Jianhuazi vs Fantizi (Hanzi yang disederhanakan vs Hanzi tradisional)

Jianhuazi vs Fantizi (Hanzi yang disederhanakan vs Hanzi tradisional)

Saya membaca artikel yang menarik di harian Qiandao Ribao hari ini, yaitu tentang Jianhuazi (Hanzi yang disederhanakan) vs Fantizi (Hanzi tradisional). Artikel ini mulai dengan membahas ide-ide atau pendapat orang yang menyatakan bahwa Fantizi (atau juga disebut dengan Zhengtizi) lebih memuat khazanah budaya Tionghoa daripada Jiantizi. Contoh-contoh klasik tentang ini cukup banyak, seperti:

  • 爱 (cinta) yang kehilangan 心 (hati): 愛,
  • 产 (melahirkan) yang kehilangan 生 (lahir): 產,
  • 厂 (pabrik) yang dalamnya kosong: 廠,
  • 面 (mie) yang kehilangan 麦 (gandum): 麺,
  • 运 (transpor) yang kehilangan 车 (kendaraan): 運,
  • 儿 (anak) yang kehilangan kepala: 兒,
  • 乡 (kampung halaman) yang kehilangan 郎 (sebutan untuk pemuda atau suami): 鄉.

Memang pendapat ini masuk akal, karena bagaimanapun Fantizi lebih mendekati asal muasal Hanzi, yang lebih berupa piktogram, maka wajar bila muatan budaya aslinya lebih kental dari Jianhuazi. Ini dapat dilihat dari seni kaligrafi Tiongkok yang masih menggunakan Fantizi.

Namun artikel tersebut juga menyebutkan, bahwa sebenarnya proses penyederhanaan penulisan Hanzi tidaklah dimulai di masa modern ini (tahun 50-an saat Jianhuazi mulai digunakan), tetapi sudah berlangsung bahkan sejak zaman Jiaguwen. Bila orang dituntut menulis secara cepat, menulis menggunakan Fantizi sudah pasti merepotkan, sehingga orang cenderung menggunakan penulisan kursif yang sederhana (dalam proses penciptaan Jianhuazi pun ada sebagian yang diambil dari bentuk kursif penulisan cepat Fantizi).

Jianhuazi sebenarnya juga mempunyai fungsi menyebarkan budaya Tionghoa, meski mungkin tidak sekental Fantizi. Misalnya dicontohkan dalam artikel tersebut huruf 尘 (debu), yang dalam Fantizi adalah 塵 (rusa berjalan di atas tanah, membuat debu beterbangan). Bila kita lihat huruf 尘, juga mempunyai arti yang menarik (tanah kecil = debu). Contoh lain mungkin huruf 伞, yang Fantizinya adalah 傘. Kalau secara bentuk, Jianhuazinya malah lebih mirip payung. Dan penyebaran budaya Tionghoa lewat Jianhuazi terutama dari kemudahan penulisannya, cepatnya proses penulisan tentu membuat informasi lebih mudah disampaikan.

Saya sendiri tertarik dengan proses penciptaan Jianhuazi, khususnya yang melalui proses penggantian elemen Hanzi dengan elemen yang lebih sederhana. Dari manakah elemen yang lebih sederhana ini ditentukan?

Jadi bagaimana? Menurut saya pribadi, sebaiknya menguasai keduanya. Paling tidak bisa membaca Fantizi, walau tidak untuk menulis. Dengan demikian pemahaman kita terhadap budaya Tionghoa akan semakin lengkap. Jianhuazi memang punya kekurangan, tapi ia juga punya kelebihan, demikian pula dengan Fantizi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.