Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (44 – 坐断东南/Mempertahankan Tenggara)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (44 – 坐断东南/Mempertahankan Tenggara)

Di akhir episode yang lalu, prof. Yi melontarkan pertanyaan, mengapa orang-orang seperti Zhou Yu dan Lu Su menganggap Sun Quan layak untuk dipilih? Menurut prof. Yi, jawabannya adalah karena Sun Quan memang memiliki karakter pemimpin. Sun Quan memang adalah orang yang layak untuk diandalkan. Sun Quan merupakan tokoh luar biasa dalam era Tiga Kerajaan. Xin Qiji pun pernah menulis memuji Sun Quan.

Namun kita harus tahu bahwa Sun Quan melalui jalan yang tidak mudah. Di antara Wei, Shu, dan Wu, Sun Quan adalah yang terakhir mengangkat diri menjadi kaisar, bahkan itu telah tertunda 8-9 tahun. Sun Quan juga dua kali tidak mengambil kesempatan mengangkat diri menjadi kaisar. Apakah Sun Quan tidak berminat?

Bukan.

Apakah Sun Quan tak mampu?

Bukan juga.

Pada bulan ke-10 tahun ke-25 Jian’an, Cao Pi mengangkat diri menjadi kaisar. Setengah tahun kemudian, Liu Bei mengangkat diri menjadi kaisar. Saat itu, bukankah Sun Quan bisa saja ikut-ikutan? Bukankah dinasti Han sudah tak ada lagi? Apalagi, jika ia tidak menjadikan diri kaisar, maka ia adalah bawahan kaisar. Sudah ada dua kaisar, Sun Quan menjadi bawahan kaisar yang mana? Sun Quan memilih menjadi bawahan Cao Pi. Ini adalah kali pertama Sun Quan melepaskan kesempatan menjadi kaisar.

Kali kedua adalah pada tahun keempat pemerintahan Cao Pi. Para bawahan Sun Quan mendesak Sun Quan untuk menjadi kaisar. Sun Quan tidak mau. Tentu di tradisi zaman dulu, menolak menjadi raja merupakan norma yang berlaku. Ini semacam ‘tata krama’ pada saat itu, untuk tidak langsung menerima rekomendasi orang lain agar diri menjadi kaisar. Namun setelah menolak, biasanya setelah didesak lagi, mereka akan menerima. Menolak tersebut hanyalah tata krama, basa-basi. Namun Sun Quan benar-benar menolak. Mengapa?

Sun Quan berkata, “Dinasti Han sudah jadi hancur seperti sekarang ini. Saya merasa sangat malu, tak mampu berbuat apa-apa untuk dinasti Han. Mana bisa saya mengangkat diri jadi kaisar?”

Apakah Anda percaya?

Tentu tidak.

Maka para bawahannya terus mendesak Sun Quan.

Sun Quan menjawab, “Dulu ketika saya berkesempatan menjadi kaisar, waktu itu Liu Bei menyerang kita, maka kita perlu dukungan Wei. Jika kita tidak tunduk kepada Wei, maka Wei juga akan menyerang kita. Bukankah kita jadi diserang dari dua arah?”

Jawaban ini benar. Namun ini hanya menjelaskan mengapa Sun Quan melepaskan kesempatan menjadi kaisar waktu itu. Tapi tidak menjelaskan mengapa ia masih tidak mau menjadi kaisar sekarang.

Dan setelah Liu Bei kalah oleh Lu Xun di Yiling, Sun Quan pun tidak lagi menaruh hormat pada Cao Pi. Sehingga Wei pun ganti menyerang Wu. Saat itu Sun Quan mempertahankan wilayah Wu dan memutus hubungan dengan Wei.

Tak lama kemudian Liu Bei meninggal. Dan saat inilah pada bawahan Sun Quan mendesaknya untuk menjadi kaisar.

Mengapa Sun Quan tak mau?

Sebenarnya alasannya sederhana saja. Dulu Sun Quan berseteru dengan Liu Bei, namun menjalin hubungan dengan Cao Pi. Bagaimana sekarang? Ia berseteru dengan kedua belah pihak. Jelas Sun Quan tidak berani mengangkat diri menjadi kaisar. Bukankah kondisi sekarang lebih tidak aman?

Dan separuh pertama hidup Sun Quan memang tidak ada rasa aman. Tidak aman adalah masalah paling besar dalam pemerintahan Sun Quan. Pada saat Sun Quan tunduk kepada Cao Pi, ia memperingatkan para bawahannya untuk selalu waspada.

Ia selalu merasa terjepit di antara Shu dan Wei. Selalu merasa diri tidak aman. Namun ia juga tidak bisa berkawan dengan mereka. Lalu bagaimana? Cara Sun Quan adalah dengan menjaga hubungan Wu dengan yang lain dalam batas seteru namun tidak terlalu berseteru.

Ketika Sun Quan berseteru dengan Cao Pi, Sun Quan mengubah nama tahun pemerintahannya menjadi huangwu, yang merupakan gabungan dari huangchu (nama tahun pemerintahan Cao Pi) serta zhangwu (nama tahun pemerintahan Liu Bei). Mr. Jian Bozan menilai Cao Cao adalah orang yang mengenakan jubah kaisar seperti baju dalam. Cao Cao sebenarnya sudah seperti kaisar, namun ia menyembunyikan baju kaisar di balik baju perdana menteri. Maka seperti analogi Mr. Jian ini, prof. Yi menggunakan analogi yang sama untuk menggambarkan Liu Bei dan Sun Quan. Liu Bei adalah orang yang menganggap baju biasa sebagai jubah kaisar, sebab ia memang tidak punya jubah kaisar, tak punya kekuasaan cukup untuk itu. Bagaimana dengan Sun Quan? Sebenarnya Sun Quan sama dengan Liu Bei, tak punya jubah kaisar, ia juga mengenakan baju biasa sebagai jubah kaisar. Namun berbeda dengan Liu Bei, Sun Quan mengenakannya secara terbalik.

Sun Quan adalah orang yang mampu mengontrol emosi dengan baik. Seorang di dinasti Jin bernama Fu Xuan, memberikan penilaiannya terhadap Sun Ce dan Sun Quan: Sun Ce adalah orang yang berani melakukan apa pun. Sedangkan Sun Quan adalah orang yang tidak sembarangan mengerahkan pasukan. Ia selalu melihat kesempatan. Bila ada kesempatan untuk menyerang, barulah ia menyerang. Sehingga Sun Quan hampir tak pernah kalah perang. Meskipun tak menang pun, ia akan berakhir dengan hasil imbang. Contoh yang paling jelas adalah ketika pertempuran Chibi.

Kunci dari pertempuran Chibi adalah aliansi Sun Quan dan Liu Bei. Kalau mereka tidak menjalin aliansi, Chibi pasti akan berakhir lain. Siapakah yang mendorong terciptanya aliansi ini? Biasanya orang yang membaca Romance of the Three Kingdoms akan menjawab, Zhuge Liang. Orang yang membaca Records of the Three Kingdoms akan menjawab, Lu Su. Namun sebenarnya, orang yang mendorong aliansi ini sesungguhnya adalah Sun Quan. Kita tahu waktu itu kekuatan Liu Bei sangatlah kecil, sama sekali tak mampu melawan Cao Cao. Satu-satunya jalan keluar bagi Liu Bei adalah menjalin aliansi dengan Sun Quan. Tetapi yang memutuskan aliansi ini terbentuk, tentu bukan Liu Bei, sebab Liu Bei adalah pihak yang lebih lemah. Aliansi kuat dan lemah tentu ditentukan oleh yang kuat. Lalu siapakah yang memutuskan di kubu Sun Quan? Tentu saja Sun Quan.

