Sastra Kuno Tiongkok – Kata Pengantar

Kebudayaan kuno Tiongkok yang begitu cemerlang dan terpelihara hingga saat ini, masih bisa dinikmati oleh kita semua. Yang paling lengkap di antaranya adalah sastra kuno Tiongkok. Musik, lukisan kuno Tiongkok juga sangat maju, namun catatan musik kuno kebanyakan sudah hilang, peninggalan lukisan yang paling banyak ditemui kebanyakan juga lukisan di masa setelah dinasti Song. Hanyalah sastra, lagu-lagu pendek dan legenda yang diciptakan masyarakat, hari ini masih kita kenal dengan akrab.

Shi Jing(Kitab Syair), yang berisikan langit dan bumi dinasti Zhou, masih bagaikan kampung halaman kita sendiri. Kita melantunkan Shi Jing, membaca karya para filsuf, di antaranya terdapat surga, manusia, kehidupan yang menembusi 3000 tahun, dilebur ke dalam identitas kultural orang Tionghoa.

Dinasti di Tiongkok yang memiliki catatan sejarah yang cukup akurat adalah dimulai dari dinasti Zhou. Dinasti Zhou juga merupakan cikal bakal pemerintahan yang belakangan dibayangkan oleh para filsuf sebagai pemerintahan yang lembut, dipenuhi dengan puisi, musik, tata krama serta sopan santun. Model pemerintahan ideal di masa kuno bukanlah pemerintahan dengan kekuasaan, melainkan perubahan melalui pendidikan. Orang yang menjalankan pendidikan terhadap rakyat jelata adalah “Shi”. “Shi” adalah bangsawan kelas bawah. Sistem dinasti Zhou adalah: di bawah kaisar adalah bangsawan, bangsawan kelas atas adalah Dafu, bangsawan kelas bawah adalah Shi, ada Shi atas, Shi tengah dan Shi bawah. Shi bawah berbaur dengan rakyat jelata. Sastra paling awal di Tiongkok adalah sastra oleh Shi ini. Shi memperbaiki kumpulan lagu-lagu rakyat jelata, untuk kemudian dipersembahkan kepada kaisar, agar kaisar mengetahui kebiasaan serta perasaan rakyat. Ini akhirnya menjadi bagian “Guo Feng”(Angin Negara) di dalam kumpulan syair “Shi Jing”. Sedangkan syair yang berhubungan dengan ritual penyembahan dimasukkan ke dalam bagian “Song” di dalam “Shi Jing”. Catatan sejarah dimasukkan ke dalam bagian “Ya”. Sastra Tiongkok bersumber pada kepraktisan, berhubungan dengan kehidupan manusia sehari-hari, berhubungan dengan pendidikan pemerintahan, sangat erat kaitannya dengan kehidupan spiritual masyarakat. Shi Jing diakui sebagai dasar yang menyemangati sastra Tiongkok.

Orang Tiongkok menekankan “Surga dan Manusia adalah Satu”(Tian ren he yi). Mereka percaya bahwa dasar hubungan antar manusia sehari-hari berkaitan dengan surga. Hal yang dibayangkan, diperhatikan oleh para jenius di dalam bidang sastra adalah alam semesta seluruhnya, sejarah, dan kesedihan rakyat jelata. Oleh sebab itulah, Qu Yuan berkali-kali disalah mengerti, namun tetap tidak mau meninggalkan negaranya, “ai min sheng zhi duo jian”(berkabung karena penderitaan rakyat begitu besarnya), tak habis-habisnya “bertanya kepada surga”. Perkataan dan tulisan yang ditinggalkan para filsuf di masa Chunqiu dan Zhanguo–filsuf yang benar-benar mengemban visi untuk menolong rakyat–, adalah jejak pikiran dan perasaan mereka. Konfusius, Mensius, Lao Zi, Zhuang Zi mengunjungi para bangsawan, dengan semangat dan otoritas di atas para bangsawan yang hendak mereka nasehati, adalah karena mereka mengejar “wei tiandi li xin”(demi masyarakat bisa saling mengasihi dan menghormati), “wei wan min qing ming”(demi rakyat), barulah para filsuf itu menghasilkan tulisan yang memiliki perasaan dan logika. Sampai pada masa dinasti Han, Sima Qian dengan tulisan sejarahnya yang terkenal, “Shi Ji“, “jiu tian ren zhi ji”(mempelajari hubungan surga dan manusia), “cheng yi jia zhi yan”(menjadikannya sebagai sebuah pemikiran), melanjutkan penjelajahan alam semesta dan penentuan jalan hati manusia oleh para filsuf tadi. Li Bai, Su Shi di dinasti Tang dan Song juga mencetuskan, “tian sheng wo cai bi you yong”(surga melahirkan saya, maka saya harus ada gunanya), menari dan berdialog bersama matahari, bulan, gunung dan lembah. Artinya juga adalah perasaan “tanxi chang nei re”(memikirkan penderitaan masyarakat sampai diri bagaikan terbakar api). Ini semua adalah atmosfer besar di dalam sastra Tiongkok.

Sejak dinasti Yuan, kesadaran masyarakat untuk negaranya mengalami kemunduran. Sastra Tiongkok juga mengalami perubahan pola. Sebelumnya, orang-orang terpelajar meski memperhatikan rakyat dan hidup demi rakyat, namun perkataan mereka ditujukan kepada para atasan. Sejak dinasti Yuan, mereka timbul tenggelam di dalam tempat pementasan teater, menulis naskah teater untuk rakyat jelata, menulis novel populer, mencurahkan tenaga mereka demi dunia hiburan. Sehingga mau tidak mau harus mempertimbangkan selera dan daya tangkap rakyat jelata. Di masa ini, “semangat komedi” di dalam sastra Tiongkok mulai nampak jelas, contohnya Guan Hanqing. Pengaruh langsung sastra terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat, juga timbul lewat novel panjang populer. Sampai saat ini, pengertian orang Tiongkok terhadap “zhong”(kesetiaan), “yi”(kebenaran dan keadilan), terutama masih berasal dari “San guo yan yi“(Roman Tiga Negara) serta “Shui hu zhuan“(Tepi Air). Pertengahan abad 18, muncullah sebuah novel yang dalam istilah Barat adalah independen, “Hong lou meng“(Impian Paviliun Merah). Ia menuliskan pandangan sejarah dan nasib wanita di dalam keluarga, serta “hidup manusia bagaikan mimpi”, menjadi perhatian orang di masa itu dan masa kini, merupakan novel panjang yang paling besar di Tiongkok. Setelah itu, tidak ada karya besar. Hingga awal abad 20, Tiongkok mengalami gerakan “Wu si“(Gerakan Empat Mei), Lu Xun dengan novel-novelnya serta artikel lain, menggambarkan kehidupan orang Tionghoa saat it, membentuk imajinasi diri orang Tiongkok sepuluh tahun kemudian.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture and Education Online)

http://en.wikipedia.org/wiki/Water_margin

Leave a Reply

Your email address will not be published.