Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (33 – 白衣渡江/Baju Putih Menyeberangi Sungai)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (33 – 白衣渡江/Baju Putih Menyeberangi Sungai)

Lü Meng dan Lu Su adalah sahabat, sama seperti Zhou Yu dan Lu Su adalah sahabat. Maka kita bisa melihat di kubu Wu, meskipun pandangan politik tokoh-tokohnya kerap kali berbeda, tetapi ini tidak menghalangi mereka menjadi sahabat (sebuah pesan bagi kita di Indonesia yang masih sering terpecah belah hanya karena pandangan politik yang berbeda!).

Hubungan antara Lü Meng dan Lu Su juga memiliki unsur dramatis. Tahun ke-15 Jian’an, Zhou Yu meninggal. Lu Su menjadi penggantinya. Saat mulai menjabat, ia melewati wilayah pertahanan yang dipimpin oleh Lü Meng. Bawahan Lu Su menyarankan untuk mengunjungi Lü Meng, sebab katanya Lü Meng sekarang sudah berbeda dengan Lü Meng yang dulu. Apa maksudnya?

Lü Meng berasal dari keluarga yang miskin. Ia murni mengandalkan keberaniannya berperang, selangkah demi selangkah naik pangkat. Namun tingkat pendidikan Lü Meng rendah. Ia juga tidak suka belajar. Bahkan ketika harus memberikan laporan kepada Sun Quan, karena ia tidak bisa menulis, ia harus mendiktekan apa yang harus ia laporkan kepada seorang juru tulis. Maka ketika Lü Meng menduduki jabatan yang cukup penting, Sun Quan memanggil Lü Meng serta satu orang lagi bernama Jiang Qin. Sun Quan berkata, “Kalian sekarang memegang jabatan penting, memimpin banyak prajurit, mengemban tanggung jawab yang berat. Kalian tidak boleh tidak bisa baca tulis. Kalian harus belajar.” Lü Meng menjawab, “Urusan militer sudah begitu banyak, kapan ada waktu belajar dan membaca buku?” Sun Quan berkata, “Saya menyuruh kalian belajar, bukan supaya kalian jadi sarjana atau jadi doktor, tetapi hanya agar kalian tahu sedikit tentang sejarah. Urusan kalian banyak, tapi sudah pasti tidak lebih banyak dari urusan saya. Tidak lebih banyak dari urusan Guang Wudi, tidak lebih banyak dari urusan Cao Cao. Lihatlah Guang Wudi ketika ia berperang, ia tak pernah lepas dari membaca buku. Sama halnya dengan Cao Cao, sibuk berperang, tetapi tak pernah lepas dari buku. Bagaimana kalian bisa cari alasan untuk tidak baca buku?” Lü Meng mendengar petuah Sun Quan ini, mulailah ia belajar. Menurut Prof. Yi, Lü Meng adalah orang yang jenius. Karena menurut Prof. Yi, inti dari membaca buku, bukan sepenuhnya terletak pada berapa banyak buku yang dibaca, bukan juga terletak pada seberapa besar upaya kita membaca, tetapi yang penting adalah kesadaran kita, kejeniusan kita. Orang yang tak punya kejeniusan, tak punya kesadaran, selamanya membaca buku, hanya akan membaca buku secara ‘mati’. Tak ada gunanya. Lü Meng justru adalah orang yang sangat jenius dengan kesadaran yang sangat tinggi. Setelah belajar dan membaca buku, ia memiliki perubahan yang sangat besar. Tetapi Lu Su tidak tahu hal ini. Ia masih agak memandang rendah Lü Meng. Ia hanya merasa, Lü Meng sekarang punya jabatan tinggi, sekarang kebetulan melewati tempat Lü Meng, jadi tak ada salahnya mampir.

