Belajar Mandiri Bahasa Tionghoa, Mungkinkah?

Di posting saya terdahulu tentang tips menguasai bahasa Tionghoa, saya menyebutkan salah satu cara belajar bahasa Tionghoa adalah melalui ikut kursus atau sekolah. Saya kira cara ini memang masih merupakan cara terbaik. Namun tidak menutup kemungkinan kita untuk belajar sendiri. Belajar sendiri tentu memiliki keuntungan, yang paling utama adalah kita relatif bisa menghemat uang, karena tidak perlu membayar biaya kursus atau sekolah. Sekarang pertanyaannya, mungkinkah kita mahir berbahasa Tionghoa hanya dengan jalan belajar sendiri?

Menilik kembali pengalaman saya pribadi, memang sangat sulit untuk mempertahankan konsistensi semangat belajar sendiri. Mungkin ketika pertama kali kita memutuskan akan belajar sendiri sesuatu hal, kita punya semangat yang menggebu-gebu, tetapi ketika sudah berjalan beberapa waktu, kita baru menyadari itu tidaklah gampang. Tetapi di sisi lain, belajar di kursus maupun di sekolah juga menuntut kita untuk tetap belajar sendiri di rumah. Ambil contoh kursus, dengan jadwal kursus rata-rata 2 kali seminggu dengan masing-masing pertemuan selama satu setengah jam, maka satu minggu kita belajar selama 3 jam. Waktu 3 jam ini praktis sangatlah sedikit. Contoh lain, belajar di sekolah, dalam hal ini jurusan bahasa Tionghoa. Mayoritas universitas saat ini masih menganut sistem SKS. Definisi 1 SKS yang berlaku adalah 1 jam belajar di sekolah(mengikuti pengajaran oleh dosen), 1 jam mengerjakan tugas, dan 1 jam belajar mandiri. Hanya sepertiganya yang menuntut kita hadir di sekolah. Di luar itu adalah waktu yang harus kita pakai untuk belajar sendiri.

Bahasa Tionghoa saat ini dianggap sebagai salah satu bahasa yang sulit dipelajari. Hal ini sebenarnya tidak benar. Namun memang harus diakui, Hanzi atau tulisan Tionghoa saat ini boleh dibilang merupakan hal paling sulit bagi kita di dalam belajar bahasa Tionghoa. Masing-masing huruf harus dihapal satu demi satu, karena tidak ada relasi antara huruf tersebut dengan bacaannya yang memungkinkan kita untuk dengan tepat membaca huruf yang belum kita kenal. Begitu pula arti huruf tersebut yang juga harus dihapal, karena meskipun Hanzi bersifat gambar, Hanzi telah menjalani proses penyederhanaan selama bertahun-tahun, sehingga Hanzi yang kita kenal sekarang sebagian besar telah kehilangan makna gambarnya. Belum lagi penulisannya.

Lalu kembali ke pertanyaan semula, mungkinkah kita belajar bahasa Tionghoa secara mandiri? Jujur saja, selama ini saya belum menemukan orang yang dari nol benar-benar belajar bahasa Tionghoa secara mandiri dan berhasil. Tetapi apakah ada jalan untuk itu? Jawabannya adalah: banyak, dan layak dicoba. Teknologi sekarang sudah begitu maju, berbagai media belajar bisa kita manfaatkan. Salah satunya adalah melalui internet. Banyak situs belajar mandiri yang bisa kita akses, lengkap dengan audio visual. Kita juga bisa memanfaatkan software chatting seperti QQ, yang memungkinkan kita untuk ngobrol langsung dengan orang-orang Tiongkok. Buku-buku belajar bahasa Tionghoa juga sudah banyak dijual, tetapi tentunya kita juga harus selektif di dalam memilih. Film dan lagu Tionghoa juga bisa kita peroleh dengan mudah, baik melalui internet maupun dengan membeli atau menyewa. Kita juga bisa berlatih berkomunikasi dengan orang-orang Tionghoa di sekitar kita. Dengan begitu berlimpahnya resource yang memungkinkan kita untuk belajar, saya rasa bukan tidak mungkin kita bisa belajar mandiri dan menguasai bahasa ini, paling tidak hingga tingkatan kita bisa berkomunikasi sehari-hari, baik secara lisan dan tulisan.

Masalah berikutnya adalah bagaimana menumbuhkan semangat belajar, atau mempertahankan konsistensi belajar? Ini adalah hal yang tidak mudah. Saya rasa ini erat hubungannya dengan motivasi atau tujuan kita belajar bahasa Tionghoa. Kita perlu mengubah persepsi terhadap bahasa Tionghoa terlebih dahulu, bahwa bahasa Tionghoa itu tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Dengan pandangan dasar ini, maka selanjutnya kita akan bisa lebih mudah menumbuhkan semangat belajar. Belajar mandiri akan memunculkan banyak pertanyaan dan kesulitan yang jawabannya tidak langsung tersedia pada saat itu. Tetapi tentunya ini bukan alasan untuk kita berhenti belajar. Memberikan reward kecil untuk diri sendiri mungkin juga bisa memacu semangat belajar kita. Misalnya: saya tidak akan pergi makan es krim jika saya tidak berhasil menghapal pelajaran ini.

Belajar mandiri juga memerlukan kedisiplinan tinggi. Aturlah waktu sedemikian rupa sehingga anda memiliki jadwal belajar yang rutin dan teratur. Keuntungan lain dari belajar mandiri adalah anda bisa mengatur waktu secara fleksibel. Namun kita juga tetap harus memperhatikan disiplin pribadi, sebisa mungkin belajar tiap hari. Jangan lupa juga untuk beristirahat. Istirahat sangat penting, karena akan membantu mengembalikan kesegaran diri kita.

Mungkin pembaca bisa menyumbangkan ide lain, atau telah mencobanya?

Foto oleh: DAEllis

Leave a Reply

Your email address will not be published.