Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (06 – 一错再错/Mengulangi Kesalahan)

Di pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan, di dalam tahun 190 hingga 200, cuma Cao Cao yang bisa disebut “pahlawan di masa kacau”. Bagaimana dengan pemimpin lainnya? Di antara mereka, yang paling punya kekuatan dan peluang adalah Dong Zhuo, Yuan Shao dan Yuan Shu. Namun mereka semua melakukan kesalahan besar di dalam berpolitik. Pokok permasalahannya adalah bagaimana memperlakukan kaisar. Sistem pemerintahan waktu itu adalah kerajaan, sehingga kaisar merupakan peran yang penting.

Pertama prof. Yi membahas Dong Zhuo. Di antara ketiga pemimpin tadi, perlakuan Dong Zhuo terhadap kaisar adalah yang paling liar. Ia melengserkan kaisar saat itu, Liu Bian, dan menggantinya dengan adiknya, yaitu pangeran Chenliu, Liu Xie. Menurut Dong Zhuo, Liu Bian terlalu lemah, tidak mampu menjadi pemimpin. Sedangkan Liu Xie pintar dan mampu menjadi pemimpin. Hal ini memang ada benarnya. Ketika terjadi kekacauan di istana, Liu Bian dan Liu Xie sempat terlantar dan terlunta-lunta di luar istana. Ketika mereka ditemukan kembali dan dijemput oleh Dong Zhuo, Liu Bian cuma bisa menangis, sedangkan Liu Xie yang masih berusia 9 tahun tetap tegar dan sanggup menceritakan apa yang mereka alami dengan lancar.

Namun menurut prof. Yi, hal ini bukanlah alasan yang sesungguhnya bagi Dong Zhuo untuk mengganti kaisar. Dong Zhuo mengerti dengan jelas, ia hendak mencengkeram kaisar ke dalam genggaman tangan sendiri, sehingga kaisar hanyalah dijadikan bagai boneka saja. Namun jika demikian, bukankah seharusnya jika kaisar adalah seorang yang lemah, akan lebih baik? Kenapa Dong Zhuo justru mengganti Liu Bian yang lemah dengan Liu Xie yang lebih mampu?

Alasannya adalah karena Dong Zhuo mengerti bahwa pasukan yang dibawanya dari barat daya adalah pasukan barbar, yang tidak mampu mengerjakan pekerjaan besar. Dong Zhuo masih memerlukan sebuah wibawa di istana, yang sanggup membuat para menteri, pejabat untuk tunduk kepadanya. Maka Dong Zhuo pun menunjukkannya dengan mengganti kaisar, dengan harapan para menteri dan pejabat itu mau tidak mau lagi tunduk total kepadanya. Namun Dong Zhuo tidak menyadari bahwa mengganti kaisar adalah kesalahan besar. Para pejabat malah menentang dengan keras. Rakyat pun demikian. Kaisar adalah pimpinan tertinggi, dasar dari negara, mana bisa sembarangan diganti? Dong Zhuo pun menjadi sasaran kebencian seluruh negara. Hal ini juga merupakan salah satu penyebab gagalnya Dong Zhuo.

Sejak terbentuknya pasukan Guan dong, dan Yuan Shao menjadi pemimpinnya, timbullah ambisi di dalam diri Yuan Shao. Namun ambisi ini tidak didukung oleh keberanian. Yuan Shao tidak berani memimpin pasukan Guan dong menyerang Luoyang dan Chang’an. Apa yang dilakukan Yuan Shao? Dia malah mengangkat kaisar lain, membuat negara baru. Dia hendak mengangkat Liu Yu sebagai kaisar. Namun rencana Yuan Shao ini tidak berhasil. Ini karena Liu Yu sendiri tidak mau menjadi kaisar. Cao Cao juga tidak setuju. Yuan Shao sempat meminta pendapat Cao Cao untuk hal ini. Memang dalam keadaan darurat, bisa saja sebuah negara membentuk pemerintahan baru di kota lain atau bahkan di luar negeri. Namun hal ini harus dengan syarat bahwa penguasa saat ini sudah tidak ada atau sudah tergulingkan. Yuan Shao juga meminta pendapat adiknya, Yuan Shu. Tetapi Yuan Shu juga tidak setuju, karena Yuan Shu memang pada dasarnya memandang rendah Yuan Shao, yang dilahirkan oleh gundik, bukan ibu resmi.

Yuan Shu sudah punya ambisi sendiri, yaitu mengangkat diri sendiri menjadi kaisar. Yuan Shu beralasan bahwa dinasti Han sudah mendekati ambang kehancuran. Dan ia menganggap hanya keluarga Yuan yang memenuhi syarat menggantikan keluarga Liu. Keluarga Yuan sudah empat generasi menjabat sebagai pejabat tinggi. Dan alasan terakhir adalah, di antara anggota keluarga Yuan, yang paling layak menjadi kaisar adalah dirinya sendiri, sebab ia adalah anak dari ibu resmi. Yuan Shu saat itu juga memiliki benda istimewa, yaitu stempel kekaisaran. Stempel ini mulanya ditemukan oleh Sun Jian saat ia dengan berani menyerbu Dong Zhuo ke istana, lalu dirampas oleh Yuan Shu. Dengan dipegangnya stempel ini di tangan Yuan Shu, Yuan Shu menganggapnya sebagai pertanda bahwa memang dirinyalah yang harus menjadi kaisar. Maka tahun 197, Yuan Shu dengan resmi mengangkat diri sendiri sebagai kaisar.

Tindakan Yuan Shu ini juga mendapat tentangan dari banyak pihak. Pertama dari para bawahannya sendiri. Misalnya Sun Ce. Sun Ce sebenarnya punya hubungan baik dengan Yuan Shu. Tetapi begitu mendengar bahwa Yuan Shu menjadi kaisar, Sun Ce segera memutuskan hubungan. Yuan Shu kemudian meminta dukungan Lü Bu, dengan jalan hendak mengawinkan putranya dengan putri Lü Bu. Lü Bu langsung menolak dan menyampaikan surat Yuan Shu ke istana. Yuan Shu marah dan menyerang Lü Bu, tetapi akhirnya kalah. Akhirnya Cao Cao juga turun tangan. Cao Cao yang saat itu sudah mengamankan kaisar dan memiliki kekuatan yang cukup besar, menyerang Yuan Shu. Yuan Shu mendengar hal ini, kaget setengah mati, langsung melarikan diri. Di tengah perjalanan, ia menyadari bahwa makanan sudah habis. Makanan mereka telah dibagi-bagi oleh bawahan Yuan Shu sendiri kepada masyarakat yang sedang kelaparan. Mereka sadar bahwa mereka sudah tidak akan selamat lagi, maka lebih baik sebelum mati melakukan sedikit amal.

Yuan Shu meninggal dengan mengenaskan. Di dalam kondisi tanpa makanan, ia mengeluh panjang, muntah darah dan mati. Apakah waktu itu Yuan Shu sempat memikirkan, di dalam waktu tiga setengah tahun menjadi kaisar palsu, bagaimanakah nasib rakyat di wilayahnya? Waktu itu rakyat mengalami kelaparan hebat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa Yuan Shao lebih cakap dalam hal politik daripada Yuan Shu. Bagaimana dengan Cao Cao? Cao Cao lebih cakap lagi. Cao Cao berhasil memanfaatkan kaisar untuk kepentingan kekuasaannya, tapi sampai di akhir hidupnya, ia tidak pernah menyebut diri sebagai kaisar, meski waktu itu ia punya kekuasaan yang sangat tinggi yang setara dengan kaisar sendiri.

Bagaimanakah kelihaian Cao Cao ini? Akan dibahas di episode selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.