Implikasi Shio Monyet

Implikasi Shio Monyet

Dalam pencatatan tahun, tahun monyet merupakan tahun yang dinantikan. Pada urutan shio, monyet berada di posisi ke-9, ia bersesuaian dengan “shen” dalam sistem earthly branches. Sehingga dalam 12 masa pembagian waktu dalam satu hari, shenshi yaitu jam tiga hingga lima sore, disebut juga sebagai “waktu monyet”.

Monyet merupakan binatang yang paling mendekati kepintaran manusia. Ia bersifat pintar dan lincah. Monyet dapat melakukan beberapa gerakan manusia, dapat mengerti perilaku manusia, mahir memanjat, sangat lincah, sehingga dalam banyak kebudayaan, monyet melambangkan kepintaran dan evolusi, dan dengan demikian disukai orang. Dalam mitologi Tiongkok dan India, monyet memerankan peran pahlawan yang cerdik dan cekatan.

Menurut legenda, monyet adalah tetangga harimau. Mereka berhubungan baik bak saudara. Harimau berwibawa besar, menjadi raja binatang. Monyet menjadi asisten kepercayaan harimau. Saat harimau bepergian, monyet menggantikan posisinya sebagai raja. Ini adalah asal mula peribahasa “Tak ada harimau di gunung, monyet pun menjadi raja”.

Konon suatu hari, harimau tertangkap oleh pemburu. Untungnya monyet kebetulan melintas, dan harimau berteriak memanggilnya, “Adik, tolong aku!” Monyet mendengar, lalu melepaskan jerat harimau, sehingga harimau dapat melepaskan diri. Harimau berterima kasih pada monyet, namun dalam hatinya merasa tak senang: Aku adalah raja, terperangkap jerat pemburu, malah dilepaskan oleh monyet, kalau hal ini tersebar ke luar, mau ditaruh di mana wibawaku? Maka ia berniat melenyapkan monyet. Tetapi ia juga berpikir, tanpa monyet, ia akan sendirian, tak ada yang membantunya lagi. Maka ia pun berpesan pada monyet untuk merahasiakan kejadian hari itu. Monyet yang takut harimau, tentu menyetujuinya.

Entah kapan, Kaisar Giok memilih shio bagi manusia, dengan syarat haruslah binatang yang berjasa bagi manusia. Monyet yang belum punya jasa, sangat ingin menjadi salah satu shio. Maka ia pun minta bantuan harimau yang telah menjadi shio. Harimau merekomendasikan monyet kepada kaisar, bahwa monyet adalah binatang yang paling pintar, saat harimau tak di tempat, monyet telah berjasa menggantikan posisinya. Kaisar Giok pun setuju untuk mengangkat monyet sebagai salah satu shio, dengan urutan ke-9. Harimau dalam hal ini pun telah membayar hutang budinya pada monyet, namun hatinya selalu merasa tak bahagia. Sejak itu, monyet dan harimau putus hubungan, sehingga para hewan pun tidak takut lagi kepada monyet.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Photo credit: romantic wench via Visualhunt / CC BY-NC-SA

Leave a Reply

Your email address will not be published.