Bahkan jika kita melihat ke belakang, Sun Quan sejak awal sudah memutuskan untuk menjalin aliansi ini. Sebelum Lu Su, Zhou Yu dan Zhuge Liang mendesak Sun Quan, Sun Quan sudah punya keputusan. Ketika Zhou Yu menemui Sun Quan di malam itu, apa kata Sun Quan? Sun Quan berkata, “Pendapat dari Zhang Zhao dan kawan-kawan membuat aku kecewa. Tetapi saran dari Anda dan Lu Su sama dengan yang ada di pikiranku. Anda memerlukan 50.000 prajurit, aku tak mampu menyediakan, tapi aku sudah menyediakan 30.000 prajurit veteran, lengkap dengan perahu, senjata dan perlengkapannya, dapat berangkat sewaktu-waktu.” Bukankah ini menunjukkan bahwa Sun Quan sejak awal sudah siap? Sejak awal Sun Quan memang ingin melawan Cao Cao. Hanya saja, Sun Quan tidak mengatakannya terang-terangan. Sun Quan berpura-pura seolah-olah tak punya pendirian. Waktu itu Sun Quan berusia 26 tahun. Ia minta saran ke sana kemari. Ia memimpin rapat. Zhang Zhao menyarankan menyerah. Lu Su bilang tak boleh menyerah. Tapi ini tak cukup, ia minta saran kepada Zhou Yu. Belum cukup juga, ia mendengarkan saran Zhuge Liang. Seolah-olah hanya menerima saran orang lain. Namun Sun Quan sebenarnya tahu betul, hal yang sangat sangat penting seperti ini, harus mempersilakan orang lain bicara lebih dulu. Pada akhirnya orang-orang tersebut menyatakan melawan Cao Cao, barulah Sun Quan setuju dan menyuruh mereka melakukan apa yang mereka sarankan. Bayangkan jika Sun Quan dari awal langsung terang-terangan memutuskan untuk perang, bisa jadi ada orang yang tidak setuju. Dengan seolah mundur dan tidak berpendirian, Sun Quan sebenarnya sedang menyatukan pendapat dan persepsi para bawahannya. Bukankah ini menunjukkan Sun Quan pemimpin yang hebat?

Sun Quan juga tak takut dengan munculnya bermacam-macam pendapat. Ada yang bilang menyerah, ada yang menyarankan perang. Sun Quan tak takut. Justru dengan keluarnya semua pendapat dari para bawahannya, Sun Quan memiliki gambaran jelas mengenai masing-masing bawahannya itu. Sun Quan juga tenang dan tak tergesa-gesa. Ia adalah orang yang mampu mengontrol emosi.

Sun Quan juga adalah orang yang dapat mengubah-ubah ‘wajah’nya. Sun Quan awalnya menjalin aliansi dengan Liu Bei, bahkan memberikan adiknya kepada Liu Bei, namun tak lama kemudian ia menyerang Liu Bei. Sun Quan awalnya berseteru dengan Cao Cao, yang ditunjukkan di perang Chibi, tapi kemudian menjalin aliansi lewat pernikahan. Ketika Cao Cao menyerang, ia melawan di Chibi. Namun kemudian Cao Cao hendak menyerang Ruijian, Sun Quan malah menyerah. Ketika Guan Yu mengguncang utara, ia menyerang diam-diam. Ketika Liu Bei kalah di Yiling, Sun Quan mengutus orang untuk berdamai kembali.

Ini juga menunjukkan Sun Quan mengerti politik. Siapa lawan? Wei adalah lawan. Siapa kawan? Liu Bei. Masalahnya, Wei terlalu kuat, sedangkan Shu tak dapat diandalkan. Maka Sun Quan pun menyesuaikan diri. Jika Wei menjadi kuat, ia menjalin aliansi dengan Liu Bei. Jika Liu Bei mulai kuat, ia menjalin aliansi dengan Wei. Sun Quan bagaikan anak timbangan yang selalu menyeimbangkan keadaan.

