Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (02 – 真假曹操/Benar dan Salah Cao Cao)

Di episode ke-2 ini, Prof. Yi Zhongtian mulai membahas salah satu tokoh sentral di dalam Tiga Negara, yaitu Cao Cao. Cao Cao adalah salah satu tokoh yang kontroversial. Cao Cao meski tidak menjadikan diri kaisar negara Wei, tetapi tanpa Cao Cao, negara Wei tidak akan pernah ada.

Cao Cao di dalam sejarah memiliki reputasi yang kurang baik. Sebutan yang agak sopan bagi Cao Cao adalah 奸雄(pahlawan licik), sedangkan sebutan yang kurang sopan adalah 奸贼(maling licik). Meski demikian, Lu Xun memberikan komentar yang agak berbeda, ia menilai Cao Cao paling tidak adalah seorang pahlawan, dan ia mengagumi Cao Cao. Maka Prof. Yi menyimpulkan bahwa penilaian terhadap Cao Cao bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu: 英雄(pahlawan), 奸雄(pahlawan licik) dan 奸贼(maling licik). Prof. Yi lalu mulai menganalisa sebutan manakah yang paling tepat.

Cao Cao di kalangan rakyat merupakan tokoh yang tidak disukai. Ada beberapa kemungkinan alasan: pertama, Cao Cao adalah orang yang licik. Namun menurut Prof. Yi hal ini bukanlah alasan yang logis, karena di dalam perang, licik sebenarnya adalah hal yang biasa. Orang menyebut musuh licik, tetapi ketika diri sendiri melakukan kelicikan untuk mengalahkan musuh, malah disebut ahli strategi. Tipu muslihat adalah hal yang lumrah di dalam konteks peperangan. Alasan kedua, Cao Cao berkhianat kepada dinasti Han. Alasan ini juga kurang logis. Prof. Yi mengatakan bahwa tidak ada keharusan seorang kaisar bermarga Liu. Apa salahnya bermarga Cao? Maka kita beralih ke alasan ketiga, yang paling membuat rakyat tidak suka kepada Cao Cao, yaitu kalimat yang pernah diucapkan oleh Cao Cao sendiri: “lebih baik saya merugikan orang lain daripada orang lain merugikan saya”. Kalimat ini jika didengar, memang adalah kalimat yang bernada jahat.

Maka Prof. Yi mengambil kalimat Cao Cao ini untuk dianalisa. Kalimat ini benar diucapkan oleh Cao Cao ataukah tidak? Kita perlu melihat kisah saat Cao Cao mengucapkan kalimat tersebut. Jika melihat catatan sejarah, kisah yang ditulis ternyata tidaklah sama, bahkan agak bertolak belakang. Secara garis besar, kisah ini dimulai ketika Cao Cao menjadi buronan Dong Zhuo setelah upaya membunuh Dong Zhuo gagal. Cao Cao di dalam pelariannya bertemu dengan teman lama bernama Lü Boshe. Kemudian ketika Lü Boshe tidak ada di rumah, terjadilah pembunuhan keluarga Lü Boshe oleh Cao Cao. Detil cerita ada tiga versi: pertama, keluarga Lü Boshe melihat Cao Cao seorang yang cukup kaya, berusaha merampok Cao Cao sehingga Cao Cao terpaksa membunuh mereka. Maka pembunuhan yang dilakukan Cao Cao ini adalah untuk membela diri. Cerita ini dicatat dalam buku Wei Shu, yang ditulis oleh orang negara Wei, sehingga mungkin sekali terjadi bias. Versi kedua dan ketiga hampir sama, intinya bahwa Cao Cao mencurigai tindak-tanduk keluarga Lü Boshe, sehingga membunuh mereka. Pembunuhan oleh Cao Cao dalam versi ini adalah salah membunuh. Pada versi ketiga, setelah sadar diri salah, Cao Cao mengucapkan kalimat: “lebih baik saya merugikan orang, jangan orang merugikan saya.” Perlu diperhatikan di dalam catatan ketiga ini, dicatat bahwa Cao Cao mengucapkan kalimat tersebut dengan sedih. Jadi Cao Cao menyesal telah membunuh keluarga Lü Boshe. Maka jika kita mencoba merasakan suasana saat itu, kita akan mendapati bahwa kalimat Cao Cao ini adalah kalimat yang menghibur diri, yang dengan berat hati diucapkan.