Lü Meng menyambut Lu Su dengan meriah. Setelah perjamuan, Lü Meng bertanya pada Lu Su, “Tuan sekarang menggantikan Zhou Yu, memimpin daerah yang bersebelahan dengan daerah Guan Yu, tolong tanya, Tuan ada rencana apa?” Lu Su karena agak memandang rendah Lü Meng, tak ingin banyak berdebat, ia menjawab sekenanya, “Lihat situasi saja.” Lü Meng berkata, “Tak bisa seperti itu. Kalian dengan Liu Bei di permukaan kelihatannya baik-baik saja, tetapi Guan Yu adalah ancaman besar. Bagaimana bisa kita hanya berpangku tangan? Mohon Tuan dengarkan beberapa saran dari saya…” Lü Meng memberikan beberapa strategi. Apa yang dikatakan Lü Meng? Kita tidak tahu. Ini tidak dicatat dalam buku sejarah. Tetapi kita tahu Lu Su setelah mendengar hal ini, sangatlah terkejut. Ia tidak menyangka Lü Meng bisa berpikir sedalam itu. Tak terasa Lu Su sambil mendengarkan, sambil berangsur mendekati Lü Meng, dan akhirnya ia menepuk-nepuk punggung Lü Meng sambil berkata, “Lü Meng, tak disangka engkau begitu terpelajar.” Lü Meng menambahkan, “apalagi Guan Yu selama pergi berperang, juga tak pernah lepas dari membaca buku. Ia bukan lawan yang enteng.” Maka setelah peristiwa ini, Lu Su pun mengunjungi ibu Lü Meng, dan mereka berdua menjadi saudara angkat.

Tetapi bagaimana pun juga, pandangan politik kedua orang ini tetap tidak sama. Lu Su meskipun telah mendengar strategi yang rinci dari Lü Meng, ia tetap tidak menjalankannya. Lu Su tetap berpendirian untuk menjaga aliansi Sun Quan dan Liu Bei.

Namun sampai tahun ke-22 Jian’an, Lu Su meninggal dan Lü Meng menggantikannya. Keadaan sekarang berbeda. Lü Meng segera mengajukan rencananya kepada Sun Quan. Ada tiga hal yang ia sampaikan: (1) Menghadapi Cao Cao, apakah harus mengandalkan Guan Yu? Mengandalkan Guan Yu adalah ide dari Lu Su. Lu Su menganggap, Cao Cao adalah lawan yang berat, sehingga mereka perlu memperlakukan Guan Yu dengan baik. Menurut Lü Meng, tidaklah harus demikian. Hanya dengan menempatkan beberapa orang di beberapa tempat strategis, mereka sudah cukup mampu mengimbangi Cao Cao. Tak perlu Guan Yu lagi. (2) Apakah Guan Yu dapat diandalkan? Menurut Lü Meng tidak. Guan Yu sama sekali tak dapat diandalkan. Sun Quan sependapat. Tetapi Sun Quan punya pertanyaan, (3) menyerang Xuzhou dulu atau menyerang Jingzhou dulu? Menurut Lü Meng, Xuzhou bukan masalah. Merebut Xuzhou adalah hal yang mudah. Tetapi Xuzhou sulit dipertahankan, karena Xuzhou adalah dataran yang rata. Ia mudah dijalani oleh pasukan kavaleri dari utara. Jadi sebaiknya menyerang Jingzhou. Jingzhou dapat direbut, juga dapat dipertahankan. Sun Quan setuju, dan mereka mempersiapkan diri merebut Jingzhou.

Tetapi Guan Yu adalah lawan yang sulit dihadapi. Mereka harus menunggu kesempatan yang tepat. Pada tahun ke-24 Jian’an, kesempatan ini datang. Ketika itu, pasukan Liu Bei sampai di Hanzhong. Saat itu Liu Bei sudah menguasai Shu, termasuk Hanzhong. Keseluruhan Yizhou sudah menjadi milik Liu Bei. Ketika itu juga, Guan Yu maju menyerang Xiangyang dan Fancheng. Ini adalah pertempuran Xiang Fan yang terkenal itu. Pada awalnya, Guan Yu cukup berhasil. Di Fancheng terjadi bencana banjir besar. Ini adalah banjir yang menenggelamkan tujuh pasukan bantuan yang dikirim Cao Cao dan dipimpin oleh Yu Jin. Guan Yu dengan perahu mengikuti air bah dan berhasil menangkap Yu Jin, serta membunuh panglima lainnya yang terkenal, yaitu Pang De. Saat itu yang menjaga Fancheng adalah Cao Ren. Strategi Cao Ren adalah mempertahankan mati-matian. Pada saat yang sama, Cao Cao mengirim Xu Huang untuk membantu. Maka di titik ini, kedua pihak berada dalam kondisi jalan buntu. Cao Ren yang bertahan mati-matian ditambah dengan bantuan Xu Huang, serta kubu Guan Yu dan pasukannya. Guan Yu tak bisa maju, juga tak bisa mundur. Ia memerlukan tambahan pasukan. Tetapi bila mendatangkan bantuan, maka basisnya di selatan akan menjadi kosong. Ia menjadi bimbang. Saat inilah, Lü Meng memberitahu Sun Quan: kesempatan telah tiba.

Karena Guan Yu sedang bimbang, maka Lü Meng mengusulkan untuk mempengaruhi Guan Yu supaya ia mengerahkan semua pasukannya dari selatan, supaya basis Guan Yu di selatan menjadi kosong. Bagaimana cara Lü Meng mempengaruhi Guan Yu? Lü Meng melakukan tiga hal: (1) Berpura-pura bersahabat. Ini sebenarnya sudah dilakukan Lü Meng sejak ia menggantikan Lu Su. Kita tahu bahwa Lu Su senantiasa menjaga hubungan kedua belah pihak terjalin baik. Ketika Lü Meng menggantikan Lu Su, meskipun Lü Meng berkeinginan membasmi Guan Yu, tetapi di permukaan, ia tetap menjalin persahabatan dengan kubu Guan Yu, bahkan lebih baik ketimbang Lu Su. Otomatis kubu Guan Yu sama sekali tidak curiga, mereka mengira Lü Meng tetap berkebijakan sama seperti Lu Su. (2) Berpura-pura sakit. Lü Meng berkata kepada Sun Quan, Guan Yu bimbang karena khawatir Lü Meng dari belakang akan melancarkan serangan. Lü Meng yang biasa sering sakit, memohon kepada Sun Quan untuk mengumumkan ia saat ini sedang sakit, dan pulang ke Jianye untuk berobat. Sun Quan menuruti saran ini. (3) Berpura-pura tak berdaya. Lü Meng ketika berpura-pura pulang ke Jianye untuk berobat, ia melewati daerah yang dipimpin oleh Lu Xun. Mereka berbincang, dan Lu Xun berkata, “Guan Yu di perbatasan adalah ancaman besar, bagaimana Anda bisa pulang untuk berobat sekarang?” Lü Meng masih berpura-pura sakit, ia menjawab bahwa sakitnya terlalu parah, ia harus pulang. Lu Xun berkata, “Baiklah jika demikian. Namun setibanya di ibukota, mohon Anda memberitahu tuanku Sun Quan, bahwa saat ini adalah saat yang paling tepat untuk mengalahkan Guan Yu.” Menurut Lu Xun, Guan Yu adalah orang yang punya kecongkakan, di saat ini adalah puncak ia merasa congkak, sebab ia telah menenggelamkan tujuh pasukan Cao Cao, menawan Yu Jin, dan mulai mengancam daerah utara. Sehingga inilah saat paling pas untuk mengalahkan Guan Yu. Lü Meng menjawab, “Saya rasa tidak demikian. Justru saat ini Guan Yu paling berbahaya. Dengan pencapaian besar sekarang ini, percaya dirinya berada di titik paling tinggi. Tak mudah mengalahkannya.”

Tetapi begitu tiba di Jianye, ia langsung memohon kepada Sun Quan agar Lu Xun diangkat menjadi pengganti dirinya. Mengapa? Ada tiga alasan. (1) Lu Xun memiliki perhitungan jangka panjang nan mendalam. (2) Lu Xun punya kemampuan yang cukup mumpuni. (3) Lu Xun belum dikenal banyak orang. Meski ia berbakat, ia belum terkenal. Guan Yu pasti akan menganggap enteng Lu Xun. Sedangkan justru saat ini saat paling tepat untuk mengelabui Guan Yu. Tidak ada orang yang lebih tepat selain Lu Xun untuk menggantikan Lü Meng. Sun Quan menuruti. Lu Xun pun menggantikan Lü Meng.