Sun Quan juga orang yang mampu merendah. Sun Quan merendah ketika menyatakan menjadi bawahan Wei. Banyak orang mengkritik sikap Sun Quan saat itu, bahkan termasuk bawahannya sendiri. Bukankah seharusnya Sun Quan teguh dengan pendiriannya bahwa ia adalah menteri Han, bukan pengikut pengkhianat Han? Menurut prof. Yi, kritik seperti ini tidak tepat.

Memang, sebagai seorang individu, kita harus memiliki pendirian yang kuat. Tetapi sebagai seorang pemimpin, ia tidak bisa seperti itu. Ia harus memikirkan negara. Ia harus memikirkan masa depan. Zhuge Liang pun tahu hal ini. Ketika Sun Quan mengangkat diri menjadi kaisar, ia mengirim utusan ke Shu, untuk menegaskan bahwa mereka mengakui ‘dua kaisar’. Artinya, Wu mengakui Liu Shan sebagai kaisar, dan berharap juga Shu mengakui Sun Quan sebagai kaisar. Dua kaisar dalam satu tianxia. Dan tentu mereka berdua tidak mengakui kaisar Wei. Bagaimana tanggapan Shu? Para pejabat Shu menolak hal ini. Mana mungkin ada dua penguasa tianxia? Namun Zhuge Liang memutuskan untuk juga mengakui Sun Quan sebagai kaisar. Shu tak boleh berseteru dengan Wu. Bahkan Zhuge Liang mengucapkan kalimat yang sangat brilian, “mempertimbangkan situasi dan kondisi, menyesuaikan waktu, berpikir jauh ke depan, mempertimbangkan kepentingan rakyat untuk jangka panjang.” Jadi jangan mementingkan pendirian atau gengsi yang sempit.

Namun, politik meskipun kadang memerlukan kompromi, tetapi tetap harus ada garis batasnya. Sun Quan pun tetap menjaga batas ini. Misalnya, ketika Wei berkali-kali meminta Sun Quan mengirimkan anak untuk dijadikan jaminan, Sun Quan tak pernah mau. Dan Sun Quan terang-terangan mengaku bahwa ia menjadi bawahan Wei sebenarnya bawahan palsu saja. Ketika Sun Quan menyatakan menjadi bawahan Cao Pi, ia mengutus Zhao Zi pergi ke Wei. Cao Pi bertanya kepada Zhao Zi, “Raja Wu itu orangnya seperti apa?”

Zhao Zi menjawab, “Cong ming ren zhi xiong lüe zhi zhu“.

Cao Pi merespon, “Apa benar segitu hebatnya?”

Zhao Zi menjawab, “Berhasil menemukan Lu Su dari kalangan rakyat biasa, ini adalah cong (pintar). Berhasil mengangkat Lü Meng, ini adalah ming (cerdas). Menangkap Yu Jin namun tidak membunuhnya, ini adalah ren (welas asih). Merebut Jingzhou tanpa perang, ini adalah zhi (bijak). Menguasai tiga zhou sambil bersiap menyatukan tianxia, ini adalah xiong (pahlawan). Merendahkan diri di hadapan paduka, ini adalah lüe (strategi).”

Bukankah sangat jelas? Raja Wu terang-terangan ingin menguasai tianxia, hanya sementara ini tunduk kepada Wei.

Sun Quan merendah, namun dalam merendah ia tetap mempertahankan wibawa.

Cao Pi adalah seorang cendekiawan, ia menulis buku Dianlun. Maka dia bertanya lagi kepada Zhao Zi, “Raja Wu kalian apakah cendekiawan juga?”

Zhao Zi menjawab, “Raja Wu kami suka membaca. Ia membaca banyak sekali buku. Tetapi yang dipikirkan oleh raja kami adalah tianxia. Maka ketika beliau membaca, beliau menangkap inti dari buku-buku tersebut. Beliau tidak membaca huruf demi huruf.”

Cao Pi merespon, “Menurutmu, saya bisa mengalahkan Wu atau tidak?”

