sekaligus melanggar amanat publik.

Prof. Yi setuju sebagian pendapat Mr. Yan Leng. Namun ada bagian yang tidak sepenuhnya setuju. Prof. Yi setuju dengan alur pemikiran Mr. Yan Leng, yaitu Zhuge Liang menangisi Ma Su bukanlah murni masalah hukum, namun yang lebih penting adalah merupakan masalah politik. Ini sama dengan kejadian memecat Li Yan, yang juga merupakan masalah politik. Masalah politik apa? Ketika Zhuge Liang menerima pemerintahan Shu, kondisi internal pemerintahan sangat tidak stabil. Kita tahu pemerintahan Shu sangat unik, karena tersusun dari tiga kekuatan. Kekuatan pertama adalah kelompok dari Jingzhou yang dibawa oleh Liu Bei. Kubu ini memiliki posisi teratas di pemerintahan Shu. Kekuatan kedua adalah kubu peninggalan Liu Zhang. Kita menyebut kubu ini sebagai kubu Dongzhou. Mereka berada di posisi tengah di pemerintahan Shu. Kekuatan ketiga adalah kubu asli Yizhou. Mereka berada di posisi bawah di pemerintahan Shu. Struktur semacam ini tidak stabil. Dua lapisan terbawah pasti punya perasaan tidak senang. Terlebih lagi ketika Liu Bei meninggal, situasi saat itu sedang kalah perang. Ini keadaan yang sangat sulit bagi perdana menteri, yaitu Zhuge Liang. Zhuge Liang pun menjalankan kebijakan memerintah dengan hukum. Semua berkedudukan sama di bawah hukum. Sehingga Zhuge Liang pun harus menghukum mati Ma Su, karena Ma Su memang bersalah, meskipun ia sangat sayang Ma Su.

Terbukti, dengan dua pukulan keras ini, yaitu melenyapkan Li Yan dan menghukum mati Ma Su, gejolak pemerintahan internal Shu pun menjadi reda. Tetapi, tenangnya pohon bukan berarti angin tidak bertiup. Permasalahan mendasar di pemerintahan Shu tetap tak pernah selesai. Maka di bulan delapan tahun 12 Jianxing, setelah Zhuge Liang meninggal, dua orang kelompok Jingzhou pun berseteru. Bahkan perseteruan mereka begitu hebat hingga keduanya sama-sama kalah. Ini memunculkan pemberontakan Wei Yan. Kita juga sudah cukup mengetahui kisah pemberontakan Wei Yan ini. Tetapi, apakah memang benar Wei Yan memberontak? Ada apa di balik pemberontakan Wei Yan? Nantikan di episode selanjutnya.

 

There is 1 comment for this article
  1. Choirul Huda at 5:15 pm

    terima kasih pak, udah memberi pencerahan terkait ma xu yang di novel disebut liu bei sebelom mangkat terlalu menang nama. sima yi malah bilang reputaai kosong. ga sabar nunggu eps depan terkait wei yan, salah satu jend shu favorit saya, yg sayangnya di novel jadi kambing hitam. padahal wei yan tangguh, kesayangan liu bei dan akrab dengan zhang fei. tapi aneh zjuge liang kenapa benci? berhara0 pencerahannya, baik dari novek sgyy atau sejarah sgz. terima kasih.

Leave a Reply to Choirul Huda Cancel comment reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *