Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (41 – 以攻为守/Menyerang untuk Bertahan)

Pembahasan Tiga Negara oleh Yi Zhongtian (41 – 以攻为守/Menyerang untuk Bertahan)

Dalam kasus Wei Yan, ada satu hal yang meragukan. Hal ini adalah saat Zhuge Liang akan meninggal, ia mengadakan rapat terbatas. Di rapat itu, ia membuat keputusan: “Wei Yan menjaga di barisan belakang, Jiang Wei menjaga di barisan setelahnya. Jika Wei Yan tidak taat, tinggalkan saja dia.” Mengapa Zhuge Liang harus membuat keputusan seperti ini? Ada tiga macam alasan yang tercatat dalam sejarah.

Pertama, Zhuge Liang sudah menduga Wei Yan akan melakukan kudeta. Ini kita temukan dalam Romance of the Three Kingdoms. Namun Romance of the Three Kingdoms adalah sebuah novel. Kita tak dapat menganggapnya sebagai catatan sejarah yang valid. Kedua, adalah pendapat Mr. Lü Simian dan Mr. Chen Erdong, yaitu Zhuge Liang sebenarnya tidak mengeluarkan perintah tersebut. Ini semua hanyalah rekayasa dari Yang Yi dan kawan-kawan. Meskipun pendapat ini masuk akal, namun tidak ada buktinya. Hanya sebuah dugaan para sejarawan. Walau demikian, bukankah Chen Shou juga seorang sejarawan? Apakah kita begitu mudahnya membantah tulisan Chen Shou? Maka yang tersisa adalah penjelasan ketiga, yaitu Zhuge Liang memang mengeluarkan instruksi tersebut. Menurut Mr. Zhang Zuoyao, Zhuge Liang berbeda pandangan dengan Wei Yan dalam hal militer. Adakah buktinya? Ada. Records of the Three Kingdoms mencatat bahwa setiap kali Wei Yan ikut dalam ekspedisi Zhuge Liang, Wei Yan selalu melontarkan ide untuk membagi pasukan. Wei Yan memimpin pasukan sendiri dan akhirnya bertemu bersama pasukan Zhuge Liang, sebagaimana Han Xin dan Liu Bang di masa lalu. Namun Zhuge Liang selalu tidak setuju. Akhirnya Wei Yan menganggap Zhuge Liang nyalinya kecil.

Bukti nyata dari hal ini adalah Strategi Ziwugu. Ini terjadi pada ekspedisi pertama ke utara. Zhuge Liang memimpin pasukan berangkat dari Hanzhong, harus melewati pegunungan Qin. Ada tiga jalan untuk melewati pegunungan Qin. Jalur timur disebut Ziwugu. Jalur ini akan tiba di Chang’an. Jalur tengah dinamakan Zhugu. Jalur ini tiba di Wugong. Jalur ketiga disebut Xiegu, tiba di Chencang. Wei Yan minta diberi 10.000 orang pasukan, di antaranya 5.000 veteran, dan 5.000 prajurit memuat makanan. Pasukan ini akan menempuh jalur Ziwugu, dalam sepuluh hari dapat tiba di Chang’an. Yang menjaga Chang’an adalah menantu Cao Cao, yaitu Xiahou Mao. Xiahou Mao adalah seorang yang hanya bisa berhura-hura, tak mampu berperang. Wei Yan yakin Xiaohou Mao tak mampu melawan pasukannya, sehingga ia akan dengan mudah merebut Chang’an. Wei Yan mengusulkan Zhuge Liang membawa pasukan maju lewat Xiegu, kedua pasukan bertemu di utara, membereskan wilayah Wei di sebelah barat Xianyang. Strategi ini tidak diterima Zhuge Liang.

Strategi Ziwugu ini menjadi perdebatan para sejarawan. Benarkah keputusan Zhuge Liang untuk tidak menerima strategi Wei Yan ini? Ada pro dan kontra. Menurut prof. Yi, pro dan kontra ini berdasarkan hitung-hitungan militer. Prof. Yi menyatakan tidak paham tentang militer, sehingga tidak bisa menyatakan siapa yang benar. Namun menurut prof. Yi, Zhuge Liang adalah seorang politikus yang hebat. Maka sudah tentu dalam mengatur pasukan, Zhuge Liang akan melakukan perhitungan politik lebih dulu. Kita tahu perang adalah perpanjangan dari politik. Bukankah tujuan dari perang adalah tujuan politik?

Perhitungan politik apakah yang dikalkulasi oleh Zhuge Liang?

Untuk menjawabnya, kita harus menjelaskan tujuan ekspedisi ke utara. Jawabannya ada di dalam Chu Shi Biao. Kita tahu sebelum Zhuge Liang berangkat menjalankan ekspedisinya, ia menulis Chu Shi Biao dan memberikannya kepada Liu Shan. Chu Shi Biao menulis tujuan ekspedisi ke utara dalam enam belas huruf (Hanzi): menguasai wilayah utara, memusnahkan Wei, mengembalikan dinasti Han, dan raja Shu kembali ke Luoyang menjadi kaisar. Apakah tujuan ini tercapai? Tidak. Mengapa? Ada tiga sebab.

Pertama, Wei bukanlah negara yang lemah. Setelah Zhuge Liang mengemban pemerintahan Shu, negara Wei bersorak gembira. Ini karena Wei selalu menganggap Liu Bei sebagai musuh utama, bukan Zhuge Liang. Maka banyak dari mereka menulis surat kepada Zhuge Liang agar ia menyerah saja. Zhuge Liang tidak membalas, tetapi ia menulis sebuah tulisan berjudul Zheng Yi. Isinya menjawab semua surat yang menyuruhnya menyerah. Di situ Zhuge Liang menulis bahwa Shu memegang kebenaran dan keadilan, sedangkan Wei adalah pihak yang salah. Dengan membawa panji kebenaran untuk menaklukkan yang bersalah, pastilah akan menang. Kalimat ini perlu kita analisis lebih lanjut.

Apakah Wei bersalah? Tidak. Akhir dinasti Han Timur, situasi kacau balau, para pemimpin berebut kekuasaan, rakyat menderita. Menyatukan negara adalah satu-satunya jalan keluar. Dalam kondisi seperti ini, siapa pun yang dapat menyatukan negara, bukankah ia adalah pihak yang benar? Ketika Wei, Shu dan Wu terbentuk, bukankah mereka semua berkeinginan menyatukan negara? Bukankah mereka semua tidak salah? Sebaliknya, mereka semua tak ingin pihak lawan yang menyatukan negara, sehingga dengan kata lain, mereka semua juga salah. Maka dalam situasi seperti ini, kita tak bisa mengatakan siapa yang benar siapa yang salah.

Apakah Shu benar? Kalau Zhuge Liang bilang menghadapi Wei sambil membawa panji kebenaran, maka bagaimana dengan ketika menghadapi Liu Biao dan Liu Zhang? Apakah mereka juga bersalah? Kalau mereka tidak bersalah, mengapa Shu mengambil alih wilayah mereka? Apakah ini juga membawa panji kebenaran?

Maka kalimat Zhuge Liang ini untuk menjadi sebuah slogan politik, untuk menyemangati pasukan, boleh-boleh saja. Namun jangan menganggapnya sebagai hal yang murni.

Dan apakah Wei menganggap dirinya bersalah? Tentu tidak. Kita tahu Cao Cao dalam membangun Wei sangatlah susah payah. Apakah ini karena mereka bersalah? Bukan. Itu karena kaum aristokrat tidak mendukung. Mengapa? Pertama, mereka meremehkan Cao Cao yang latar belakang keluarganya kurang baik. Ia dianggap kurang bersih dan kurang elit. Kedua, mereka tidak suka kebijakan Cao Cao yang merekrut orang atas dasar kemampuan. Masalah ini kemudian diatasi oleh Cao Pi. Setelah menjadi raja, Cao Pi langsung menjalankan sistem yang menguntungkan kaum aristokrat. Dengan negosiasi seperti ini, kini kaum aristokrat pun mendukung Wei. Maka Hu Sanxing dalam komentarnya terhadap Zizhi Tongjian menulis, Zhuge Liang tidak setuju Strategi Ziwugu bukan karena ia penakut, tapi karena Zhuge Liang tahu para penguasa, menteri dan jenderal di Wei sekarang hebat-hebat.

Kedua, kondisi geografis Yizhou. Karakteristik geografis Yizhou membuatnya mudah dipertahankan dan susah diserang. Ia dikelilingi oleh pegunungan dan tanahnya subur. Maka sebaliknya, jika menyerang dari Yizhou, juga sulit, karena masalah geografis ini. Pasukan sulit bergerak keluar. Sehingga, saat Liu Bei berada di Jingzhou, ia harus merebut Yizhou. Di Jingzhou, posisi Liu Bei terjepit. Tak ada pilihan lain, ia harus merebut Yizhou. Namun setelah ia memperoleh Yizhou dan kehilangan Jingzhou, ia bagaikan masuk ke lemari besi yang aman, tetapi juga merupakan gang buntu. Dengan kondisi Yizhou yang dikelilingi pegunungan, hidup tenang dan makmur di sana, tentu dapat dilakukan. Tetapi, keluar dari situ untuk melancarkan serangan menyatukan negara, sangatlah sulit. Karena itulah Mr. Tian Yuqing berkata, jika Shu mengeluarkan pasukan untuk menyerang, pasti gagal. Liu Bei maupun Zhuge Liang, sama-sama gagal. Ini sudah kondisi dari sononya. Manusia tak dapat berbuat apa-apa. Maka Mr. Tian Yuqing menyebut Shu dengan istilah 偏霸 (pianba; penguasa di pinggir), yang menurut prof. Yi sangat tepat.

Ketiga, keahlian politik Zhuge Liang melebihi keahliannya bermiliter. Dalam keahlian bermiliter, keahlian mengatur pasukan melebih keahlian memanfaatkan pasukan. Ini benar. Ada orang yang tidak setuju karena di buku Zhuge Liang Zhuan ditulis, setelah Zhuge Liang meninggal dan pasukannya mundur, Sima Yi datang mengejar. Saat sampai di perkemahan pasukan Zhuge Liang, Sima Yi berkomentar, “Sungguh sakti tiada banding.” Berdasarkan kalimat ini, maka banyak orang menganggap Zhuge Liang ahli militer yang hebat. Padahal sebenarnya Sima Yi mengomentari pengaturan pasukan oleh Zhuge Liang. Kemampuan Zhuge Liang mengatur negara, tak perlu diragukan lagi. Kemampuan Zhuge Liang mengatur pasukan, juga sangat baik. Namun mengatur pasukan tidak sama dengan memanfaatkan pasukan. Dan Sima Yi punya komentar lain terhadap kemampuan Zhuge Liang yang ini. Ini tercatat dalam Jin Shu – Xuandi Zhuan: Zhuge Liang punya ambisi besar, tapi tak mampu memanfaatkan kesempatan. Ia punya banyak strategi, tapi tidak ada keputusan. Ia suka membawa pasukan berperang, tapi tak fleksibel.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah Zhuge Liang tahu ketiga hal tersebut?

Zhuge Liang adalah orang yang sangat pintar. Bagaimana mungkin ia tidak tahu?

Mungkin saja saat ekspedisi pertama ia masih merasa sedikit optimis. Namun ia tetap berhati-hati, ia tidak menjalankan strategi Wei Yan.

Kalau memang Zhuge Liang tahu ini semua, mengapa ia terus-terusan melancarkan serangan ke utara?

(1) Untuk menjaga dalam negeri, harus dengan bergerak ke luar

Ini tercatat dalam Chu Shi Biao. Zhuge Liang menulis, Shu berada dalam kondisi kritis. Apakah karena ancaman Wei? Bukan. Sejak Perang Chibi, hingga saat sebelum Shu musnah, Wei sama sekali tak pernah menyerang Shu. Wei hanya menyerang Wu. Sebaliknya, Liu Bei, Guan Yu, Zhuge Liang, sendirilah yang memulai penyerangan. Ancaman bukan berasal dari utara. Apakah ancaman berasal dari Wu? Kita tahu setelah pertempuran Yiling, Shu dan Wu menjalin kembali hubungan persahabatan. Tapi di sini kita harus mencatat ini karena jasa diplomatik Zhuge Liang. Lalu dari manakah ancaman ini? Cuma ada satu kemungkinan, yaitu internal Shu sendiri. Dan penyebab gejolak internal Shu sudah dijelaskan beberapa kali di episode-episode sebelumnya, yaitu pemerintahan Shu tersusun dari tiga kelompok. Maka kebijakan Zhuge Liang adalah, menjalankan hukum yang ketat untuk mengatur domestik, aktif melancarkan serangan ke luar. Perang sangat berguna untuk mengalihkan perhatian, memperkuat kohesi, dan menekan pihak oposisi.

(2) Negara yang kecil harus lebih aktif

Dibandingkan Wei dan Wu, negara Shu adalah yang paling lemah. Satu-satunya cara agar negara kecil dapat bertahan hidup, adalah dengan aktif bekerja keras. Tidak boleh hanya pasif menunggu pihak lain datang menyerang. Hou Chu Shi Biao (yang masih belum tentu Zhuge Liang sendiri yang menulis) disebutkan, “jika kita tidak menyerang Wei, maka kita sendiri yang akan musnah, demikian pula dinasti Han juga akan musnah. Daripada berdiam di sini menunggu mati, lebih baik keluar menyerang.” Jika Hou Chi Shi Biao masih belum tentu Zhuge Liang penulisnya, maka kita dapat merujuk pada Hua Yang Guo Zhi yang lebih meyakinkan. Pada Hua Yang Guo Zhi tertulis, “dengan kelemahan menjadi kekuatan, niscaya akan melindungi diri sendiri.” Wang Fuzhi dalam bukunya, Du Tongjian Lun, meringkas alasan Zhuge Liang melancarkan serangan ke utara menjadi “menyerang untuk bertahan”.

Menyerang untuk bertahan mengandung dua aspek, yaitu membentengi diri sendiri dan menantikan kesempatan. Di satu sisi, kita dapat mempertahankan diri, di sisi lain, mungkin ada kesempatan yang muncul ketika kita melancarkan serangan. Kesempatan hanya tersedia bagi mereka yang mempersiapkan diri. Agar kemungkinan kesempatan selalu ada, maka Shu harus selalu berada dalam kondisi perang.

(3) Cita-cita harus dipertahankan

Kita tahu bahwa Zhuge Liang adalah orang yang punya ideal dan aspirasi. Sebagai seorang yang idealis, begitu kesempatan tiba, maka ia akan langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mewujudkan cita-citanya. Ini adalah karakteristik dari seorang yang idealis. Masalahnya, meskipun cita-cita Zhuge Liang tidak berubah, namun kondisi sudah berubah. Padahal di rencana Longzhong, syarat untuk menguasai daerah utara, merestorasi dinasti Han serta mengembalikan ibukota, adalah kubu Liu Bei harus menguasai Jingzhou dan Yizhou. Lalu melancarkan serangan dua arah, dari Jingzhou dan dari Yizhou. Ditambah lagi dengan satu kondisi, yaitu ada perubahan geopolitik. Ini tentu adalah rencana yang sangat ilmiah dan jitu. Namun syarat yang dikemukakan di situ sudah tidak cocok lagi dengan kondisi sekarang. Pertama, Wei adalah negara yang kuat, sama sekali tidak ada kondisi “perubahan geopolitik”. Kedua, Liu Bei kehilangan Jingzhou. Cita-cita tidak berubah, namun kondisi sudah berubah. Jika kondisi berubah, maka strategi harus berubah. Zhuge Liang harus terus menyuarakan “tidak boleh ada dua dinasti Han”, harus terus menyatakan pendirian politik ini. Terus melancarkan serangan ke utara, terus memusnahkan bajingan. Namun dalam realisasinya, harus sangat berhati-hati. Harus sama sekali tidak boleh ada kesalahan. Seratus ribu prajurit Shu yang dibawa Zhuge Liang adalah nyawa dari Shu. Sudah tentu Zhuge Liang tidak boleh menjadikan seratus ribu orang ini sebagai taruhan bagai judi.