Tetapi di dalam citra sastra, yaitu Romance of the Three Kingdoms, kalimat Cao Cao mengalami perubahan, yaitu ditambahkan kata 天下(dunia), sehingga memiliki beda arti yang sangat besar. Di catatan sejarah, kalimat Cao Cao hanyalah mengomentari kejadian di saat itu saja, tetapi dengan ditambahkan kata “dunia”, maka kalimat ini telah digeneralisasi menjadi hal yang umum, bukan hanya keluarga Lü Boshe saja, tetapi untuk semua orang. Sekalipun demikian, Mao Zonggang di dalam memberikan catatan untuk Romance of the Three Kingdoms, tetap menganggap kalimat Cao Cao itu justru menunjukkan Cao Cao lebih dari orang biasa. Kenapa demikian? Orang biasa mungkin akan berkata sebaliknya, yaitu “lebih baik orang lain merugikan saya, jangan saya merugikan orang lain”. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Mereka tetap melakukan sama seperti yang diucapkan Cao Cao. Hanya Cao Cao yang berani dengan jujur mengucapkan kalimat tersebut. Maka Mao Zonggang menganggap di dalam kelicikan Cao Cao ada kejujuran. Dia adalah 真小人(penjahat yang jujur), bukan 伪君子(orang alim yang palsu), sehingga dalam hal ini Cao Cao lebih daripada orang biasa. Dan memang diakui di dunia ini banyak sekali “orang alim yang palsu”.

Maka Prof. Yi mulai menyimpulkan, di dalam kelicikan Cao Cao ada kejujuran, ini adalah salah satu ciri khas pribadi Cao Cao. Cao Cao memang licik, prof. Yi mencontohkan di dalam melawan Yuan Shao di perang Guandu, yang merupakan salah satu dari tiga perang terbesar di masa Tiga Negara. Cao Cao waktu itu mengalami kekurangan pangan. Tak disangka, salah seorang pengikut Yuan Shao bernama Xu You datang memberikan informasi jalan menuju gudang makanan pasukan Yuan Shao. Cao Cao lalu memimpin sendiri pasukan kavaleri ringan, menyamar menjadi pasukan Yuan Shao untuk masuk ke gudang makanan tersebut dan membakar semua bahan makanan Yuan Shao. Hal ini menjadi titik balik bagi kemenangan Cao Cao.

Prof. Yi juga mencontohkan bagaimana Cao Cao juga seorang yang punya perasaan lembut. Ini terlihat pada saat Cao Cao berusaha merayu kembali permaisuri Ding, yang sebelumnya bertengkar dengan Cao Cao dan pulang ke rumah orang tuanya. Cao Cao dengan segala upaya berusaha membawa nyonya Ding kembali, tetapi nyonya Ding bersikeras tidak mau. Terakhir Cao Cao juga tidak menggunakan paksaan, tetapi merelakan nyonya Ding pergi. Cao Cao bahkan sebelum meninggal sempat berkata bahwa perginya nyonya Ding ini adalah kesalahan terbesarnya.

Di sisi lain, Cao Cao juga adalah seorang yang kejam. Misalnya bagaimana Cao Cao menghukum Xu You yang meski telah berjasa di dalam cerita di atas, Xu You terus-menerus mengatakan jasanya itu di hadapan umum.

Tetapi Cao Cao juga seorang yang toleran. Misalnya dalam kasus Wei Zhong, yang meski telah mengkhianati Cao Cao, akhirnya diampuni dan diberikan kesempatan kerja. Demikian halnya dengan Chen Lin, yang sempat menjelek-jelekkan Cao Cao namun akhirnya tetap diampuni dan diterima dengan baik menjadi bawahan Cao Cao.

Cao Cao juga seorang yang pendendam. Seorang sastrawan bernama Bian Rang pernah menjelek-jelekkan Cao Cao, pada akhirnya orang ini pun dibunuh oleh Cao Cao. Juga ada kasus-kasus lain yang serupa. Hal ini menyebabkan Chen Gong meninggalkan Cao Cao(catatan sejarah berbeda dengan novel, yang mengatakan Chen Gong meninggalkan Cao Cao karena kejadian Lü Boshe di atas). Pada akhirnya ketika Chen Gong ditangkap, Cao Cao sebelum menghukum mati Chen Gong bertanya bagaimana orang tua dan istri anak Chen Gong jika ia dihukum mati. Chen Gong menjawab, orang yang bermoral dan berbakti tidak akan membunuh keluarga orang lain. Maka setelah Chen Gong mati, Cao Cao memperlakukan keluarga dan orang tua Chen Gong dengan sangat baik.

Maka prof. Yi memberikan kesimpulan akhir, karakter Cao Cao tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi. Pribadi Cao Cao sangatlah unik. Ia memiliki banyak sifat yang paradoks. Ia seorang yang licik sekaligus jujur, lemah lembut sekaligus kejam, toleran sekaligus pendendam. Mungkin Cao Cao adalah orang dengan pribadi yang paling kompleks di dalam sejarah Tiongkok. Ia adalah orang yang bisa memunculkan berbagai macam wajah. Tapi menurut prof. Yi, tak peduli wajah apa pun yang ditampilkan Cao Cao, wajah itu tetap adalah wajah Cao Cao sendiri, ia tidak pernah meniru pribadi orang lain. Prof. Yi malah menganggap, seseorang yang mampu menyimpan sebegitu banyak sisi karakter di dalam satu pribadi, tentu bukan orang biasa. Maka Cao Cao adalah orang yang diistilahkan 海纳百川, 有容乃大(orang yang lapang dada, mampu menampung segala sesuatu). Hal yang bertolak belakang pun bisa ditampung olehnya.

Terakhir, prof. Yi menyebutkan, Cao Cao sebelum wafat memberikan semacam kalimat terakhir. Kalimat ini berbeda dengan kalimat yang diucapkan orang besar pada umumnya. Tentang hal-hal yang agung dan bermakna, pencapaian dan kesalahannya semasa hidup, diucapkan sedikit sekali. Ia kemudian berbicara panjang lebar tentang bagaimana para selirnya nanti janganlah dikeluarkan dari istana, tetapi tetap diberikan penghidupan yang layak. Su Dongpo mengomentari kalimat Cao Cao ini dengan nada sinis, yaitu bahwa Cao Cao memang adalah seorang yang bermental kerdil. Tetapi prof. Yi sebaliknya berpendapat, Cao Cao sengaja tidak berkata tentang hal-hal yang besar, Cao Cao adalah Cao Cao, maka ia pun berani mengatakan hal yang natural, tidak dibuat-buat demi kelihatan seperti pahlawan. Cao Cao mampu menunjukkan natur alaminya secara jujur dan gamblang, justru membuktikan ia adalah pahlawan. Maka prof. Yi pun menyimpulkan, Cao Cao adalah pahlawan yang licik(奸雄). Ditambah lagi, pahlawan yang licik ini juga lucumenyenangkan, dengan demikian kesimpulan akhir untuk Cao Cao menurut prof. Yi adalah 可爱的奸雄(pahlawan licik yang lucumenyenangkan).

Bagaimana detil Cao Cao sebagai pahlawan licik yang lucu? Ini akan dibahas oleh prof. Yi di episode berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.