Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (03 – 奸雄之谜/Rahasia Pahlawan Licik)

Di dalam episode ke-3 ini, Prof. Yi membahas tentang predikat Cao Cao yaitu Pahlawan Licik yang Menyenangkan.

Pembahasan dimulai dengan istilah 奸雄(Pahlawan Licik). Jian xiong terdiri dari dua kata yaitu jian yang berarti licik, dan xiong yang berarti pahlawan. Maka mereka yang disebut jian xiong haruslah sekaligus licik juga bersifat pahlawan. Yan Song dari dinasti Ming merupakan contoh tokoh yang licik. Orang seperti ini tidak bisa disebut jian xiong, tetapi disebut jian zei(maling licik). Sebaliknya orang seperti Dong Zhuo, yang menggunakan kekuasaan dan kekerasan tanpa kelicikan, hanya bisa disebut xiao xiong(pahlawan buas). Jian xiong adalah orang yang licik namun berjiwa pahlawan. Cao Cao adalah orang seperti ini.

Latar belakang keluarga Cao Cao kurang baik. Ayah Cao Cao, Cao Song, adalah anak angkat dari seorang kasim bernama Cao Teng. Meski begitu, ia hidup dalam lingkungan keluarga yang berkecukupan. Cao Cao di waktu kecil juga tidak mendapatkan pendidikan keluarga yang baik. Ia tumbuh menj penilaian yang tinggi terhadap Cao Cao. Qiao Xuan melihat meski Cao Cao seorang yang nakal, tapi Cao Cao memiliki kelebihan dibanding orang lain, paling tidak dalam tiga hal, yaitu: Cao Cao berbakat seni dan sastra, Cao Cao memiliki ilmu beladi seorang anak yang sangat nakal dan suka berbuat keonaran. Namun menurut Prof. Yi, orang seperti ini biasanya pada waktu dewasa akan menjadi orang yang besar.

Seorang bernama Qiao Xuan melihat kelebihan dalam diri Cao Cao. Ia memberikana diri yang tinggi, Cao Cao suka belajar, khususnya belajar buku-buku militer. Maka Qiao Xuan meramalkan Cao Cao bakal menjadi orang yang mampu menyatukan negara.

Qiao Xuan merekomendasikan Cao Cao kepada Xu Shao, seorang connoisseur di masa itu. Komentar Xu Shao bagi Cao Cao sangat singkat, ia hanya berkata Cao Cao adalah pejabat yang mampu membenahi negara; dan pahlawan licik dalam kekacauan negara. Cao Cao tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Xu Shao ini. Kata ‘tertawa’ di dalam novel Romance of the Three Kingdoms diganti menjadi ‘gembira’. Ini adalah perbedaan yang sangat besar artinya. Novel menempatkan Cao Cao sebagai tokoh antagonis, sehingga begitu mendengar ia akan menjadi pahlawan licik, ia ditulis gembira, seolah-olah sejak kecil telah menginginkan untuk menjadi penjahat. Menurut Prof. Yi, Cao Cao tertawa adalah karena Cao Cao merasa ia bisa sekaligus menjadi pejabat yang mampu serta juga menjadi pahlawan licik. Tentu hal ini membuat Cao Cao tertawa, karena Cao Cao memang bercita-cita berbuat sesuatu yang besar. Dua-duanya, pejabat yang mampu maupun pahlawan licik, semuanya melakukan perkara besar. Tanggapan Cao Cao ini sekaligus juga membuktikan jiwa pahlawan untuk berbuat besar dalam diri Cao Cao, yang oleh Prof. Yi dikatakan sebenarnya melebihi dari sifat liciknya. Cao Cao adalah orang yang suka tertawa. Ini berkebalikan dengan Liu Bei, yang suka menangis. Cao Cao di dalam berbuat salah, kalah perang, dihina orang lain, selalu tertawa.

Hawa pahlawan dalam diri Cao Cao inilah yang membuat ia sebagai pahlawan licik yang menyenangkan. Kenapa Cao Cao menyenangkan? Cao Cao di dalam keseharian selalu hidup ala kadarnya. Ia tidak memperhatikan pakaian, tempat tinggal, makanan dan hal-hal lain. Ia tidak menganggap hal-hal itu penting. Ia suka bergurau dengan teman-temannya, tiap mendengar lelucon orang lain yang lucu, ia selalu tertawa terbahak-bahak sampai-sampai wajahnya terbenam dalam piring kuah yang sedang ia makan, tapi ia tetap tidak peduli.

Sikap menyenangkan Cao Cao juga tercermin dalam peperangan. Suatu contoh, Cao Cao ketika berperang, pasukan musuh mendengar Cao Cao datang sendiri memimpin pasukan, mereka ingin melihat Cao Cao lebih jelas. Mereka berdesakan maju berusaha melihat Cao Cao. Cao Cao mengetahui hal ini ia malah maju sendiri ke depan dan berkata, “Kalian ingin lihat aku? Aku juga sama seperti kalian, sama-sama manusia. Bedanya dengan kalian adalah aku punya sedikit kepintaran. Itu saja.”

Waktu Cao Cao melewati makam Qiao Xuan, ia berhenti dan melakukan ritual penghormatan. Ia memberikan kata-kata berkabung dengan menghadap kepada kuburan Qiao Xuan, “Qiao Xuan, ketika kau hidup kita pernah berjanji, jika kelak aku melewati makammu, dan tidak mempersembahkan seekor ayam dan seteko anggur, aku akan sakit perut setelah berjalan tiga langkah. Hari ini aku ke sini, mempersembahkan persembahan agung buatmu, aku tidak akan sakit perut lagi, bukan?” Kata-kata ini tentunya juga bukan kata-kata berkabung yang umum.

Namun hal yang paling menyenangkan dari diri Cao Cao adalah ia seorang yang bicara terang-terangan. Ini tentunya agak kontradiktif dengan predikat licik dalam dirinya. Ia orang yang licik namun jujur. Di dalam bukunya ia menuliskan bahwa ia memang punya ambisi, bahkan ambisinya makin lama makin besar. Namun ia juga menulis ia tidak ingin menjadi kaisar, ini tentu berbeda dengan Liu Bei dan Sun Quan yang keduanya mendeklarasikan diri sebagai kaisar. Cao Cao hanya ingin menyatukan para gubernur dan dengan demikian menyatukan negara, bukan menjadi kaisar. Ia juga terang-terangan berkata bahwa di masa tua tidak akan melepaskan kekuasaan yang dimilikinya, sebab hal itu akan menyebabkan orang lain berani mencelakakannya.

Cao Cao sebenarnya juga ingin menjadi pejabat yang mampu, tapi ada hal yang menyebabkan keinginan ini gagal. Ini akan dibahas di episode selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.