Asal Mula Festival Musim Semi(Chunjie/Tahun Baru Imlek)

Festival Musim Semi/Tahun Baru Imlek adalah hari raya terbesar dan terpenting di Tiongkok. Ia adalah hari pertama dalam kalender Imlek, dan biasanya jatuh di antara 30 Januari dan 20 Februari, merupakan awal musim semi, sehingga dikenal sebagai Chunjie(festival musim semi).

Festival tradisional ini juga adalah festival berkumpul; tak peduli seberapa jauh rumah seseorang, mereka akan berusaha kembali ke rumah untuk berkumpul dan makan bersama(chi tuanyuan fan).

Istilah dalam merayakan festival ini dalam bahasa Tionghoa adalah guo nian. Guo berarti “melewati” dan nian berarti “tahun”. Asal mula perayaan tahun baru Imlek berawal dari ribuan tahun lalu dengan berbagai perkembangan legenda dan tradisi. Menurut salah satu legenda yang paling terkenal, di Tiongkok zaman dulu hiduplah sebuah makhluk buas bernama Nian. Nian tinggal di dasar laut sepanjang tahun, dan ia naik ke daratan hanya pada malam tahun baru, untuk memakan hewan ternak dan membunuh manusia.

Maka pada setiap malam tahun baru, semua orang dari seluruh desa akan mengungsi, membawa serta orang-orang tua dan anak-anak, pergi ke pegunungan yang jauh untuk menghindari makhluk Nian. Pada suatu malam tahun baru, para penduduk desa bersiap-siap untuk bersembunyi. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis tua dari luar desa, ia memegang tongkat dan membawa sebuah tas. Matanya berkerlip bagaikan bintang dan jenggotnya bagaikan perak.

Karena panik dan takut pada Nian, penduduk desa cepat-cepat melarikan diri. Beberapa orang menutup jendela dan mengunci pintu, beberapa berkemas-kemas, dan yang lain menggiring ternak. Semua orang berteriak dan kuda-kuda meringkik, tidak seorang pun memperhatikan pengemis ini.

Hanya seorang nenek yang tinggal di timur desa memberikan makanan kepada pengemis tua itu. Nenek ini juga menyarankan sang pengemis untuk mengungsi ke pegunungan untuk menghindari Nian. Tetapi pengemis tua sambil mengelus jenggotnya berkata dengan tersenyum, “Jika engkau mengizinkan saya untuk tinggal di rumahmu malam ini, saya pasti akan mengusir Nian.”

Nenek tua terkejut mendengar perkataan pengemis. Ia memandang pengemis dengan perasaan ragu, tetapi ia juga mendapati bahwa sang pengemis dengan rambut putihnya dan kulit yang kemerahan, memiliki sikap yang tidak seperti orang biasa. Nenek tetap menyuruh pengemis untuk melarikan diri. Tetapi pengemis hanya tersenyum tanpa menjawab. Maka nenek pun akhirnya meninggalkan sang pengemis untuk pergi ke gunung.

Sekitar tengah malam, makhluk Nian datang ke desa. Ia merasakan atmosfer yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.  Rumah nenek yang berada di timur desa bersinar dengan terang, dengan kertas merah menempel di pintu. Begitu kagetnya, Nian melolong dengan keras.

Nian menatap rumah itu dengan marah, lalu dengan auman keras ia menerjang rumah itu. Saat mendekati pintu, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras. Nian gemetar sekujur tubuhnya, ia tidak berani melangkah maju.

Ternyata warna merah, api dan ledakan adalah hal-hal yang paling ditakuti oleh Nian. Dan ketika pintu rumah nenek terbuka, pengemis tua dengan jubah merah sedang tertawa di halaman rumah. Makhluk Nian ketakutan dan lari tunggang-langgang.

Keesokan harinya adalah hari pertama di tahun yang baru. Ketika penduduk desa kembali dari tempat persembunyian mereka dan mendapati keadaan desa tetap aman, mereka sangat terkejut. Nenek tua baru sadar apa yang telah terjadi dan ia memberitahu penduduk desa tentang janji pengemis tua.

Penduduk desa berbondong-bondong menuju rumah nenek, tetapi pengemis tua telah pergi. Di rumah itu hanya tersisa kertas merah yang menutupi pintu, bara api dari tumpukan bambu masih mengeluarkan suara letupan di halaman, dan beberapa lilin masih menyala di dalam ruangan rumah.

Kisah ini segera tersebar luas dan semua orang membicarakannya. Mereka menyimpulkan bahwa pengemis tua itu pastilah orang dari kahyangan yang datang untuk mengusir bencana dan memberkati penduduk. Kertas merah, kain merah, lilin merah, dan ledakan petasan adalah senjata untuk mengusir makhluk Nian.

Untuk merayakan datangnya keberuntungan itu, penduduk desa mengenakan baju baru dan topi baru mereka, lalu mengunjungi saudara dan teman-teman untuk memberi selamat. Hal ini segera tersebar ke desa-desa sekitar, dan semua orang pun mengetahui bagaimana mengusir Nian.

Sejak saat itu, setiap malam tahun baru, tiap keluarga menempeli pintu rumah mereka dengan duilian(kuplet antitesis) yang ditulis di kertas merah, membakar petasan, dan menerangi rumah mereka serta tidak tidur sampai larut malam. Pagi-pagi sekali di hari pertama tahun yang baru, mereka pergi ke rumah kerabat dan teman untuk memberikan ucapan selamat. Kebiasaan ini telah diturunkan dari generasi ke generasi, menjadikannya sebuah perayaan yang paling meriah di kalangan orang Tionghoa.

(Diterjemahkan dari China.org.cn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.