Sesampainya di garis depan, Lu Xun langsung menulis surat kepada Guan Yu. Surat ini ditulis dengan bahasa yang sangat bermutu dan elegan. Lu Xun memang seorang yang sangat terpelajar. Dan memang di kubu Guan Yu, citra Lu Xun adalah seorang cendekiawan. Dengan surat seperti ini, stereotipikal Lu Xun seorang cendekiawan semakin kuat. Apa isi suratnya? Pertama, Lu Xun memuji pencapaian Guan Yu. Kedua, Lu Xun merendahkan dirinya sendiri. Ia mengatakan, “Saya seorang kutu buku, seorang cendekia, tak mampu berperang. Saya tak tahu kenapa tuanku Sun Quan mengirim saya kemari. Tapi saya pikir, ini baik juga. Saya dapat belajar banyak dari Anda jenderal Guan. Mohon jenderal Guan sudi mengajari saya.” Ketiga, mengucapkan selamat. Ia menyampaikan selamat dari seluruh Wu atas keberhasilan Guan Yu baru-baru ini. Kemenangan ini adalah kemenangan aliansi mereka bersama. Bukankah musuh mereka bersama adalah Cao Cao? Keempat, Lu Xun berpura-pura mengingatkan Guan Yu. Lu Xun berkata, Cao Cao adalah seorang yang licik. Ia tak akan mungkin hanya karena kalah sekali ini lalu menyerah. Ia pasti akan melancarkan serangan balik. Maka Lu Xun mohon supaya Guan Yu berhati-hati. Lu Xun menutup, “Tentu ini semua hanyalah omongan seorang kutu buku.” Sudah barang tentu maksud tersembunyi Lu Xun adalah, Cao Cao akan mengirim bantuan, sehingga Guan Yu harus mengirim bantuan pula.

Bagaimana reaksi Guan Yu menerima surat ini? Ia berkata, “Hmm, Sun Quan ini benar-benar, dari generasi ke generasi semakin merosot saja. Lihat saja, pemimpin mereka dulu siapa, Zhou Yu. Zhou Yu orang yang hebat. Sayang sekali umurnya pendek. Digantikan Lu Su, juga orang berbakat. Tapi ia orangnya suka damai. Lu Su digantikan Lü Meng, juga orang yang pintar berperang, sayangnya penyakitan. Akhirnya digantikan oleh Lu Xun, apa-apaan? Seorang kutu buku.” Guan Yu dengan demikian pun tak mengindahkan Wu di selatan, ia mulai menggerakkan gelombang demi gelombang pasukan dari selatan untuk membantu di garis depan.

Guan Yu sama sekali tak menyangka. Penyakitan, kutu buku, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang lihai. Dan sama sekali tak menyangka, sahabat aliansi ini sekarang diam-diam telah bersekutu dengan musuh yang ada dihadapannya. Liu Bei mendapatkan Yizhou dan Hanzhong, ditambah dengan Guan Yu di Nanjun, maka daerah atas sungai Chang, telah sepenuhnya dikuasai Liu Bei. Bagi kubu Wu yang berada di daerah bawah sungai Chang, ini adalah ancaman yang sangat besar. Mereka tak sadar bahwa dengan perubahan kondisi seperti ini, Wu telah mengalihkan status musuh nomor satu dari Cao Cao ke Liu Bei. Saat ini, Sun Quan bukanlah berambisi melenyapkan Liu Bei untuk memperluas kekuasaan diri, tetapi justru hendak mempertahankan diri dari Liu Bei. Dalam kondisi mempertahankan diri seperti ini, bagaimana mungkin ia masih mempertahankan aliansi kedua belah pihak? Lagipula, seharusnya Liu Bei sudah tahu bahwa Sun Quan dari awal sudah bermain mata dengan Cao Cao. Dan lagi, mereka juga seharusnya sudah sadar, bahwa saat ini Cao Cao perlu untuk beraliansi dengan Sun Quan.

Menurut catatan San Guo Zhi, pergerakan Guan Yu, setelah membunuh Pang De dan menawan Yu Jin, menggemparkan dataran tengah. Cao Cao pun sampai harus melakukan rapat untuk membahas hal ini, membicarakan kemungkinan memindahkan ibukota untuk menghindar dari Guan Yu. Meski di kalangan akademis masih timbul perdebatan apakah memang benar Cao Cao sampai hendak memindahkan ibukota, tetapi paling tidak, kita dapat pastikan sepak terjang Guan Yu ini menakutkan kubu Cao Cao. Maka dalam pertemuan ini, Sima Yi dan kawan-kawan mengusulkan untuk bergabung dengan Sun Quan. Menurut Sima Yi dan rekan, keberhasilan Liu Bei pasti merupakan sebuah ancaman bagi kubu Sun Quan. Keinginan Sun Quan sebenarnya jelas, saat perang Chibi, Sun Quan hendak menjadikan Liu Bei sebagai anak buah. Tapi sekarang Liu Bei telah menjadi besar, ia tak akan bersedia. Sehingga Sima Yi dan Jiang Ji mengusulkan untuk menjalin aliansi dengan Sun Quan. Cao Cao setuju dan memberi sinyal kepada Sun Quan. Sun Quan langsung menerima, dengan catatan, mohon untuk dirahasiakan. Semua bawahan Cao Cao setuju untuk semuanya dirahasiakan. Tetapi ada satu orang tak setuju. Ia adalah Dong Zhao. Mengapa? Menurut Dong Zhao, merahasiakan hal ini, akan menguntungkan bagi Sun Quan. Tetapi dengan membeberkan semuanya, akan menguntungkan pihak Cao Cao. Apabila dibeberkan, apa yang akan terjadi? Paling buruk adalah Guan Yu mengetahui semuanya. Lalu apa yang akan dilakukan Guan Yu? Ada dua kemungkinan. Pertama, ia langsung berbalik arah memukul Sun Quan, dengan demikian tekanan terhadap Fancheng bukankah akan menjadi reda? Kemungkinan kedua, tentu adalah Guan Yu tidak berbalik, tetapi tetap menggempur kita. Dalam hal ini, kubu Sun Quan akan menekan dari belakang. Kedua kemungkinan tetap menguntungkan kita. Cao Cao setuju.

Cao Ren begitu mengetahui hal ini, langsung mengumumkan bahwa Sun Quan akan menyerang Guan Yu dari belakang. Seluruh pasukan bersorak dan moral mereka bangkit, karena muncul harapan. Bagaimana dengan Guan Yu? Setelah mengetahui hal ini, Guan Yu menjadi bimbang. Bila sekarang ia mundur, Fancheng yang sudah di ambang genggaman tangan, akan lepas dan seluruh yang ia sudah lakukan menjadi sia-sia. Tetapi ia menganggap daerah di selatan, tetap tak akan dapat direbut dengan mudah oleh Sun Quan. Maka ia memutuskan untuk tidak mundur. Begitu Guan Yu tidak mundur, pasukan Cao Cao yang telah tinggi moralnya, ditambah dengan bala bantuan untuk Xu Huang, langsung menyerang Guan Yu. Guan Yu kalah. Ia mau tak mau harus mundur. Kepungan atas Fancheng menjadi longgar.

Bagaimana dengan Sun Quan? Saat di awal tadi mengetahui pasukan Guan Yu maju ke Fancheng, Lü Meng langsung sembuh dari “sakit”nya. Dan Lu Xun sudah tak menjadi kutu buku lagi. Mereka bergerak dari dua arah, menggempur basis Guan Yu di Nanjun. Dan Lü Meng menggunakan taktik “Baju Putih Menyeberangi Sungai”. Ia memerintahkan semua prajuritnya mengenakan baju putih. Semua menyamar sebagai pedagang. Perahu-perahu perang disamarkan menjadi perahu barang. Seiring sungai Chang, berlayar menuju Jiangling. Mereka dengan mudah menyelinap dan membuat pasukan penjaga Jiangling dan Gong’an semuanya menyerah. Lü Meng sama sekali tanpa menumpahkan darah, berhasil merebut Nanjun. Pasukan Lu Xun juga meraih kemenangan dengan lancar. Ia melancarkan serangan hingga ke Xiakou, dan berhasil menghambat pasukan bantuan dari Liu Bei.

Dengan demikian sekarang Guan Yu terkepung dari tiga penjuru. Bagaimanakah nasib Guan Yu? Nantikan di episode berikutnya.

Photo credit: Dοn on Visual Hunt / CC BY-NC-SA

Leave a Reply

Your email address will not be published.