Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (40 – 祸起萧墙/Bencana Berasal dari Dalam)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (40 – 祸起萧墙/Bencana Berasal dari Dalam)

Kita sudah cukup mengetahui peristiwa pemberontakan Wei Yan. Di Romance of the Three Kingdoms, kisah ditulis dengan sangat memikat. Dikisahkan Ma Dai ketika membunuh Wei Yan, Yang Yi keluar dari dalam kota dan berkata, “Beranikah engkau berteriak tiga kali: Siapa berani membunuh aku?!” Wei Yan menjawab, “Siapa yang takut? Siapa berani membunuh aku?!” Ma Dai langsung menjawab, “Saya!” lalu membunuh Wei Yan. Namun ini adalah kisah yang tak adil bagi Wei Yan. Tak hanya tidak adil bagi Wei Yan, bagi Zhuge Liang juga tidak adil. Apa maksudnya? Kita harus melihat catatan sejarah.

Ada dua catatan mengenai peristiwa ini dalam catatan sejarah. Pertama di Records of the Three Kingdoms. Pada bulan delapan tahun ke-12 Jianxing, Zhuge Liang meninggal saat ekspedisi ke utara. Sebelum meninggal, Zhuge Liang mengadakan pertemuan rahasia. Yang ikut adalah Yang Yi, Jiang Wei, Fei Yi. Zhuge Liang berkata, “Jika saya meninggal, perang ini tidak dapat dilanjutkan. Kita harus mundur. Saat mundur, harap Wei Yan menjaga barisan di belakang, dan Jiang Wei menjaga setelahnya.” Setelah itu Zhuge Liang mengucapkan kalimat yang penting, “Jika Wei Yan tidak taat, kalian tidak usah pedulikan dia.” Sesudah memberikan perintah ini, Zhuge Liang meninggal.

Setelah berunding, Fei Yi pergi menyampaikan titah Zhuge Liang ini kepada Wei Yan. Dan benar, Wei Yan bereaksi keras. Dia berkata, “Apa? Aku disuruh menjaga di belakang? Bukankah aku masih hidup? Meskipun perdana menteri sudah meninggal, aku masih bisa memimpin pasukan menyerang ke utara! Mengapa harus mundur? Mengapa hanya karena seorang meninggal, kita harus menggagalkan rencana besar ini?” Wei Yan menambahkan, “Dan mengapa aku yang harus di belakang dan melindungi orang seperti Yang Yi? Ini tidak betul. Aku tak mau!” Fei Yi menjawab, “Ah, Yang Yi seorang kutu buku, dia tak cocok berperang. Sebentar, saya akan pergi untuk memberitahu Yang Yi. Tunggu ya.” Begitu Fei Yi keluar dari perkemahan Wei Yan, ia langsung naik kuda dan kabur.

Wei Yan menyadari bahwa ia tak seharusnya melepaskan Fei Yi. Ia segera mengutus mata-mata untuk mencari informasi. Ia mendapat info bahwa Yang Yi tetap mengikuti perintah Zhuge Liang, membawa pasukan untuk mundur. Wei Yan marah besar, ia berkata, “Baik, engkau mundur. Aku juga mundur!” Maka ia memimpin pasukannya maju ke barisan depan mendahului Yang Yi untuk mundur ke selatan. Sambil mundur, pasukan Wei Yan sambil membakar jembatan dan jalan. Pasukan Yang Yi yang kesulitan mundur akibat jalan dan jembatan yang dihancurkan oleh Wei Yan, terpaksa harus membangun jembatan dulu untuk bisa lewat. Kondisi yang parah ini makin diperparah lagi dengan Yang Yi dan Wei Yan sama-sama menulis surat ke istana, menyebutkan satu sama lain sudah berkhianat ingin melakukan kudeta. Liu Shan menerima laporan dari dua orang ini, Liu Shan bingung tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia memanggil Dong Yun, Jiang Wan dan lainnya untuk berkonsultasi. Mereka menjawab, “Kami sanggup menjamin, Yang Yi sudah pasti tidak akan melakukan kudeta. Sedangkan Wei Yan, kami tidak tahu.” Bukankah ini berarti menuduh Wei Yan merencanakan kudeta? Maka Liu Shan memerintahkan Jiang Wan untuk menuju utara menghadang Wei Yan. Pasukan Yang Yi yang menuju selatan, juga tiba, sehingga pasukan Wei Yan terjepit di Nangukou. Saat ini, Wang Ping keluar dan berkata, “Perdana Menteri baru saja meninggal, kalian sudah berbuat onar seperti ini!” Pasukan Wei Yan mendengar itu, merasa mereka yang salah, maka bubarlah mereka. Wei Yan membawa sisa pasukan, lari ke selatan sampai ke Hanzhong, hingga dibunuh oleh Ma Dai. Ma Dai membawa kepala Wei Yan kepada Yang Yi. Yang Yi membanting kepala Wei Yan ke tanah dan menginjaknya sambil berkata, “Bajingan! Mau apa kau sekarang!” Lalu ia menghabisi tiga generasi keluarga Wei Yan.

