Sastra Kuno Tiongkok – Lao Zi (2)

Lao Zi berpendapat bahwa “Dao” yang bersifat metafisik adalah pasti, abadi, sedangkan segala hal yang bersifat fisik adalah saling berlawanan, berubah. Ide tentang sifat saling berlawanan ini adalah salah satu tema utama di dalam buku Lao Zi. Namun Lao Zi juga bersikeras bahwa ia tidak dapat benar-benar menerapkan “tidak bertindak”.

Dao De Jing di dalam gaya bahasanya menggunakan spontanitas yang teliti. Banyak kalimat di dalamnya yang hidup dan bergaya populer. Selain itu, masih ada fluktuasi seperti irama di dalam Shi Jing: “Zhī qí xióng, shǒu qí cí, wéi tiān xià xī; wéi tiān xià xī, cháng dé bù lí, fù guī yú yīng ér. Zhī qí bái, shǒu qí hēi, wéi tiān xià shì; wéi tiān xià shì, cháng dé bù tè, fù guī yú wú jí.” Artinya secara garis besar: Meski mengetahui apa itu kuat, tetapi tetap di dalam kelembutan, bersedia rendah hati. Rendah hati, sifat moral yang abadi tidak akan hilang, kembali kepada kondisi bayi yang bersih. Meski mengetahui apa itu terhormat, tetapi tetap di dalam kesederhanaan, bersedia menjadi alat peramal dunia. Menjadi alat peramal dunia, sifat moral yang abadi tidak akan hilang, kembali kepada kebenaran yang tinggi—-yaitu “Dao”.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Leave a Reply

Your email address will not be published.