Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (17 – 隆中对策/Rencana Longzhong)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (17 – 隆中对策/Rencana Longzhong)

Pada episode ini, prof. Yi membahas tentang Rencana Longzhong (Longzhong Dui). Apa yang dimaksud dengan Rencana Longzhong? Rencana Longzhong adalah percakapan rahasia antara Liu Bei dan Zhuge Liang di Longzhong. San Guo Zhi menulis dengan jelas bahwa pembicaraan ini bersifat rahasia, hanya berlangsung antara Liu Bei dan Zhuge Liang. Bahkan Guan Yu dan Zhang Fei pun tidak ikut dalam pembicaraan ini.

Liu Bei mengawali pembicaraan dengan berkata, dinasti Han saat ini sedang dalam keadaan genting, Cao Cao sebagai menteri yang licik, memegang kekuasaan. Sedangkan kaisar kita sedang menderita. Menurut prof. Yi, kalimat pembuka oleh Liu Bei ini memang harus diucapkan. Liu Bei menyandang status sebagai famili dari keluarga istana. Ia menegaskan statusnya ini. Ia harus memberikan satu posisi yang jelas di dalam kancah politik saat itu. Ia harus mengembalikan dinasti Han pada koridornya. Dengan menjelaskan posisinya, Liu Bei dapat meminta pertolongan Zhuge Liang secara lebih mantap. Berikutnya Liu Bei menjelaskan kondisinya saat ini, yang belum cukup kuat dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia mohon Zhuge Liang berkenan memberikan saran.

Zhuge Liang menjawab dengan terlebih dulu memaparkan situasi negara saat itu. Yakni, sejak Dong Zhuo membuat kekacauan, masing-masing gubernur saling berebut kekuasaan. Dinasti Han kita sekarang telah sampai pada taraf orang tidak lagi mempedulikan apakah kaisar hidup atau mati, tetapi mereka lebih mengejar kekuasaan sendiri. Dalam keadaan seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya jelas. Kita juga harus merebut kekuasaan. Sebab tak peduli apa visi dan misi kita, entah itu melindungi kaisar, atau ambisi pribadi, tetap tak bisa lepas dari keharusan memiliki wilayah kekuasaan sendiri. Wilayah kekuasaan mutlak diperlukan untuk mewujudkan visi dan misi tersebut.

Maka dapat kita lihat bahwa pertanyaan Liu Bei dan jawaban Zhuge Liang memiliki maksud tersembunyi. Dan Zhuge Liang menjawab dengan sangat realistis dan konkrit. Satu hal yang patut kita pelajari dari Zhuge Liang adalah semangat praktikalnya. Liu Bei yang menyandang status sebagai keluarga istana, harus mengawali pembicaraan dengan menjelaskan statusnya itu, sebuah hal yang bersifat abstrak. Namun Zhuge Liang sebagai seorang politikus, langsung ke pokok permasalahan, pembicaraan rahasia ini harus langsung berbuah pada wujud konkrit apa yang harus dilakukan.

Lalu, Liu Bei selama ini terlunta-lunta, kekuatan militernya lemah, dapatkah memiliki wilayah kekuasaan? Zhuge Liang menjawab, dapat. Ia memberi contoh Cao Cao. Cao Cao jauh lebih lemah dari Yuan Shao (baik secara ketenaran maupun secara kekuatan pasukan), namun pada akhirnya dapat mengalahkan Yuan Shao. Karena apa? Takdir dan Usaha. Zhuge Liang hendak memberitahu Liu Bei, keberhasilan ada di tangan takdir, berusaha ada di tangan manusia. Kuncinya terletak pada berusaha. Bila Liu Bei saat ini bisa berusaha, maka bisa diibaratkan ia seperti Cao Cao saat itu, dan Cao Cao saat ini ibaratnya Yuan Shao saat itu. Yang lemah bisa mengalahkan yang kuat. Kuat dan lemah itu relatif, dan tidak kekal. Yang kuat bisa menjadi lemah, yang lemah bisa menjadi kuat, karena dua hal tadi, takdir dan usaha. Maka jelaslah apa yang hendak disampaikan oleh Zhuge Liang.

Hal yang mendasar sudah disampaikan dengan jelas, lebih jauh Zhuge Liang membeberkan usaha konkrit apa yang harus dilakukan. Wilayah utara sebagian besar sudah dikuasai Cao Cao. Apakah mereka dapat menyerang Cao Cao dan berusaha merebut kekuasaannya? Zhuge Liang berkata tidak. Cao Cao memiliki kekuatan militer, dan kaisar ada di bawah kendalinya. Ini tidak bisa dilawan langsung. Bagaimana dengan wilayah Sun Quan? Wilayah ini tiga generasi dikuasai keluarga Sun Quan (dengan demikian sudah sangat stabil), sangat strategis dan penuh orang-orang berbakat. Juga tidak bisa dilawan, hanya bisa dijadikan kawan. Lalu wilayah mana yang bisa direbut? Ada dua. Pertama, Jingzhou. Jingzhou adalah wilayah yang sangat strategis, juga tempat berkumpulnya orang-orang hebat. Jadi ini adalah tempat yang sangat baik. Dan lebih baik lagi, penguasanya lemah. Zhuge Liang berkata, “tempat ini sudah disediakan oleh sorga bagi Anda (Liu Bei)”, tinggal Anda mau atau tidak. Tempat kedua, Yizhou. Di zaman sekarang, Yizhou meliputi Sichuan, Chongqing dan bagian selatan Shanxi, sebuah wilayah yang besar. Kota Chengdu di Yizhou adalah kota yang makmur, tanahnya subur, posisinya strategis, gampang dipertahankan, susah diserang. Dan penguasa di Yizhou, Liu Zhang, serta Hanzhong, Zhang Lu, keduanya bukan pemimpin yang baik. Dengan kata lain, Yizhou juga merupakan “tempat yang dipersiapkan oleh sorga bagi Anda (Liu Bei)”.

Zhuge Liang lalu melanjutkan, setelah berhasil menguasai kedua wilayah ini, maka dengan popularitas Liu Bei, yang dipercaya oleh banyak orang, serta status Liu Bei sebagai keluarga kaisar, menjadi daya tarik untuk merekrut banyak orang hebat, Liu Bei akan memiliki basis wilayah yang sangat kuat. Lalu di basis wilayah ini, ada dua hal yang harus dilakukan, pertama, urusan dalam negeri dijalankan dengan baik, kedua, urusan luar negeri juga dijalin dengan kuat (hubungan dengan Sun Quan). Dengan demikian Liu Bei apabila sanggup mencapai taraf ini, maka bisa dikatakan ia telah memiliki sebuah negara yang merdeka. Lalu bagaimana? Begitu ada kesempatan (situasi negara berubah), Anda (Liu Bei) dapat mengutus seorang jenderal utama, membawa pasukan pergi ke utara Jingzhou, melewati Wancheng, menyerang Luoyang. Sedangkan Anda (Liu Bei) sendiri, memimpin pasukan dari Yizhou, melewati Qinchuan, menyerang Xi’an. Waktu itu, seluruh rakyat apakah tidak mengambil arak dan makanan, menyambut Anda (Liu Bei)? Dan dengan demikian, bukankah Anda telah berhasil?

Seluruh perkataan Zhuge Liang ini menghentakkan dan menyadarkan Liu Bei. Ternyata caranya demikian! Sungguh bagus sekali! Namun sayangnya, kita pada akhirnya tahu, target akhir rencana ini tidak tercapai. Mengapa tidak tercapai? Karena Zhuge Liang dengan jelas telah mengatakan, agar target ini tercapai, ada satu syarat, yakni bila ada kesempatan (bila kekuasaan Cao Cao mengalami kekacauan).
Apabila kita simpulkan, rencana Zhuge Liang ini bersifat dua arah, bisa maju menyerang, sekaligus bisa mundur bertahan. Kasus terbaik, tentu berhasil menjadi kaisar, menyatukan negara. Kasus terburuk, negara terbagi menjadi tiga, dan Liu Bei menjadi salah satu ‘raja’. Bukankah ini desain yang sangat hebat?

Betapa senangnya Liu Bei atas rencana Zhuge Liang ini. Sehingga sejak itu hubungan mereka berdua semakin hari semakin erat. Sampai-sampai Guan Yu dan Zhang Fei protes kepada Liu Bei. Namun Liu Bei menasehati mereka, bahwa mendapatkan Zhuge Liang, bagaikan ikan mendapatkan air. Padahal Rencana Longzhong Zhuge Liang ini pada saat itu masih berupa cek kosong. Bukan karena Zhuge Liang tak mampu, namun Liu Bei dan Zhuge Liang menghadapi jalan buntu. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam Rencana Longzhong adalah menguasai Jingzhou. Sedangkan saat itu Jingzhou dikuasai oleh Liu Biao. Sedangkan Liu Biao masih memiliki hubungan kerabat dengan Liu Bei. Demikian pula Zhuge Liang, ia juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Liu Biao. Jadi mereka terpaksa menunggu kesempatan. Dan pada akhirnya kesempatan itu datang, Liu Biao kehilangan Jingzhou.

