Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (48 – 殊途同归/Berbeda namun Satu Akhirnya)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (48 – 殊途同归/Berbeda namun Satu Akhirnya)

Jalur yang ditempuh oleh Wei, oleh prof. Yi disebut jalur perubahan non-damai. Atau bisa disebut juga, kudeta non-istana. Mengapa? Karena tianxia dari Wei didapatkan lewat perang. Lewat militer memperoleh kekuasaan. Namun pada akhirnya, seremoni serah terima kekuasaan terjadi dengan tenang, mengesankan adanya perubahan yang damai, peralihan kekuasaan yang damai. Bagaimana prosesnya?

Kita dapat mengumpamakan kekuasaan pemerintah seperti rumah. Mendirikan kekuasaan baru berarti sama dengan membangun rumah. Cao Cao bisa kita umpamakan sebagai pengembang (developer), merangkap arsitek. Ia ingin membangun rumah baru, ingin mendirikan kekuasaan yang baru. “Pemerintahan Wei yang berasal dari rakyat biasa dan berlandaskan legalisme”. Bisakah ia membangunnya?

Bisa.

Dia menggandeng kaisar, mendapatkan tanah. Ia mengalahkan Yuan Shao, memperoleh sumber daya. Ia sekarang adalah pengembang yang memiliki tanah, serta arsitek yang memiliki sumber daya.

Namun Cao Cao mendapati satu masalah. Masalah apa? Di atas tanah yang ia peroleh itu sudah ada bangunan yang berdiri. Yaitu Dinasti Han Timur. Bangunan ini tak bisa dibongkar. Jika Cao Cao membongkar bangunan ini, ia akan kehilangan tanah yang ia dapatkan. Maka Cao Cao tidak hanya tak bisa membongkar bangunan ini, ia juga harus berpura-pura melindungi bangunan itu. Ia tidak bisa memerankan seorang pengembang yang membongkar paksa. Lalu bagaimana?

Jalan Wei

Cao Cao tidak membongkar, namun ia merenovasi. Bangunan dinasti Han itu memiliki struktur rangka. Maka dalam renovasi, dinding bisa dirobohkan tanpa merusak kerangka. Tata ruangannya juga bisa diubah. Sehingga rencana Cao Cao adalah memindah-mindah “ruangan” dalam “bangunan” Dinasti Han itu. Setelah renovasi selesai, barulah semua menyadari, ternyata bangunan itu sudah berubah. Muncullah dinasti baru. Ini rencana Cao Cao.

Baguskah rencana ini? Sangat bagus. Namun ada satu syarat, yaitu bangunan Dinasti Han tidak boleh dibongkar. Lalu bagaimanakah struktur bangunan itu? Satu atap disangga oleh tiga pilar. Tiga pilar itu adalah kelompok kerabat, kelompok kasim, dan shizu. Atapnya adalah kaisar. Setelah Cao Cao menggenggam kaisar, maka ia memiliki atap. Dari tiga pilar yang ada, dua pilar sudah runtuh. Masih tersisa satu pilar. Di sinilah repotnya. Cao Cao merenovasi bukan benar-benar merenovasi. Ia ingin diam-diam mengganti pilar yang sudah ada. Tetapi jika pilar yang sudah ada diganti, maka bangunan akan roboh.

Kelompok shizu sebagai pilar pun memiliki kesulitannya sendiri. Atap sudah ada di tangan Cao Cao, kelompok shizu haruskah ikut ke sana? Jika tidak ikut Cao Cao, mereka akan bak satu pilar sendirian tanpa ada apa pun yang disangga. Jika ikut Cao Cao, mereka akan jadi pilar kaisar, ataukah pilarnya Cao Cao?

Maka baik Cao Cao maupun shizu memiliki kesulitannya masing-masing. Pada akhirnya, cara Cao Cao adalah mengambil hati kelompok shizu, memanfaatkan mereka, mengandalkan mereka, namun tidak percaya pada mereka. Sebab Cao Cao menggunakan cara renovasi, maka ia tak akan berhasil jika tanpa shizu. Maka mau tidak mau, ia harus menggandeng orang-orang tersebut.