Zhao Zi menjawab, “Paduka ingin mengalahkan Wu, tentu paduka punya kekuatan paduka sendiri. Namun kami Wu bila hendak bertahan, pun punya kemampuan untuk bertahan.”

Cao Pi bertanya, “Lalu apakah kalian takut kami?”

Zhao Zi menjawab, “Omongan macam apa ini? Di sepanjang Changjiang benteng dan kota, jutaan pahlawan dan cendekiawan bersatu hati, mengapa kami harus takut?”

Cao Pi tak bisa bicara lagi. Terakhir ia bertanya, “Orang bertalenta seperti Anda ini di Wu ada berapa banyak?”

Zhao Zi menjawab, “Yang lebih pintar ratusan kali dari saya kira-kira ada 80-an orang. Yang seperti saya ini, tak terhitung jumlahnya.”

Memang jika hanya bersilat lidah, tak ada artinya. Namun Sun Quan berkat mampu mengontrol emosi, mampu mengubah ‘wajah’, mampu merendah, dan mempertahankan wibawa, maka Sun Quan pun benar-benar berhasil.

Tahun 229, Sun Quan mengangkat diri menjadi kaisar di Wuchang. Nama tahun yang ia pakai adalah Huanglong. Perhatikan nama ini, dari Huangwu menjadi Huanglong (long berarti naga). Ini berarti si ikan telah menjadi naga.

Orang bertanya, mengapa saat ini baru menjadi kaisar?

Jawabannya sederhana. Waktu itu Cao Pi sudah meninggal. Ia sudah diganti oleh Cao Rui. Sun Quan tidak menganggap Cao Rui patut ditakuti. Menurut Sun Quan, yang paling hebat adalah Cao Cao. Cao Pi jauh lebih lemah dari Cao Cao. Apalagi Cao Rui. Sedangkan di Shu waktu itu yang memimpin adalah Zhuge Liang. Zhuge Liang berprinsip menggandeng Wu, sudah pasti dapat diandalkan. Kondisi sudah aman. Dan di dalam negeri sendiri, proses “Jiangdongisasi” pada dasarnya telah selesai. Lu Xun telah menjadi panglima, dan Gu Yong telah menjadi perdana menteri.

Tak hanya itu, bersama Shu, Wu sudah membagi wilayah Wei untuk mereka berdua.

Sun Quan tahu kondisi. Ia mula-mula bertahan, memperbaiki kondisi, baru bisa berhasil. Ia mulai dari rendah, menanjak naik. Sun Quan memiliki pesona individu, ia juga mampu memimpin, dan ia bisa memakai orang. Ini yang membedakan dia dengan pemimpin seperti Yuan Shao misalnya. Kita tahu Yuan Shao juga memiliki pesona individu, karena banyak orang hebat bergabung dengannya. Tetapi Yuan Shao gagal karena ia tak mampu memakai orang.

Lalu bagaimana cara Sun Quan memakai orang? Apa beda Sun Quan memakai orang dengan Cao Cao, Liu Bei atau Zhuge Liang? Nantikan di episode berikutnya.

Sumber gambar: https://finance.sina.cn/2021-10-22/detail-iktzscyy1131735.d.html?from=wap

There are 4 comments for this article
  1. Choirul Huda at 7:13 pm

    Sebagai pembaca blog ini sejak 2015, saya sangat terbantu dengan tulisan kisah tiga negara yang khas. ga terlalu condong ke Shu Han (Liu Bei), melainkan berimbang juga ke Wei dan kini Wu. Cuma, dari 7 tahun terakhir, kadang nunggu update blog ini ga tentu bisa bulanan lebih. Tapi, tetep nagih sih. Makasih om, atas info2nya…

  2. Iswara Putra at 1:31 pm

    Setiap minggu selalu ngecek blog ini untuk melihat kelanjutan ulasan tiga negara. Terima kasih sudah berbagi ilmu dan sudut pandang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.