Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (52 – 千古风流/Pesona Sepanjang Masa) (Tamat)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (52 – 千古风流/Pesona Sepanjang Masa) (Tamat)

Di episode sebelumnya, prof. Yi sudah membicarakan tentang kesamaan antara Zhuge Liang dan Cao Cao. Ini mudah menimbulkan ketidaksetujuan, karena umumnya orang menganggap mereka berdua bertolakbelakang.

Namun jika kita melihat citra sejarah, bukan citra sastra, serta mengesampingkan haluan kedua kubu, maka kedua orang ini memang memiliki kesamaan yang mengejutkan. Mr. Tian Yuqing ketika membahas sistem legalisme yang diterapkan Cao Cao, menyebutkan bahwa di dalam Tiga Negara, hanya Zhuge Liang seorang diri yang berpikiran sama dengan Cao Cao. Bahkan prof. Yi berani mengatakan, pemerintahan Zhuge Liang di Shu sebenarnya adalah jalur yang ditempuh Cao Cao tanpa Cao Cao.

Kita tahu bahwa yang hendak didirikan oleh Cao Cao adalah pemerintahan legalisme oleh keluarga non-shizu. Pemerintahan berdasarkan hukum, tetapi bukan oleh kelompok tuan tanah shizu. Dalam hal ini, Zhuge Liang sama persis dengan Cao Cao. Bahkan, ketika di utara Cao Pi sudah berbelok dari jalur Cao Cao tersebut, Zhuge Liang di selatan masih mempertahankan idealisme ini.

Dalam hal jabatan, Cao Cao dan Zhuge Liang pun mirip. Mereka sama-sama perdana menteri, sama-sama markis (Cao Cao markis Wuping, Zhuge Liang markis Wuxiang), sama-sama gubernur (Cao Cao gubernur Jizhou, Zhuge Liang gubernur Yizhou). Yang membedakan hanya Cao Cao pada akhirnya menjadi Adipati Wei, lalu Raja Wei, sedangkan Zhuge Liang tidak menjadi adipati maupun raja. Tetapi, bukan berarti Zhuge Liang tidak memiliki motivasi seperti Cao Cao. Apa buktinya? Li Yan pernah bersurat kepada Zhuge Liang menganjurkan ia mengangkat diri menjadi raja. Tentu, surat ini mungkin tidak bermaksud baik. Tetapi yang menarik adalah jawaban Zhuge Liang. Zhuge Liang berkata, saat ini pekerjaan belum selesai, ia masih harus membalas budi baik Liu Bei, sehingga belum waktunya menjadi raja. Namun, ketika Shu berhasil mengalahkan Wei dan Cao Rui berhasil dibunuh, ketika pemerintahan dapat kembali ke Luoyang, para pejabat akan naik pangkat, dan saat itu, menjadi raja tentu adalah saatnya!

Ada orang meragukan perkataan Zhuge Liang ini, karena sebagai seseorang yang rendah hati, perkataan itu tidak cocok diucapkan oleh Zhuge Liang.

Namun menurut prof. Yi, mengapa tidak?

Bukankah ketika negara sudah disatukan, ia boleh meningkatkan jabatan dirinya? Hanya saja, ada orang yang ketika sampai di jabatan tinggi, kemudian merebut tahta kaisar. Tetapi bukankah Zhuge Liang bisa meraih jabatan tinggi tanpa menggulingkan kaisar?

Maka, sebenarnya Cao Cao dan Zhuge Liang sangat mirip.

Lalu mengapa citra sastra dan citra mereka di masyarakat sangat berbeda? Ada empat penyebabnya.

Pertama, perbedaan dari diri sendiri.

Diri mereka memang berbeda. Cao Cao mengangkat diri menjadi adipati dan raja, sedangkan Zhuge Liang tidak. Dengan Cao Cao mengangkat diri menjadi raja, maka ia sekaligus meletakkan dasar bagi Cao Pi untuk mengangkat diri menjadi kaisar, menggulingkan dinasti Han.

Cao Cao licik, Zhuge Liang jujur dan tulus.

Ini sudah jelas. Zhuge Liang tak pernah melakukan tipu muslihat. Ia selalu menjalankan semuanya dengan integritas. Dan ironisnya justru karena ia berintegritas, mengakibatkan ia terlampau lelah.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah, kelicikan Cao Cao pada akhirnya terlalu dibesarkan. Cao Cao memang licik dan kejam, tetapi tidak selicik dan sekejam yang digambarkan orang.

Cao Cao dan Zhuge Liang sama-sama orang yang menyatakan otentisitas, namun Cao Cao lebih ke arah terus terang, sedangkan Zhuge Liang lebih ke arah faktual.

Cao Cao berani berbicara apa adanya. Sedangkan Zhuge Liang lebih berhati-hati. Cao Cao lebih menunjukkan keaslian, ia berani berbicara blak-blakan. Zhuge Liang mengerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan realistis. Ini yang kemudian membuat citra kedua orang ini menjadi berbeda, sebab orang lebih suka dengan kesungguhan, karena keterusterangan kadang menyakitkan, dan orang lebih melihat praktik nyata Zhuge Liang bekerja.

Cao Cao kompleks, sedangkan Zhuge Liang sederhana.

Zhuge Liang adalah seorang yang sederhana. Ia mencurahkan seluruh hati dan pikiran demi negara. Sekuat tenaga membantu Liu Bei. Pekerti semacam ini disukai oleh masyarakat. Kita tidak terlalu suka karakter yang rumit seperti Cao Cao. Cao Cao melawan tradisi, namun mempunyai talent sastra yang tinggi. Ia seorang yang licik, namun juga seorang pahlawan. Jadi Cao Cao mempunyai karakter yang bertolak belakang dalam dirinya.

Tetapi, hal yang bertolakbelakang ini sebenarnya juga dapat kita jumpai dalam sejarah. Misalnya ada “jenderal Konfusianis”, di mana sifat “Konfusianis” dengan sifat “jenderal” yang berperang sangatlah bertolakbelakang. Ada juga “perampok berkeadilan”, yang misalnya merampok untuk membantu orang lain. Jadi sifat licik sekaligus pahlawan dalam diri satu orang, sebenarnya wajar saja.

Kedua, pengaruh sastra dan seni.

Karena dari segi karakteristik kedua orang ini memang ada perbedaannya, sehingga ketika masuk ke penggambaran seni dan sastra, perbedaan itu pun semakin dibesarkan.

Contohnya, ucapan Cao Cao, “Lebih baik merugikan orang (itu), daripada orang (itu) merugikan saya,” dibesarkan menjadi “Lebih baik merugikan orang, daripada orang merugikan saya.” Dari yang awalnya spesifik menunjuk kepada satu orang, akhirnya dibesarkan menjadi semua orang.

Sebaliknya, kepintaran Zhuge Liang di dalam sastra pun dibesar-besarkan. Seperti, meminjam panah dengan perahu jerami, meminjam angin timur, siasat benteng kosong, dan sebagainya.

Namun, metode membesar-besarkan ini cocok digunakan pada sastra. Sebab sastra bertujuan membentuk tipikalitas. Tipikalitas ada dua macam: tipikalitas ilmiah, dan tipikalitas seni. Tipikalitas ilmiah berupa spesimen, berupa sampel, yang mewakili namun tidak memiliki keunikan. Tipikalitas seni justru sebaliknya. Tipikalitas seni harus menonjolkan suatu karakteristik dari seseorang.

Yang penting adalah, kita harus jelas beda antara citra sejarah dan citra sastra. Jangan sampai mencampurkannya.

Selain itu, citra sastra ini juga diperlukan dalam politik.

Ini adalah penyebab ketiga, kebutuhan politik.