Maka jelaslah bahwa Zhuge Liang tak dapat menerima strategi Ziwugu dari Wei Yan. Resikonya terlalu besar.

Dalam hal ini, Wang Fuzhi menarik kesimpulan, yaitu ketika Zhuge Liang melancarkan serangan ke utara, ada banyak hal yang terpaksa dilakukan, ada banyak hal yang tak diungkapkan. Kondisi yang sedemikian kompleks ini tak boleh diungkapkan terang-terangan kepada orang-orang seperti Wei Yan. Jika tidak benar-benar jelas, Wei Yan tidak akan mengerti. Apalagi saat itu Zhuge Liang memerlukan orang yang benar-benar anti Cao seperti Wei Yan, sebab panji yang sedang dikibarkan Zhuge Liang adalah “tidak boleh ada dua dinasti Han”, “menguasai dataran pusat”, “mengembalikan ibukota”. Wei Yan orang yang tepat untuk menjadi ujung tombak panji-panji ini.

Maka kita menyisakan pertanyaan terakhir. Mengapa menjelang kematiannya, Zhuge Liang harus berkata kepada Yang Yi dan yang lain bahwa Wei Yan kemungkinan tidak taat, dan jika Wei Yan tidak taat, tidak usah pedulikan dia?

Seharusnya sekarang kita sudah mengerti, bukan? Semua karena Wei Yan adalah orang yang benar-benar anti Wei. Zhuge Liang sudah menduga bahwa Wei Yan tak akan melepaskan ekspedisi ke utara. Wei Yan pasti akan terus menyerang. Zhuge Liang juga mengerti bahwa Wei Yan orang yang harga dirinya tinggi. Saat Zhuge Liang masih ada, Wei Yan selalu tidak senang, karena tidak bisa memuaskan nafsu perangnya. Namun prestise Zhuge Liang terlalu tinggi, sehingga Wei Yan tidak bisa berbuat apa-apa. Kini ketika Zhuge Liang telah meninggal, orang-orang seperti Yang Yi, Jiang Wei, Fei Yi, tak bisa lagi menahan Wei Yan. Ini juga sebab mengapa Zhuge Liang tidak memerintahkan, “kalau Wei Yan tidak taat, bunuhlah dia.” Zhuge Liang hanya menyuruh, “jangan pedulikan dia”. Zhuge Liang sangat jelas tahu bahwa Wei Yan bukan pemberontak, bukan penjahat. Ini semua hanya karena terpaksa saja. Saat itu harus cepat-cepat memundurkan pasukan ke Chengdu, melindungi diri. Jika tidak dapat melindungi diri, bagaimana bisa mewujudkan cita-cita merestorasi Han? Demi kepentingan negara, terpaksa Wei Yan “dibiarkan”.

Inilah perhitungan teliti dan susah payah dari Zhuge Liang.

Menurut prof. Yi, sebelum Zhuge Liang meninggal, yang dipikirkannya adalah mempertahankan Shu.

Namun 30 tahun setelah Zhuge Liang meninggal, Shu tetap musnah. Bahkan di antara Wei, Shu dan Wu, negara Shu lah yang lebih dulu musnah. Mengapa? Kita nantikan episode selanjutnya.

[gambar dari http://dzrb.dzng.com/articleContent/2576_649393.html]

Leave a Reply

Your email address will not be published.