Itu adalah catatan di Records of the Three Kingdoms.

Apakah Wei Yan benar-benar melakukan kudeta? Pendapat Prof. Yi terhadap hal ini adalah: semua hal harus ada sebabnya, tidak ada bukti nyata, tidak logis. Mengapa ‘semua hal harus ada sebabnya’? Ada tiga alasan: (1) dalam dunia militer, kepatuhan adalah hal yang wajib. Zhuge Liang jelas memerintahkan Wei Yan untuk menjaga di barisan belakang. Wei Yan seharusnya patuh. Mengapa Wei Yan tidak patuh? Ini hal yang mencurigakan. (2) Wei Yan tidak patuh, ia mengambil keputusan sendiri, mundur ke selatan, untuk apa? Pulang ke Chengdu ataukah mengacaukan Shu? Ini juga tidak jelas. (3) Jika Wei Yan hanya tidak suka pada Yang Yi, tidak sudi menjaga barisan untuk Yang Yi, dan ingin lebih dahulu balik ke Chengdu, mengapa Wei Yan harus menghambat jalan Yang Yi? Mengapa musti menghancurkan jembatan segala? Bukankah ini membuat orang berpikir bahwa Wei Yan ingin kembali ke Chengdu untuk kudeta, dan tak ingin dihalangi oleh Yang Yi? Bahkan Yang Yi adalah seorang kutu buku, orang umumnya menganggap Yang Yi tak mungkin melakukan kudeta. Yang paling mungkin melakukan kudeta tentu pihak militer. Dalam kondisi ini, demi menjaga kelangsungan negara, mau tak mau akhirnya Wei Yan yang dituduh hendak kudeta.

Lalu mengapa ‘tidak logis’? Kita tahu bahwa berdasarkan kekuatan yang dimiliki Wei Yan, tidaklah cukup untuk membangun kekuasaan sendiri. Jika ia memang ingin berkhianat, harusnya cuma ada satu jalan, yaitu menggabungkan diri dengan Wei. Dan jika ia memang ingin bergabung ke Wei, seharusnya ia langsung menyerah dan bergabung ke sana, karena posisinya di garis depan dekat dengan negara Wei. Bukankah jika Zhuge Liang memerintahkan ia menjaga di barisan belakang pasukan yang mundur, seharusnya ia tidak malah berebut maju ke barisan depan, melainkan tetap di belakang, karena dengan demikian lebih mudah menyerahkan diri ke Wei? Bahkan ketika ia dihadang oleh Wang Ping, ia masih bisa balik pergi ke Wei. Namun Wei Yan terus bergerak ke selatan. Ini tak masuk akal.

Sehingga Chen Shou di catatan kakinya menulis, Wei Yan tidak langsung pergi ke Wei, kemungkinan karena ia hanya ingin membunuh Yang Yi, sehingga ia harus pergi ke selatan dulu. Mengapa harus membunuh Yang Yi? Menurut Chen Shou, karena melihat prestasi dan kedudukan Wei Yan saat itu, jika Yang Yi mati, maka Wei Yan yang seharusnya melanjutkan jabatan Zhuge Liang. Dengan demikian ia dapat terus melanjutkan ekspedisi ke utara. Chen Shou berpendapat bahwa itulah niatan Wei Yan, bukan ingin melakukan kudeta.

Maka kita dapat menyimpulkan bahwa kasus Wei Yan bukanlah kasus tentang kudeta, tetapi tentang konflik internal. Konflik internal antara Wei Yan dan Yang Yi. Pertanyaannya, dari mana perseteruan Wei Yan dan Yang Yi ini bermula?

Penyebabnya sebenarnya sangat remeh. Kita tahu Wei Yan saat itu adalah orang yang paling menonjol di Shu. Mungkin hanya di hadapan Zhuge Liang ia sedikit merendah. Namun di hadapan orang lain, ia selalu membanggakan diri. Sebab ia memang bertalenta dan banyak berjasa. Orang lain pun sungkan dan mengalah terhadap Wei Yan. Hanya satu orang yang tak mau, dia adalah Yang Yi. Yang Yi seorang cendekiawan, ia punya kebanggaan tersendiri sebagai kaum terpelajar, sehingga menganggap tak perlu sungkan kepada Wei Yan. Wei Yan pun tidak suka Yang Yi. Keduanya tidak akur dan bersitegang. Mereka tidak mampu duduk bersama, sebab setiap bertemu selalu bertengkar. Saat pertengkaran sangat hebat, Wei Yan mengeluarkan pedang mengancam Yang Yi dan Yang Yi menangis tersedu-sedu. Hanya ada satu orang yang sanggup melerai mereka, yaitu Fei Yi.