Dan mereka pun bergabung. Misalnya Yang Biao, Kong Rong, Xun Yu, Cui Yan, semua adalah shi yang terkenal. Namun bagaimana pemikiran mereka? Mereka umumnya bergabung dengan Cao Cao untuk melindungi dinasti Han, bukan melindungi Cao Cao.

Sebenarnya, jika kita lihat, para shi yang bergabung itu bermacam-macam jenisnya. Mereka tidak bisa disamaratakan. Paling tidak ada tiga jenis. Pertama, mereka yang hanya mengakui atap, namun tidak mengakui rencana renovasi. Mereka datang hanya demi kaisar, mereka tidak setuju dengan rencana renovasi. Mereka akan memberontak jika Cao Cao mengutak-utik bangunan yang sudah ada. Contoh kelompok ini adalah Kong Rong, yang dibunuh oleh Cao Cao. Jenis kedua, adalah kelompok yang setuju Cao Cao melakukan renovasi. Mereka juga membantu Cao Cao merenovasi. Namun mereka berharap setelah proses renovasi selesai, bangunan dikembalikan lagi kepada kaisar, bukan lagi milik Cao Cao. Contoh kelompok ini adalah Xun Yu. Xun Yu senantiasa membantu Cao Cao, namun ketika Cao Cao mengangkat diri sebagai duke of Wei, Xun Yu tidak setuju, sebab ia setia pada Han. Jenis ketiga, adalah kelompok yang setuju Cao Cao melakukan renovasi, dan saat renovasi selesai, mereka akan berkata, “seharusnya bangunan ini memang dibangun seperti ini”. Contoh kelompok ini adalah Chen Qun. Chen Qun mendukung Cao Cao menjadi kaisar. Setelah Cao Cao meninggal, Chen Qun membuat sebuah proposal yang isinya untuk melindungi shizu melakukan monopoli karier. Ia memberikan proposal itu kepada Cao Pi. Cao Pi begitu membaca, langsung mengerti. Ternyata mereka yang selama ini berteriak melindungi dinasti Han, merestorasi Han, omong kosong belaka. Ternyata yang mereka inginkan adalah hak istimewa bagi kelompok shizu. Cao Pi setuju proposal Chen Qun, dan Cao Pi menjadi kaisar.

Maka dalam kelompok shizu pun ada variasinya. Menurut penilaian prof. Yi, Kong Rong arogan, Xun Yu terhormat, Chen Qun pintar.

Namun, di sini muncul satu masalah. Yaitu, pemikiran Cao Pi tidak sama dengan pemikiran Cao Cao. Cao Cao sama sekali tak pernah berkata harus menjadi kaisar. Masalah ini selalu menjadi bahan perdebatan. Menurut prof. Yi, Cao Cao adalah orang yang mengikuti takdir saja. Ia memiliki cita-cita, tapi tidak memiliki rencana konkret. Ia menjalani hidup setapak demi setapak. Tetapi begitu Cao Pi menjalin kesepakatan politik dengan kelompok shizu, maka pemerintahan Wei mengalami perubahan yang mendasar. Dari pemerintahan yang berasal dari rakyat biasa dan berlandaskan legalisme, berubah menjadi pemerintahan shizu berlandaskan Konfusianisme. Meskipun secara permukaan, Cao Pi memperoleh gelar kaisar, namun secara prinsip, sudah berbeda total dengan cita-cita Cao Cao semula. Maka dinasti Wei nya Cao Pi bukanlah negara Wei nya Cao Cao. Di saat Cao Pi menjadi kaisar, di saat itu “mati”lah Cao Cao dengan segala cita-citanya.

Dan pada akhirnya ketika keluarga Sima yang notabene kelompok shizu mengambil alih kekuasaan dari keluarga Cao, saat itu sebenarnya hanya tinggal formalitas pengukuhan kaisar saja, karena secara isi, pemerintahan dari awal sudah berlandaskan shizu.

Bagaimana dengan Sun Quan yang juga menjadi kaisar?

Jalan Wu

Sun Quan ibaratnya memiliki rumah di dalam gedung pencakar langit. Secara nama, ia masih bagian dari Han (bagian dari gedung itu).

Bagaimana dengan Liu Bei?

Liu Bei rumah pun tidak punya. Ia pinjam rumah orang lain.

Bagaimana mereka bisa berhasil?

Mereka belajar dari Cao Cao. Mereka belajar dari Cao Cao bahwa kelompok shizu tidak menakutkan. Kelompok shizu bisa dikalahkan. Mereka juga belajar dari Cao Cao bahwa kelompok shizu memiliki kekuatan yang sangat besar, tak bisa dilawan frontal. Jika Cao Cao melawan arus, maka Sun Quan mengikuti tren, sedangkan Liu Bei mengambil jalan memutar.

Sun Quan mengikuti tren dengan cara melakukan Jiangdongisasi. Sun Quan berpikir, jika tianxia pada akhirnya jadi milik shizu, maka di Jiangdong kita berikan saja kepada mereka dari awal. Maka jalan Sun Quan adalah survive secara lokal. Ketika abang Sun Quan, Sun Ce merebut Jiangdong, ia mengandalkan kelompok Huaisi dan kelompok pengungsi dari utara. Mereka semua bukan orang Jiangdong. Jika Sun Quan ingin membangun kekuasaan di Jiangdong, ia harus menggandeng kelompok shizu di Jiangdong. Ia harus melakukan Jiangdongisasi. Perlahan, jabatan-jabatan diberikan kepada kelompok shizu lokal. Contohnya Gu Yong dan Lu Xun. Ada ribuan kelompok shizu Jiangdong yang masuk ke pemerintahan Sun Quan. Kesimpulannya, orang Wu memerintah orang Wu. Terjalinlah hubungan saling menguntungkan antara Sun Quan dan para shizu. Sehingga jika Wu diserang, kelompok shizu rela melindungi Sun Quan, karena dengan demikian juga melindungi diri sendiri. Konsep keluarga di masyarakat lokal Tiongkok sangatlah kuat. Melindungi keluarga dan melindungi negara melebur menjadi satu.

Namun hal apa pun selalu memiliki sisi positif dan sisi negatif. Kebijakan Jiangdongisasi Sun Quan ini berhasil membuat Wu survive, tetapi muncul masalah baru, yaitu hati Sun Quan yang terbelah. Dia sendiri bukan mewakili kelompok shizu Jiangdong. Ia terpaksa mengandalkan mereka. Masalah mental ini semakin menjadi saat Sun Quan tua. Sehingga timbul konflik internal di Wu. Kelompok shizu di Wu pun bukan lawan kelompok shizu di utara. Ketika utara sudah menjadi dinasti Jin, maka Wu pun ikut musnah.

Bagaimana dengan Shu?

Jalan Shu

Oleh prof. Yi, Shu disebut sebagai “kolom tunggal yang tidak direncanakan”. Sejarah sebenarnya tidak merencakan ada Shu. Tiga zhou di aliran Changjiang semua dipimpin oleh keluarga istana, Liu Yao, Liu Biao dan Liu Yan. Ketika Lu Su mencetuskan model tiga negara kepada Sun Quan, ia tidak memasukkan Liu Bei di situ. Tiga negara versi Lu Su adalah Cao Cao, Liu Biao dan Sun Quan. Tetapi Liu Bei sendiri sebenarnya punya kelebihan. Apakah itu? Ia adalah keluarga istana, namun kenyataannya ia juga rakyat biasa. Ia miskin sekaligus terhormat. Liu Bei sangat menarik. Ia dapat diterima oleh kedua kelompok. Tetapi kalau kita lihat anak buah Liu Bei, tidak ada yang berasal dari kalangan terhormat. Apalagi Guan Yu yang sangat memandang rendah kelompok shizu. Zhang Fei berbeda. Zhang Fei masih sungkan dengan kelompok shizu. Namun Zhang Fei semena-mena terhadap prajurit. Guan Yu sangat baik terhadap prajurit, namun memandang rendah shizu. Maka menurut prof. Yi, mengapa Cao Cao sangat suka Guan Yu, ada satu alasan yang tak disebutkan, yaitu mungkin Cao Cao melihat Guan Yu lebih anti shizu daripada dia.

Dengan latar belakang Liu Bei seperti ini, bertemu dengan kesempatan, Cao Cao menyerang Jingzhou, Liu Biao meninggal, Sun Quan menjalin aliansi dengannya, Cao Cao kalah dalam perang Chibi, kebetulan pula Liu Zhang seorang yang tidak mampu memimpin, hingga akhirnya Liu Bei dapat berkembang. Sebuah “kolom tunggal di luar rencana”.

Liu Bei selalu mengamati Cao Cao dan belajar dari Cao Cao. Ia pernah berkata kepada Pang Tong, apa pun yang dilakukan Cao Cao, ia akan lakukan yang sebaliknya. Tapi ada satu hal yang ia ikuti dari Cao Cao, yaitu jalan mendirikan negara. Ketika Cao Cao mengangkat diri menjadi Duke of Wei, Liu Bei mengangkat diri menjadi Duke of Hanzhong. Cao Pi mengangkat diri menjadi kaisar Wei, Liu Bei mengangkat diri menjadi kaisar Han. Maka menurut Mr. Tian Yuqing, cara Shu mendirikan negara adalah meniru negara lain, tidak kreatif. Namun ini bukan berarti memandang Liu Bei negatif. Liu Bei pada dasarnya seorang pahlawan. Menurut prof. Yi, latar belakang Liu Bei merupakan faktor yang baik, yaitu ia paling mengerti penderitaan rakyat. Kehidupan Liu Bei yang menderita sebagai pembuat dan penjual sepatu di awal sangat penting. Ia lebih paham kesulitan orang. Mengapa Yuan Shao gagal? Satu sebab yang sangat penting: Yuan Shao anak manja, tak mengerti penderitaan orang. Cao Cao masih lebih mengerti daripada Yuan Shao. Liu Bei paling mengerti.

Setelah Liu Bei menjadi kaisar dua tahun, ia meninggal. Pemegang kendali pemerintahan Shu yang sebenarnya adalah Zhuge Liang. Maka ketika membicarakan para pemimpin di era Tiga Negara, prof. Yi akan menyebut empat orang, Cao Cao, Sun Quan, Liu Bei, dan Zhuge Liang.

Bagaimana Zhuge Liang memimpin Shu?

Sangat sangat baik.

Shu adalah negara yang dikelola paling baik. Bahkan saat Zhuge Liang memimpin, kondisi Shu sangat baik.

Ironisnya, mengapa Shu bisa musnah, justru karena hal ini.

Zhuge Liang adalah orang yang memiliki idealisme politik. Cao Cao punya idealisme namun tidak punya rencana konkret. Zhuge Liang punya idealisme, sekaligus punya rencana konkret. Semua yang dilakukan Zhuge Liang sudah direncanakan sebelumnya. Semua diatur dengan jelas. Para pejabat juga tidak ada yang protes. Ini menunjukkan Zhuge Liang sangat teliti dan detail dalam melakukan segala sesuatu.

Masalahnya ada di idealisme. Idealisme inilah yang membuat repot.

Apa idealisme Zhuge Liang?

Pertama adalah memerintah negara berdasar hukum. Ini sudah pernah kita bahas sebelumnya. Bagaimana Zhuge Liang memerintah berdasarkan hukum merupakan hal yang paling cemerlang, paling layak kita pelajari. Ia berhasil menjalankan prinsip keterbukaan, kebenaran dan keadilan. Bukankah ini hal yang sangat baik? Bukankah hari ini kita ingin hukum ditegakkan? Masalahnya adalah kita harus tahu juga zaman itu adalah zaman seperti apa. Berlandaskan hukum berarti tidak berlandaskan manusia. Sebab memerintah dengan hukum berlawanan dengan memerintah dengan manusia. Sedangkan yang diinginkan oleh kelompok shizu adalah memerintah dengan manusia. Tidak hanya dengan manusia, bahkan dengan kelompoknya sendiri. Tak peduli bagaimana orangnya, asal dari keluarga shizu terkenal, pasti bisa menjadi pejabat. Orang yang berasal dari keluarga biasa, tak boleh menjadi pejabat. Ini yang diinginkan oleh kelompok shizu. Ini jelas berlawanan dengan idealisme Zhuge Liang. Zhuge Liang ingin mendirikan pemerintahan yang efektif dan bersih, masyarakat yang adil dan jujur. Ini hal yang kita amini di konteks kita hari ini. Tetapi, pemerintahan yang efektif tentu tidak boleh memandang latar belakang orang. Masyarakat yang adil tentu tidak membedakan dari golongan mana. Pemerintah yang bersih, tentu tidak menoleransi korupsi. Masyarakat yang jujur, tentu tidak boleh ada kesemena-menaan. Jadi semua hal yang kita amini dan kita dambakan ini semua adalah hal yang tidak diinginkan oleh kelompok shizu pada saat itu.

