Empat Legenda Rakyat Tiongkok Terbesar: Liang Shanbo dan Zhu Yingtai (Sampek Engtay)

Empat Legenda Rakyat Tiongkok Terbesar: Liang Shanbo dan Zhu Yingtai (Sampek Engtay)

Dahulu kala ada seorang tuan tanah bermarga Zhu, orang memanggil dia Zhu Yuanwai. Putrinya, Zhu Yingtai, tidak hanya cantik dan ramah, namun juga sangat pintar dan suka belajar. Tetapi karena di zaman itu perempuan tidak boleh bersekolah, Zhu Yingtai setiap hari hanya bisa bersandar di balik jendela, memandangi para pelajar yang membawa buku lalu-lalang, betapa irinya! Memangnya wanita hanya boleh menyulam di rumah? Kenapa aku tidak boleh bersekolah? Ia tiba-tiba bertanya pada diri sendiri, benar! Kenapa aku tidak bersekolah?

Sampai di sini, Zhu Yingtai segera kembali ke kamarnya, memberanikan diri memohon kepada orang tuanya, “Ayah, Ibu, aku ingin pergi ke Hangzhou untuk sekolah. Aku bisa memakai pakaian pria, berdandan seperti pria, pasti tidak akan ada yang mengenali. Mohon kabulkanlah permohonanku ini!” Zhu Yuanwai dan istrinya mulanya tidak setuju, namun karena Zhu Yingtai bersikeras, akhirnya mereka terpaksa menyetujuinya.

Keesokan harinya pagi-pagi, saat hari baru saja terang, Zhu Yingtai dibantu pembantunya berdandan seperti lelaki, lalu berpamitan kepada ayah ibunya, membawa buku, dengan gembira berangkat ke Hangzhou.

Saat sekolah hari pertama, Zhu Yingtai bertemu dengan teman sekelas pria bernama Liang Shanbo. Liang Shanbo prestasi belajarnya sangat bagus, ia juga berbudi baik. Zhu Yingtai berpikir, orang yang demikian baiknya, andai saja aku bisa setiap hari bersama dengannya, pasti bisa mempelajari banyak hal, juga pasti sangat bahagia. Sementara Liang Shanbo juga merasa ia berjodoh dengan Yingtai, timbul sebuah perasaan “walau pertama bertemu, sudah seperti teman lama”. Maka, mereka berdua sering bersama-sama mendiskusikan syair, sastra dengan sangat cocoknya. Mereka juga saling memperhatikan satu sama lain, selalu bersama, saling terbuka. Akhirnya, keduanya bersumpah menjadi saudara, dan hubungan keduanya semakin dekat tak terpisahkan.

Tak terasa tiga tahun telah lewat, masa sekolah telah usai. Saatnya untuk berkemas-kemas, berpisah dengan guru, kembali ke kampung halaman. Setelah hidup bersama selama tiga tahun, Zhu Yingtai sudah sangat mencintai Liang Shanbo. Sedangkan Liang Shanbo meski tidak tahu Zhu Yingtai adalah wanita, ia juga memiliki perasaan memuja yang sangat. Mereka berdua dengan berat hati berpisah, kembali ke rumah masing-masing. Siang malam saling merindu. Beberapa bulan kemudian, Liang Shanbo datang ke rumah Zhu, akhirnya membawa kejutan gembira baginya. Ternyata saat itu, Zhu Yingtai yang ditemuinya, sudah bukan lagi pelajar kecil yang rupawan, namun adalah seorang gadis muda nan jelita. Momen saat bertemu kembali itu, mereka menjadi mengerti perasaan satu sama lain, yaitu perasaan cinta.

Setelah itu, Liang Shanbo mengirim orang ke rumah Zhu untuk melamar Zhu Yingtai. Namun Zhu Yuanwai mana mungkin memperhatikan seorang pelajar miskin seperti Liang Shanbo. Ia telah menjodohkan putrinya kepada seorang kaya, yakni tuan Ma. Liang Shanbo sangat putus asa, sehingga jatuh sakit, dan tak lama ia pun meninggal.

Mendengar kabar Liang Shanbo telah meninggal, Zhu Yingtai yang selama ini terus berusaha melawan orang tuanya, menolak menikah, tiba-tiba berubah menjadi tenang. Ia memakai pakaian pengantin merahnya, berjalan masuk ke tandu pengantin. Pengawal pengantin di sepanjang jalan menabuh genderang, sangatlah meriah! Saat melewati makam Liang Shanbo, tiba-tiba timbul angin ribut, tandu terpaksa berhenti. Zhu Yingtai keluar dari tandu, melepaskan baju pengantinnya, dengan pakaian berkabung, perlahan melangkah ke depan makam. Ia berlutut dan menangis dengan kerasnya. Mendadak turun hujan badai, halilintar menyambar-nyambar, terdengar suara keras, makam itu terbuka. Zhu Yingtai seolah melihat wajah Liang Shanbo yang lembut itu, ia pun tersenyum dan melompat ke dalamnya. Timbul suara keras sekali lagi, makam itu pun tertutup. Saat ini badai reda, cuaca kembali cerah. Sepasang kupu-kupu yang cantik terbang keluar dari makam, menari-nari di bawah sinar mentari.

(Diterjemahkan dari Zhongguo Minjian Gushi Wang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.