Bahkan tujuh tahun sebelumnya, sebenarnya sudah ada satu orang yang sanggup memprediksi hal ini. Dan orang ini membeberkan rencana yang serupa dengan rencana Longzhong kepada Sun Quan. Siapakah dia? Lu Su. Mendengar nama Lu Su, mungkin kita terpengaruh Romance of the Three Kingdoms, menganggap Lu Su sebagai seorang yang jujur, setia, namun polos hingga ke taraf konyol. Sebenarnya Lu Su dalam kenyataan tidak demikian. Ia adalah seorang yang ksatria dan lugas. Ia juga seorang yang piawai berpolitik.

Suatu ketika Sun Quan dan Lu Su berbincang-bincang, Sun Quan mengatakan, “Dinasti Han sedang krisis, kekacauan melanda di semua penjuru negeri.” Kalimat ini sama dengan kalimat pembuka yang dilontarkan Liu Bei di atas. Sun Quan lalu melanjutkan bahwa ia juga ingin berbuat sesuatu bagi negara, menjaga kaisar. Sun Quan meminta saran dari Lu Su, apa yang harus dilakukan. Lu Su langsung memberikan tanggapan yang negatif. Menurutnya, apa yang diinginkan Sun Quan itu sulit tercapai, mengapa? Karena Cao Cao. Namun bukan berarti Sun Quan tidak bisa mengerjakan apa pun. Justru menurut Lu Su, Sun Quan tak dapat melindungi kaisar, namun Sun Quan dapat menjadi kaisar. Ia mengatakan, dinasti Han sudah tidak mungkin lagi dipulihkan, jadi tidak perlu memikirkan dinasti Han dan melindungi kaisar. Sementara Cao Cao, juga tak dapat disingkirkan dengan mudah. Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut Lu Su, Sun Quan harus memperkuat wilayahnya di Jiangdong saat ini, dan menunggu terjadi sesuatu di utara (sama dengan apa yang dikatakan Zhuge Liang). Saat utara (Cao Cao) mengalami kekacauan, saat itulah Sun Quan harus maju lewat jalur barat, memusnahkan Huang Zu, lalu Liu Biao, lalu menyerang Yizhou. Dengan demikian Sun Quan akan memiliki wilayah yang dibatasi seluruhnya oleh Changjiang (Cao Cao di utara, Sun Quan di selatan). Saat itu Sun Quan dapat mengangkat diri sebagai kaisar. Lalu tinggal menunggu kesempatan, menyerbu ke utara, menyatukan Tiongkok.

“Rencana Longzhong” versi Lu Su dan Zhuge Liang memiliki perbedaan. Mereka sama-sama berpendapat, negara terbagi tiga, baru menjadi satu. Namun tiga negara versi Lu Su adalah Sun Quan, Liu Biao, Cao Cao. Versi Zhuge Liang adalah Liu Bei, Sun Quan, Cao Cao. Ini tidak mengherankan, karena waktu Lu Su mengemukakan ide ini, Liu Bei belum jelas masa depannya. Perbedaan kedua adalah perbedaan tujuan. Zhuge Liang berpendapat, dinasti Han dapat dipulihkan. Sedangkan Lu Su jelas berkata, dinasti Han sudah tidak ada harapan lagi. Perbedaan ketiga, strategi Lu Su melihat bahwa saat itu negara sudah terbagi tiga, dan yang harus dilakukan adalah mengalahkan Liu Biao terlebih dahulu lalu menguasai Yizhou, membelah Tiongkok menjadi dua. Atau dengan kata lain, mengubah “tiga negara” menjadi “dinasti utara selatan”. Sedangkan versi Zhuge Liang, menguasai Jingzhou dulu, lalu Yizhou, dan menunggu Cao Cao dan Sun Quan bertarung satu sama lain, baru menyerang Cao Cao di utara dan Sun Quan di timur. Atau dengan kata lain, mengubah “tiga negara” menjadi “Han Timur dan Barat”. Pertanyaannya, apakah Sun Quan menerima rencana Lu Su ini?

Jawabnya tidak. Mengapa? Karena pembicaraan Sun Quan dan Lu Su ini terjadi saat Sun Quan baru berumur 18 tahun, baru saja mewarisi tahta dari kakaknya, Sun Ce. Situasi di dalam negeri Wu saat itu juga belum stabil.

Namun tujuh tahun kemudian, keadaan berubah. Muncul gagasan untuk menyerang Huang Zu. Gagasan ini muncul dari Gan Ning, mantan anak buah Liu Biao dan Huang Zu. Ia melontarkan ide untuk sesegera mungkin merebut Jingzhou. Ide ini ditolak oleh Zhang Zhao. Bagaimana akhir dari perdebatan ini? Nantikan di episode berikutnya, “Kekuasaan Jiangdong“.

Photo credit: kanegen / Visualhunt / CC BY

Leave a Reply

Your email address will not be published.