Penguasa memerlukan seorang bawahan yang setia. Rakyat memerlukan pejabat yang bersih. Para cendekiawan memerlukan representasi. Ketiga golongan ini sepakat memilih Zhuge Liang.

Dengan kemampuan yang dimiliki Zhuge Liang, sebenarnya Zhuge Liang benar-benar mampu menjadi Cao Cao kedua, menjadi adipati, menjadi raja. Bahkan ia bisa saja menggulingkan Liu Shan. Tapi ini semua tidak dia lakukan.

Ini benar-benar teladan kesetiaan yang sulit dicari bandingannya. Apalagi masa itu adalah masa yang kacau balau di mana moral terobrak-abrik.

Masyarakat tradisional Tiongkok memiliki tiga mimpi. Pertama, ingin memiliki raja yang baik. Jika raja baik, maka dunia damai. Tetapi jika itu tidak terwujud, masih ada mimpi kedua, yaitu pejabat yang bersih. Meski raja kurang ideal, tetapi jika pejabat bersih, kehidupan masih dapat dilalui dengan nyaman. Jika ini pun tidak terwujud, masih ada mimpi ketiga, yaitu pendekar. Pendekar yang akan membunuh pejabat-pejabat korup. Ini juga adalah sebab kenapa orang Tionghoa sangat suka membaca novel silat.

Pejabat yang bersih, sekali lagi melekat dalam diri Zhuge Liang. Ia memang bersih dan jujur. Bahkan menjalankan hukum dengan adil.

Zhuge Liang juga dianggap mewakili cendekiawan ideal. Cendekiawan dalam hal ini adalah kelompok shi. Kelompok shi sangat unik karena bertalenta, namun tidak mempunyai aset. Karena bertalenta, ia diperlukan dalam politik. Namun mereka mempunyai harga diri tersendiri, sehingga idealnya adalah para penguasa atau pemimpin yang datang mencari mereka. Persis seperti kunjungan Liu Bei tiga kali untuk meminang Zhuge Liang. Ini yang dianggap paling ideal. Sayangnya, di sejarah hanya terjadi satu kali itu saja. Setelahnya? Cendekiawan ingin mengabdi pada negara, harus ikut ujian dulu.

Sebaliknya, Cao Cao menjadi tipikal sosok jahat. Citra buruknya dibesarkan di sastra. Sengaja dikontraskan dengan tipikal ideal Zhuge Liang.

Tipikal menteri yang tidak baik: Cao Cao. Tipikal pejabat yang kejam: Cao Cao. Tipikal yang tidak cocok dengan kaum cendekiawan: Cao Cao (Cao Cao lahir dari kalangan kasim, yang sangat tidak cocok dengan kaum shi).

Keempat, psikologis masyarakat.

Psikologis sosial masyarakat Tiongkok adalah “kompleks orang suci”. Kita tahu bahwa masyarakat Tiongkok sejak awalnya memiliki kesadaran agama yang sangat tipis. Mereka tidak menyembah Tuhan. Mereka menghormati orang. Ini beda dengan budaya Barat di mana ada Tuhan dan Tuhan berupa roh. Di budaya tradisional Tionghoa, tidak ada konsep ini. Yang dihormati selalu adalah orang yang kelihatan fisiknya.

Ketika seseorang menjadi tujuan penghormatan, maka orang itu perlu diidealkan. Misalnya Confucius, yang kemudian dianggap orang suci, mahaguru yang agung.

Ketika kita menengok kembali era Tiga Negara ini, kita sudah seharusnya melihat lebih tinggi, melihat lebih jauh, melihat lebih dalam.

Inilah harapan Prof. Yi Zhongtian untuk kita semua.

52 episode Pembahasan Tiga Negara telah usai.

Silakan berdiskusi di kolom komentar. Konten selanjutnya kami mungkin akan membahas serial “Jenderal Terkenal dari Tiga Negara”.

There are 3 comments for this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *