Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (15 – 慧眼所见/Pertimbangan yang Bijak)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (15 – 慧眼所见/Pertimbangan yang Bijak)

Dalam episode kali ini, Prof. Yi akan menjawab satu pertanyaan, yakni mengapa di antara sekian banyak pemimpin, Zhuge Liang memilih Liu Bei? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu lebih dulu mengetahui tentang siapa sebenarnya Zhuge Liang, terutama masa mudanya.

Dari San Guo Zhi, kita mengetahui bahwa Zhuge Liang adalah seorang pemuda yang jenius. Tidak hanya jenius, ia juga adalah seorang yang tampan, bertubuh tinggi, dan semua orang yang melihatnya menganggap ia bukan orang biasa. Tidak banyak yang kita ketahui dari hidup Zhuge Liang. Yang kita tahu adalah ia seorang yatim piatu, sejak kecil dibesarkan oleh pamannya Zhuge Xuan. Saat Zhuge Xuan pindah ke Longzhong, Zhuge Liang juga ikut, dan ia menjalani hidup dengan bercocok tanam, sekaligus belajar. Walau belum bisa dipastikan apakah bercocok tanam ini hanyalah hobi ataukah sebagai mata pencaharian, namun kita dapat memastikan bahwa Zhuge Liang bercocok tanam dengan rajin. Satu kelebihan Zhuge Liang yang patut kita pelajari, menurut Prof. Yi adalah ketekunan dan ketelitiannya. Ini bisa kita lihat ketika ia menjadi perdana menteri, semua hal ia lakukan sendiri, sebaik mungkin.

Menariknya, di lain pihak, Zhuge Liang dalam hal belajar, bisa dibilang tidak tekun. San Guo Zhi mencatat bahwa Zhuge Liang saat membaca buku, hanya melihat garis besarnya saja, tidak membaca dengan teliti kata demi kata. Sebenarnya, ini merupakan satu kelebihan Zhuge Liang juga. Dalam membaca buku, ia mampu langsung menangkap intisari dari buku tersebut, tidak perlu menghabiskan waktu dengan menyelidiki huruf demi huruf.

Hobi yang lain dari Zhuge Liang adalah menyanyi (dengan cara menyanyi yang khas, laksana bersiul). Dan yang dinyanyikan oleh Zhuge Liang adalah perasaannya terhadap situasi negara di waktu itu. Bisa kita lihat betapa dalamnya kalbu serta cinta tanah air dari seorang Zhuge Liang yang masih berusia dua puluhan tahun saat itu. Ia merupakan seorang yang memiliki visi dan tekad bagi negaranya, merasa negara adalah tanggungjawabnya.

Zhuge Liang juga seseorang yang memiliki kemampuan dan kualifikasi. Menurut Prof. Yi, kualifikasi Zhuge Liang yang pertama adalah, memiliki latar belakang yang baik. Nenek moyang Zhuge Liang, hingga kakek dan ayahnya pernah menjadi pejabat.

Kualifikasi kedua, Zhuge Liang memiliki jaringan relasi yang baik. Zhuge Liang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan para petinggi dan pejabat di Jingzhou. Huang Chengyan, mertua Zhuge Liang, sangat mengagumi Zhuge Liang. Huang Chengyan berkata kepada Zhuge Liang, bahwa ia memiliki seorang putri, wajahnya buruk, tetapi sangat cakap dan bertalenta. Ia menawarkan kepada Zhuge Liang apakah mau menjadi menantunya. Zhuge Liang menyetujui, sehingga Huang Chengyan langsung pulang dan menikahkan putrinya itu kepada Zhuge Liang. Cerita ini ada beberapa versi. Versi lain mengatakan bahwa putri Huang Chengyan sebenarnya tidak buruk rupa, tetapi istilah “buruk” di sini hanyalah kata-kata merendah. Dalam versi ini, dikatakan bahwa Huang Chengyan sebenarnya hendak menguji Zhuge Liang, apakah Zhuge Liang seorang yang memandang penampilan luar saja. Tetapi Prof. Yi lebih berpendapat bahwa putri Huang Chengyan memang buruk rupa, sebab dalam catatan di San Guo Zhi, kata-kata untuk melukiskan putri Huang Chengyan tidak terkesan seperti kata-kata merendah. Bukti kedua, bahwa saat itu pernikahan ini menjadi bahan pembicaraan masyarakat daerah Jingzhou, yang menghasilkan pepatah rakyat yang mengatakan, bila memilih istri, jangan meniru Zhuge Liang. Maka pertanyaannya, mengapa Zhuge Liang bersedia menikah dengan wanita buruk rupa? Padahal kita ingat di atas bahwa Zhuge Liang sendiri adalah seorang yang tampan dan gagah. Penjelasan pertama adalah, Zhuge Liang tidak melihat penampilan luar, ia lebih memperhatikan pekerti dan kemampuan. Penjelasan kedua, ia memperhatikan jaringan relasinya dengan Huang Chengyan. Sebab Huang Chengyan memiliki hubungan yang sangat erat dengan penguasa tertinggi Jingzhou saat itu, Liu Biao. Penjelasan yang manakah yang lebih tepat? Prof. Yi mengajak kita untuk menilai sendiri.

Kualifikasi Zhuge Liang yang ketiga adalah, ia tergabung dalam kelompok cendekiawan di Jingzhou, di antaranya Sima Hui, Pang Degong, Xu Shu, Shi Tao. Mereka sering bertemu dan berdiskusi. Julukan Naga Tidur bagi Zhuge Liang juga berasal dari kelompok ini. Kita tahu pada akhirnya Liu Bei bisa mengenal Zhuge Liang juga karena rekomendasi dari kelompok ini.

Maka kita melihat bahwa Zhuge Liang memiliki kualifikasi yang baik untuk terjun ke dunia politik. Lalu pertanyaannya, mengapa ia tidak turun gunung?

Kita perlu tahu dengan jelas apa sebenarnya visi Zhuge Liang. Suatu ketika saat ia sedang berbincang-bincang dengan beberapa teman di kelompok cendekiawan, yakni Xu Shu, Shi Tao dan Meng Jian, ia berkata kepada mereka, bahwa bila mereka terjun dalam politik, paling sedikit bisa menjabat sebagai junshou (pejabat setingkat gubernur). Mereka lalu bertanya balik kepada Zhuge Liang, “Bagaimana dengan engkau sendiri?” Zhuge Liang tidak menjawab. Ia hanya tertawa. Sebenarnya jawabannya sudah ada di San Guo Zhi. Zhuge Liang menyetarakan dirinya dengan Guan Zhong dan Yue Yi. Siapakah Guan Zhong? Menteri ternama. Siapakah Yue Yi? Jenderal ternama. Maka visi Zhuge Liang jelas, ia hendak menjadi pejabat penting setingkat menteri dan jenderal, mengabdi bagi negara. Ini adalah visi yang sangat besar. Maka dengan visi sebesar ini, ia harus memilih majikan yang baik. Sebab kita tahu di masa yang kacau seperti saat itu, seseorang yang bervisi memiliki tiga pilihan, pertama, seperti Cao Cao, membangun usahanya sendiri. Kedua, seperti Zhou Yu, membantu usaha orang lain. Ketiga, seperti para pertapa, tidak membantu siapa pun. Zhuge Liang memilih untuk menjadi menteri dan jenderal yang mampu mendamaikan negara. Sehingga ia harus memilih majikan yang baik. Di antara begitu banyak orang, yang paling praktis tentu Liu Biao. Cao Cao dan Sun Quan juga membutuhkan banyak orang untuk membantu mereka. Namun mereka semua tidak dipilih Zhuge Liang. Mengapa demikian? Menurut Prof. Yi, Liu Biao terlalu buruk, Cao Cao terlalu kuat, sedangkan Sun Quan ruangnya terlalu sempit. Di manakah letak keburukan Liu Biao? Salah satu contoh, saat itu banyak orang-orang hebat yang datang ke Jingzhou, namun tidak ada satupun yang dipakai Liu Biao. Orang yang sebegitu tidak mampunya memakai orang, tentu dilewatkan begitu saja oleh Zhuge Liang. Bagaimana dengan Cao Cao? Cao Cao terlalu kuat. Terlalu banyak orang hebat di jajaran anak buah Cao Cao. Cao Cao sendiri pun orang yang hebat. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Zhuge Liang mau menerobos masuk ke jajaran atas? Lalu Sun Quan, dengan Zhang Zhao sebagai menteri dalam negeri, dan Zhou Yu sebagai pimpinan militer, keduanya memiliki relasi yang sangat dekat dengan keluarga Sun Quan, sudah seperti diangkat anak oleh ibunda Sun Quan. Maka sudah bisa dipastikan apabila Zhuge Liang ikut pihak Sun Quan, posisinya akan di bawah Zhang Zhao dan Zhou Yu, bahkan mungkin di bawah Lu Su. Target Zhuge Liang sangat jelas, ia menginginkan dirinya dapat berguna, dapat berperan penting, dan paling baik dapat memiliki jabatan khusus. Di kubu Sun Quan, ini tidak memungkinkan. Maka pemimpin yang ideal bagi Zhuge Liang adalah pahlawan yang sekarang belum memiliki kekuasaan yang mapan, namun nantinya akan memilikinya. Pemimpin ini harus memiliki tekad dan kualifikasi, namun masih belum jelas dan matang, sehingga pemimpin ini perlu bantuan Zhuge Liang. Dan dengan demikian dalam kubu pemimpin ini, Zhuge Liang nantinya akan dapat berperan besar. Siapakah yang memenuhi ideal ini? Hanya satu orang, yakni Liu Bei.

Liu Bei juga memiliki kualifikasi sebagai kaisar. Kualifikasi Liu Bei adalah, pertama ia sendiri adalah keluarga bangsawan. Kita tahu bahwa ia masih bisa disebut sebagai ‘paman’ kaisar. Kedua, Liu Bei memiliki telinga yang panjang, serta lengan yang panjang pula. Ini layak menjadi citra seorang kaisar. Memang dari segi penampilan, di antara Liu Bei, Cao Cao dan Sun Quan, yang paling tidak ‘cocok’ secara penampilan sebagai kaisar adalah Cao Cao. Sehingga ini juga merupakan alasan mengapa di kemudian hari Cao Cao tidak pernah mengangkat diri sebagai kaisar. Ketiga, Liu Bei memiliki tekad menjadi kaisar. Ini tercermin dari nama yang diberikan Liu Bei kepada kedua putranya, yakni Liu Feng dan Liu Shan. “Feng Shan” berarti ritual penyembahan kepada langit dan bumi yang dilakukan kaisar pada zaman kuno di gunung Tai. Keempat, Liu Bei juga memiliki cara kerja kaisar. Ia memperlakukan orang dengan baik dan adil. Kelima, Liu Bei memiliki keberuntungan kaisar. Contohnya, baru saja ia terjun ke dunia perpolitikan, ia langsung mendapatkan Guan Yu dan Zhang Fei. Kita tahu bahwa dari dulu hingga sekarang, dalam sebuah bisnis atau usaha, yang paling penting adalah sumber daya manusia yang bermutu. Sumber daya yang bermutu dan setia, ini sangat sulit dicari. Liu Bei mendapatkan dua orang seperti itu dengan demikian gampangnya. Ini adalah sebuah kemujuran besar.

Namun, meski memiliki semua kualifikasi ini, kita tahu bahwa Liu Bei bertahun-tahun hidup sengsara, tidak memiliki basis wilayah dan tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Dengan datangnya Zhuge Liang, kedua hal ini akhirnya teratasi. Maka bergabungnya Zhuge Liang dengan Liu Bei adalah berkah besar bagi Liu Bei, dan petaka besar bagi Cao Cao.

Maka pertanyaan berikutnya, siapa yang mencari siapa? San Guo Zhi dan San Guo Yanyi keduanya mencatat Liu Bei lah yang tiga kali mengunjungi desa Zhuge Liang untuk mencari dia. Sedangkan dua buku yang lain yakni Wei Lue serta Jiu Zhou Chun Qiu, mengatakan bahwa Zhuge Liang lah yang pergi menawarkan diri sendiri kepada Liu Bei.

Yang manakah yang benar? Nantikan di episode berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.