Mengapa Wei Yan bisa hebat?

Sebab ia adalah orang yang sangat dipandang dan disukai Liu Bei. Ketika Liu Bei menaklukkan Hanzhong dan hendak kembali ke Chengdu, ia harus mengangkat satu orang untuk tinggal memimpin Hanzhong. Saat itu semua orang mengusulkan Zhang Fei. Jika Guan Yu sudah memimpin Jingzhou, maka kali ini tentu Zhang Fei yang harus tinggal di Hanzhong. Namun tak disangka, Liu Bei malah mengangkat Wei Yan. Liu Bei lalu bertanya kepada Wei Yan, apa yang akan Wei Yan lakukan? Wei Yan menjawab dengan tegas, jika Cao Cao datang menyerang Hanzhong, ia akan menghadangnya dan menelan pasukan Cao Cao. Sungguh jawaban yang mengesankan dan penuh keberanian.

Bagaimana dengan Yang Yi? Yang Yi juga bukan orang sembarangan. Ketika Zhuge Liang melancarkan ekspedisi ke utara, segala persiapan logistik, perencanaan detil, semua dikerjakan oleh Yang Yi. Yang Yi melaksanakan semuanya dengan cepat. Sehingga Zhuge Liang sangat mengapresiasi Wei Yan dan Yang Yi. Sayangnya justru kedua orang ini malah berseteru. Zhuge Liang juga tak bisa menghilangkan salah satu dari keduanya. Ia hanya bisa sedapat mungkin menenangkan dan menyatukan mereka.

Namun Wei Yan dan Yang Yi tak bisa akur. Hingga saling benci sampai ke taraf salah satu harus mati.

Pertanyaannya sekarang, kematian Wei Yan adalah tanggung jawab siapa?

Kebanyakan sejarawan berpendapat, Yang Yi yang harus bertanggungjawab. Ada empat alasan: (1) Yang Yi membunuh Wei Yan atas dasar kebencian personal, (2) bagi seorang yang berjasa besar seperti Wei Yan, terlampau berlebihan jika harus dibunuh sampai tiga generasi keluarganya, (3) ditambah lagi dengan Yang Yi menginjak kepala Wei Yan, sungguh terlalu berlebihan, (4) Yang Yi menuduh Wei Yan kudeta, tetapi Yang Yi sendiri ternyata tidak bisa dibilang bagus. Yang Yi bangga karena kembali ke Chengdu dengan membawa sisa pasukan Zhuge Liang dengan selamat. Namun ia ternyata tidak mendapat apresiasi yang ia anggap layak ia dapat. Orang yang diangkat menggantikan Zhuge Liang ternyata adalah Jiang Wan. Padahal jabatan Jiang Wan sebelumnya lebih rendah dari Yang Yi. Dari segi kemampuan, Yang Yi menganggap Jiang Wan tidak sebaik dirinya. Setelah Jiang Wan naik pangkat, jabatan Yang Yi diturunkan. Yang Yi sangat tidak puas. Ia mengomel kepada Fei Yi. Lalu ia melontarkan kalimat, “Kalau tahu akhirnya begini, seharusnya aku ikut Wei Yan saja.” Fei Yi melaporkan perkataan Yang Yi ini ke istana. Yang Yi akhirnya dipecat. Setelah dipecat, Yang Yi masih mengomel dan mengkritik istana. Akhirnya ia ditangkap dan bunuh diri.

Maka hasil dari konflik Wei Yan dan Yang Yi adalah, dua-duanya musnah. Dan perkataan Yang Yi sekaligus menunjukkan Wei Yan tidak hendak melakukan kudeta.

Tapi Yang Yi di sini juga diperlakukan tak adil. Konflik Wei Yan dan Yang Yi adalah konflik personal, bukan konflik prinsip. Konflik personal tentu sulit disimpulkan siapa salah dan siapa benar. Yang Yi tidak sungkan kepada Wei Yan juga ada benarnya, sebab ini menunjukkan Yang Yi mempunyai ketegasan dan pendirian. Ia tidak ikut arus menjilat Wei Yan. Masalah sungkan dan jilat menjilat ini kerap terjadi di Shu. Pengalaman kasus Guan Yu juga demikian bukan? Semua sungkan dan memuji Guan Yu. Akhirnya? Jingzhou jatuh. Dan kalau kita lihat lebih jauh, dalam konflik Wei Yan dan Yang Yi sebenarnya yang lebih menjadi korban adalah Yang Yi. Ingat bagaimana Wei Yan mengacungkan pedangnya mengancam Yang Yi? Dan yang paling penting, Yang Yi patuh pada perintah. Bukankah Zhuge Liang yang memberi instruksi untuk Yang Yi lakukan? Justru Wei Yan yang tidak taat perintah. Maka tidak bisa langsung mengatakan Yang Yi yang salah. Kalau bukan salah Yang Yi, berarti apakah salah Wei Yan?

Tidak juga. Menurut Prof. Yi, Wei Yan juga tidak salah.

Bagaimana bisa?

Wei Yan jelas mengatakan, meskipun perdana menteri meninggal, Wei Yan masih ada. Memangnya Wei Yan tidak boleh melanjutkan ekspedisi ke utara? Mengapa hanya karena kematian satu orang, lantas membuat urusan negara jadi terhambat? Bukankah perkataan Wei Yan ini tidak salah?

Menurut catatan kaki Pei Songzhi di Records of the Three Kingdoms, Zhuge Liang masih memberikan satu perintah lagi. Perintah ini adalah perintah rahasia yang diberikan kepada Wei Yan, yaitu agar mengambil alih posisi Zhuge Liang, lalu mengawal jenazahnya pulang ke Chengdu.

Nah. Jika demikian, maka ini semua gara-gara Zhuge Liang? Kenapa Zhuge Liang memberikan dua perintah yang bertolak belakang? Bukankah berarti Zhuge Liang sudah mengadu domba Wei Yan dan Yang Yi? Sehingga ada sejarawan yang menyimpulkan bahwa kasus kematian Wei Yan adalah karena Zhuge Liang. Tidak hanya itu, akhir menyedihkan dari Yang Yi pun juga gara-gara Zhuge Liang, karena ia malah menginstruksikan untuk mengangkat Jiang Wan menggantikan posisinya.

Prof. Yi berpendapat, catatan kaki tersebut tidak dapat diandalkan. Pei Songzhi sendiri menulis di sana bahwa hal tersebut didengar dari kubu musuh. Hal yang berasal dari kubu musuh tentu sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dan untuk Wei Yan mengawal jenazah Zhuge Liang pun terasa aneh, sebab jenazah Zhuge Liang bukan ada di tempat Wei Yan berada, melainkan di tempat Yang Yi. Maka kesimpulan yang mengatakan semua ini akibat rencana Zhuge Liang pun tidak bisa kita terima.

Tetapi, di bagian lain dari Records of the Three Kingdoms mencatat perintah yang diberikan Zhuge Liang yang kita sudah sampaikan di awal tulisan ini. “Jika saya meninggal, perang ini tidak dapat dilanjutkan. Kita harus mundur. Saat mundur, harap Wei Yan menjaga barisan di belakang, dan Jiang Wei menjaga setelahnya. Jika Wei Yan tidak taat, kalian tidak usah pedulikan dia.” Perintah ini kelihatannya juga bermasalah bukan? Bukankah di situ jelas tertulis “jangan pedulikan Wei Yan”? Seolah membiarkan Wei Yan berperang sendiri melawan Cao Cao, sementara mereka yang lain pulang ke Chengdu. Mengapa Zhuge Liang mengeluarkan perintah seperti ini?

Ada tiga kemungkinan penjelasan: (1) Zhuge Liang sudah menduga Wei Yan akan membangkang. (2) Menurut Mr. Zhang Zuoyao, Zhuge Liang merencanakan pemberontakan Wei Yan. Ia membuat Wei Yan pasti memberontak, untuk melenyapkan Wei Yan. (3) Pendapat Mr. Lü Simian dan Mr. Chen Erdong, yaitu catatan di Records of the Three Kingdoms tersebut sama sekali tidak benar. Menurut mereka, yang terjadi adalah, Zhuge Liang mendadak sakit. Karena saking mendadaknya, maka Yang Yi, Jiang Wei, Fei Yi menyusun perintah palsu tersebut. Apakah ini mungkin? Tentu mungkin saja. Kita tahu sejarah Tiga Negara cukup sulit ditelaah. Contohnya kasus Ma Su di episode terdahulu.

Lalu bagaimana? Yang mana yang benar? Apakah ada alternatif penjelasan lain? Nantikan penjelasan tersebut di episode berikutnya.

(Gambar dari 百度百科)

Leave a Reply

Your email address will not be published.