Empat Legenda Rakyat Tiongkok Terbesar: Meng Jiang Nü Menangisi Tembok Besar

Empat Legenda Rakyat Tiongkok Terbesar: Meng Jiang Nü Menangisi Tembok Besar

Pada masa dinasti Qin, ada seorang wanita yang cantik dan baik hati, bernama Meng Jiang Nü. Suatu hari, ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tiba-tiba ia melihat di bawah tanaman anggur di halaman rumahnya ada orang yang sedang bersembunyi. Karena terkejut, ia hendak menjerit, namun orang itu menggoyang-goyangkan tangannya, lalu memohon, “Mohon jangan menjerit, tolonglah saya! Saya bernama Fan Xiliang, datang kemari karena sedang melarikan diri.” Ternyata saat itu Qin Shi Huang demi membangun tembok besar, sedang mengerahkan banyak orang untuk kerja paksa, dan sudah memakan banyak korban jiwa! Meng Jiang Nü pun menolong Fan Xiliang. Karena Fan Xialiang seorang yang santun dan terpelajar, berwajah tampan, ia jatuh cinta pada Fan Xiliang. Fan Xiliang sebaliknya juga menyukai Meng Jiang Nü. Mereka berdua saling mencintai, dan setelah mendapat restu dari orang tua, mereka bersiap hendak menikah.

Saat menikah, rumah keluarga Meng dihias dengan eloknya, tamu-tamu banyak berdatangan, sungguh merupakan pemandangan yang membahagiakan. Saat hari mulai gelap, para tamu satu demi satu mulai meninggalkan tempat itu. Kedua mempelai saat hendak masuk ke kamar pengantin, tiba-tiba terdengar suara keributan, lalu masuklah sekelompok tentara yang bengis, tanpa berkata-kata, langsung membelenggu Fan Xiliang dengan rantai besi, kemudian menyeretnya pergi ke tembok besar untuk bekerja. Suasana yang bahagia berubah menjadi kehampaan. Meng Jiang Nü sangat marah dan sedih, hari demi hari merindukan suaminya. Ia berpikir, daripada aku gelisah di rumah, lebih baik pergi ke tembok besar untuk mencari dia. Benar! Begitu saja! Meng Jiang Nü segera mengemasi barang bawaannya, dan berangkat.

Di sepanjang perjalanan, tak tahu berapa banyak angin hujan badai salju yang telah dialaminya, berapa banyak gunung dan sungai yang dilaluinya, namun Meng Jiang Nü tak sekalipun mengeluh, tak sekalipun menangis. Akhirnya, dengan tekad yang kuat, dan cinta yang dalam kepada suaminya, sampailah ia ke tembok besar. Saat itu tembok besar telah menjadi sebuah tembok yang sangat sangat panjang dan megah. Meng Jiang Nü dari satu tempat ke tempat lainnya terus mencari, namun tak menemukan jejak suaminya. Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada seorang pekerja yang hendak berangkat, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Fan Xiliang?” Pekerja itu berkata, “Ada, dia orang baru.” Meng Jiang Nü begitu mendengar hal ini, sangatlah gembira! Ia segera bertanya, “Di manakah dia?” Pekerja itu menjawab, “Sudah mati, mayatnya sudah terkubur di bawah tembok besar.”

Mendengar kabar buruk ini, bagaikan disambar geledek, Meng Jiang Nü hanya merasakan segalanya gelap. Dengan hati yang hancur, ia menangis dengan kerasnya. Sampai tiga hari tiga malam ia menangis, hingga langit bumi gelap karena ikut terharu. Langit makin lama makin gelap, angin makin lama makin keras, timbullah suara keras, dan robohlah seruas tembok besar, karena tangisan Meng Jiang Nü. Terlihatlah mayat Fan Xiliang. Air mata Meng Jiang Nü menetes di atas wajah Fan Xiliang. Ia akhirnya melihat wajah suaminya yang tercinta. Namun Fan Xiliang tak mampu melihat dirinya, sebab ia telah tewas karena kekejaman Qin Shi Huang.

(Diterjemahkan dari Zhongguo Minjian Gushi Wang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.