Maka kebijakan Zhuge Liang ini mengancam kelompok shizu.

Kedua, Zhuge Liang ingin Shu mandiri, yaitu mandiri dan bebas dari Wei, serta mempertahankan prinsip bahwa kelompok Jingzhou berada di tingkat tertinggi. Lihat saja siapa yang ditunjuk untuk menjadi penerusnya: Jiang Wan, Fei Yi dan Jiang Wei. Mereka semua bukan orang Yizhou. Dengan kata lain, Zhuge Liang bersikeras tidak meniru Sun Quan yang menggunakan orang Wu untuk mengelola Wu. Di sini letak perbedaan Shu dan Wu. Tidak hanya itu, kelompok lokal, termasuk shizu lokal, dikekang dan dipinggirkan oleh Zhuge Liang. Mereka diminta mengeluarkan dana untuk mendukung ekspedisi ke utara. Maka dengan prinsip keadilan yang dijalankan Zhuge Liang, tentu yang mengeluarkan uang paling besar adalah kelompok ini. Maka kelompok lokal pun benci Zhuge Liang.

Ketiga, Zhuge Liang ingin merestorasi dinasti Han. Ini selalu menjadi semboyan Zhuge Liang. Namun saat itu semboyan ini sudah kadaluwarsa. Di masa Zhuge Liang memimpin, sudah tak ada orang yang berpikiran seperti itu lagi. Kelompok shizu tak ingin. Begitu juga dengan masyarakat. Bahkan di Wei sudah menerapkan sistem yang digagas oleh Chen Qun itu, tentu mereka merasa lebih nyaman daripada di era dinasti Han. Dinasti Han harus membagi kue kepada kelompok kerabat, kasim dan shizu. Kini di Wei, kue itu dinikmati oleh kelompok shizu saja. Bukankah kelompok shizu di Shu ingin seperti mereka yang ada di Wei? Tidak aneh jika mereka ingin Wei segera mencaplok Shu.

Maka terjadilah akibat yang ironis, Shu dikelola paling baik, namun Shu yang pertama kali musnah.

Jika kita simpulkan, Wei, Shu dan Wu semua bukan pemerintahan oleh shizu. Dari perspektif ini, mereka semua melawan arus. Tetapi akhirnya, Wei menyerah dan ikut arus. Wu berkompromi. Sedangkan Shu, tetap bersikeras. Dan justru karena Shu tetap bersikeras, Shu yang pertama kali musnah.

Dan pada akhirnya juga, karena Wei menyerah, Wei pun juga musnah. Demikian pula Wu yang berkompromi, juga musnah. Musnahlah tiga negara.

Tahun 263, Wei menaklukkan Shu. Tahun 265, Jin menaklukkan Wei. Tahun 280, Jin menaklukkan Wu. Tiga negara takluk kepada dinasti yang baru, dinasti Jin. Sejarah kembali pada satu negara, yang merupakan era shizu kembali.

Lalu bagaimanakah kita menilai era Tiga Negara, yang seolah hanya sebuah selingan di dalam sejarah? Nantikan di episode berikutnya.

 

Gambar diambil dari https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fzh.wikipedia.org%2Fzh-sg%2F%25E6%2599%2589%25E6%25BB%2585%25E5%2590%25B3%25E4%25B9%258B%25E6%2588%25B0&psig=AOvVaw0AMrG6YNFJUCw9aKv-1RQg&ust=1670732473407000&source=images&cd=vfe&ved=0CBEQjhxqFwoTCNCqjMaZ7vsCFQAAAAAdAAAAABAE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *